1.
Teori Adam Smith Terkait dengan Pembangunan Pertanian !
Adam Smith sangat terkenal sebagai pelopor dalam perkembangan
ilmu ekonomi, maka tidaklah heran kalau dia mendapat julukan sebagai bapak ilmu
ekonomi, hal ini sangat beralasan sebab Adam Smith lah orang pertama sebagai
pelopor dari perkembangannya ilmu ekonomi dan juga pelopor dalam pentingnya
kebijaksanaan Laissez Faire serta ahli ekonomi pertama yang banyak menumpahkan
perhatiannya pada masalah pembangunan ekonomi.
Adam Smith menerbitkan buku yang menjadi acuan bagi para
ekonomi dengan judul AN INQUIRY INTO THE NATURE AND CAUSES OF THE WEALTH
OF NATION, atau seringkali juga disebut dengan The Wealth of Nation saja.
Dalam buku ini terutama menganalisa mengenai sebab akibat dari berkembangnya
suatu negara.
Menurut Adam Smith kebijaksanaan Laissez Faire atau sistem
mekanisme pasar akan memaksimalkan tingkat pembangunan ekonomi yang dapat
dicapai oleh suatu masyarakat. Kebijaksanaan Laissez Faire adalah suatu
kebijaksanaan yang sifatnya memberikan kebebasan yang maksimal kepada para
pelaku dalam perekonomian untuk melakukan kegiatan yang disukainya dan
meminimalkan campur tangan Pemerintah dalam perekonomian. Sistem ekonomi yang
demikian dinamakan juga sistem mekanisme pasar atau sistem pasar bebas.
Ada
beberapa hal berkaitan dengan pandangan Adam Smith, yaitu :
a)
Hukum
Alam
Adam Smith meyakini berlakunya doktrin “hukum alam” dalam
persoalan ekonomi. Ia menganggap setiap orang sebagai hakim yang paling tahu
akan kepentingannya sendiri yang sebaiknya dibiarkan dengan bebas mengejar
kepentingannya itu demi keuntungannya sendiri. Menurutnya, setiap orang jika
dibiarkan bebas akan berusaha memaksimalkan keuntungan dirinya sendiri, karena
itu jika semua orang dibiarkan bebas akan memaksimalkan kesejahteraan mereka
secara agregat. Smith pada dasarnya menentang setiap campur tangan Pemerintah
dalam industri maupun perdagangan. Ia penganut paham bebas dan penganjur
kebijaksanaan “ pasar bebas ”dalam aktivitas kegiatan ekonomi.
Dengan kebijaksanaan pasar bebas, yaitu terwujudnya pasar persaingan sempurna
yang merupakan mekanisme menuju keseimbangan secara otomatis, cenderung untuk
memaksimalkan kesejahteraan nasional.
b)
Pembagian
kerja
Pembagian kerja adalah titik permulaan dari teori pertumbuhan
ekonomi. Menurut Adam Smith, dengan adanya pembagian kerja, maka akan
meningkatkan produktivitas tenaga kerja, yang pada gilirannya akan :
·
meningkatkan ketrampilan pekerja
·
penghematan waktu dalam memproduksi barang
·
penemuan-penemuan yang sangat menghemat tenaga
kerja.
Namun demikian, pembagian kerja tergantung luas pasar.
c)
Proses
akumulasi modal
Smith menekankan bahwa proses akumulasi modal harus dilakukan
lebih dahulu daripada pembagian kerja. Akumulasi modal merupakan syarat utama
terjadinnya proses pembangunan ekonomi, dengan demikian permasalahan
pembangunan ekonomi secara luas adalah kemampuan manusia untuk lebih banyak
menabung dan menanam modal.
d)
Investasi
Menurut Smith, investasi dilakukan Karena pemilik
modal mengnharapkan untung, dan harapan masa depan keuntungan tergantung pada
iklim investasi pada hari ini dan pada keuntungan nyata. Keuntungan cenderung
menurun dengan adanya kemajuan ekonomi. Kondisi ini dapat digambarkan, bahwa
pada waktu laju pemumpukan modal meningkat maka persaingan antar pemilik modal
juga akan menin+gkat dengan sendirinya tingkat upah juga akan meningkat dan
pada gilirannya akan menurunkan keuntungan pemilik modal.
Modal diperoleh dari tuan tanah atau bangsawan.
Mereka ini yang mampu untuk melakukan investasi. Sebaliknya, para pengusaha
atau kaum kapitalis yang mengembangkan modal dari tuan tanah atau bangsawan.
Pada umunya modal ini digunakan untuk perdagangan.
Apabila stok para pedagang kaya beralih ke bidang
perdagangan yang sama, maka persaingan antar mereka secara alamiah cenderung
menurunkan keuntungan dan bila peningkatan yang sama terjadi pada stok di
seluruh bidang perdagangan yang dilakukan dalam masyarakat yang sama, persaingan
yang sama seperti itu pasti akan menghasilkan pengaruh yang sama. Jadi dengan
adanya pertumbuhan stok modal di dalam perekonomian, akan terjadi persaingan
antar pengusaha dalam mendapatkan tenaga kerja. Untuk mendapatkan tenaga kerja
yang layak pengusaha cenderung menawarkan tingkat upah yang tinggi dan karena
itu menurunkan tingkat keuntungan.
e)
Tingkat
suku bunga
Apabila modal dalam perekonomian sudah berkembang, maka akan
terjadi peningkatan kemakmuran yang pada gilirannya akan meningkatkan jumlah
penduduk. Sebaliknya dalam kondisi seperti ini tingkat suku bunga akan menurun
dan akibatnya persediaan akan modal menjadi meningkat.
Dengan tingkat suku bunga yang rendah para tuan tanah atau
pengusaha terpaksa meminjamkan uangnnya dalam jumlah yang lebih besar untuk
mendapatkan lebih banyak bunga dengan maksud mempertahankan standar hidupnya.
Jadi dengan menurunnya tingkat suku bunga, jumlah modal yang dipinjamkan akan
meningkat. Tetapi bila suku bunga turun terlalu rendah para tuan tanah atau
bangsawan tidak sanggup untuk meminjamkan uang lebih banyak lagi. Dalam kondisi
ini mereka akan memilih invesatasi menjadi pengusaha. Jadi sekalipun suku bunga
menurun, pada akhirnya terjadi pemumpukan modal dan kemajuan ekonomi.
f)
Pertumbuhan
ekonomi
Proses pertumbuhan bersifat kumulatif.
Apabila timbul kemakmuran sebagai akibat kemajuan di bidang pertanian, industri
manufaktur, dan perniagaan kemakmuran itu akan menarik ke pemupukan modal,
kamajuan teknis, meingkatkan penduduk, perluasan pasar, pembagain kerja dan
kenaikan keuntungan secara terus menerus. Situasi yang progresif ini akan
menyenangkan masyarakat. Dalam keadaan maju ini, sementara masyarakat meraih
hasil-hasil yang lebih baik, keadaan buruh miskin yang merupakan bagian
terbesar dari masyarakat,
agaknya menjadi kelompok paling bahagia dan nyaman.
Adam Smith
(Optimis Dalam Jangka Panjang)
Faktor-faktor yang menentukan
pembangunan ekonomi adalah :
1) 
Perkembangan Penduduk mendorong adanya
pembangunan ekonomi
Maka
perkembangan ekonomi tinggi. jika ini sudah terjadi maka ini akan berlangsung
secara kumulatif.
2) Bila
Pasar Berkembang, maka produktivitas dan spesialisasi meningkat, pendapatan nasional
meningkat penduduk juga meningkat.
3) Pasar
berkembang lebih luas lagi, tabungan masyarakat dan tingkat keuntungan
pengusaha meningkat.
4) Pengusaha
dapat meningkatkan teknologi dan inovasi Teknologi/ Inovasi berkembang.
Akhirnya perkembangan ekonomi akan
terjadi terus menerus dan pendapatan nasional akan bertambah terus dengan
demikian pendapatan perkapita masyarakat juga mengalami kenaikan terus.
2.
Teori David Ricardo Mengenai Pembangunan Pertanian !
DAVID RICARDO
![]() |
David Ricardo terkenal dengan teori Ricardian menulis dalam
bukunya The priciples of political economy and taxation pada tahun 1912 – 1823.
David Ricardo dalam analisanya mengenai proses terjadinya pertumbuhan ekonomi
menjelaskan sebagai berikut :
Pada awalnya jumlah penduduk sangat rendah dan kekayaan alam
masih melimpah. Pada keadaan seperti ini para pengusaha dalam menjalankan
usahanya dengan menggunakan kekayaan alam sebagai faktor produksi,
mengakibatkan para pengusaha dapat memperoleh keuntungan yang tinggi. Dengan
tingkat keuntungan yang tinggi itu dapat mempertinggi tingkat modal yang
dimiliki yang selanjutnya dapat mempertinggi tingkat produktivitas tenaga
kerja. Dalam perkembangan selanjutnya dengan adanya kenaikan tingkat
produktivitas ini para pekerja mulai menuntut tingkat upah yang tinggi.
Pada tingkat upah yang tinggi mengakibatkan penduduk
bertambah sedang luas lahan tetap dengan demikian mutu tanah juga mulai
menurun, sewa tanah semakin tinggi mengakibatkan pendapatan menurun yang selanjutnya
mengakibatkan tingkat keuntungan para pengusaha menjadi berkurang. Dengan
demikian modal juga menjadi berkurang, permintaan tenaga kerja berkurang, upah
turun. Begitu terus sampai tingkat upah mencapai minim. Dalam keadaan seperti
ini dikatakan dalam kondisi stationary state atau perekonomian dalam keadaan
statis (pertumbuhan berhenti).
Ricardo membagi masyarakat dalam tiga
golongan, yaitu :
1. Masyarakat
pekerja atau buruh
2. Masyarakat
pengusaha atau kapitalis
3. Tuan
tanah atau bangsawan
Asumsi yang digunakan Ricardo adalah :
1. Seluruh
tanah digunakan untuk produksi gandum dan angkatan kerja dalan pertanian
membantu menentukan distribusi industri.
2. Berlakunya
hukum “ law of diminishing return” bagi tanah
3. Persediaan
tanah adalah tetap
4. Permintaan
gandum benar-benar inelastik
5. Buruh
dan modal adalah masukan yang bersifat variabel
6. Keadaan
pengetahuan teknis adalah tertentu
7. Seluruh
buruh dibayar dengan upah yang cukup untuk hidup secara minimal
8. Harga
penawaran buruh adalah tertentu
9. Permintaan
akan buruh tergantung pada pemupukan modal
10. Terdapat
persaingan sempurna
11. Pemupukan
modal dihasilkan dari keuntungan
Pertumbuhan ekonomi terjadi akibat adanya produksi yang
dihasilkan oleh masyarakat berupa adanya pemupukan modal. Pembagian pendapatan
ini berdasarkan pada pendapatan tuan tanah berupa sewa, pengusaha atau
kapitalis berupa keuntungan dan buruh berupa upah.
1. Proses
pemupukan modal
Pemupukan modal merupakan keuntungan sebab keuntungan merupakan kekayaan
yang disishkan untuk pembentukan modal. Pemupukan modal tergantung pada :
kemampuan menabung dan kemauan menabung. Kemampuan untuk menabung adalah lebih
penting, sebab dari sinilah akan terjadi pemupukan modal. Namun, kemampuan ini
juga tidak akan berarti bila kemauan untuk menabung rendah.
2. Keadaan
stationer
Menurut Ricardo ada kecenderungan alamiah bahwa tingkat keuntungan akan
menurun dalam perekonomian, sehingga negara akhirnya mencapai keadaan
stationer. Apabila pemupukan modal meningkat sebagai akibat meningkatnya
keuntungan, maka jumlah keseluruhan produksi meningkat sehingga dana upah
meningkat. Dengan meningkatnya dana upah, penduduk akan meningkat yang pada
gilirannya akan menaikkan permintaan gandum dan harganya. Dengan jumlah penduduk meningkat. sedang tanah
tetap, maka kualitas tanah yang kurang baik terpaksa diolah untuk memenuhi
permintaan gandum yang meningkat. Akibat dari penggunaan tanah yang semakin
luas, sewa tanah akan naik. Hal ini akan mengurangi bagian dari pemilik modal
dan buruh. Akibatnya keuntungan menurun begitu juga upah cenderung jatuh ke
tingkat yang cukup untuk hidup secara minimal. Sebaliknya pendapatan tuan tanah
dari sewa akan mengalami peningkatan. Proses naiknya sewa dan menurunnya
keuntungan ini berlanjut terus sampai out put dari tambahan tanah menyamai upah
minimal dari buruh yang dipekerjakan. Akhirnya keuntungan adalah sama dengan
nol.
Ciri-ciri keadaan stationary
state ditandai dengan :
1. Tingkat
upah pekerja sebesar upah subsitence, akibatnya jumlah penduduk tidak bertambah
2. Para
pengusaha tidak memperoleh keuntungan sama sekali, pemupukan modal berhenti.
3. Tuan
tanah dengan tingkat pendapatan yang sangat tinggi.
4. Kemajuan
teknis berhenti.
Untuk mengatasi keadaan stationary state dapat diatasi dengan
adanya perkembangan / kemajuan dibidang teknologi dan tuan tanah mau
menggunakan pendapatan yang diterimanya untuk pembentukan modal. Kenaikan
produktivitas yang tinggi disertai dengan adanya kemajuan di bidang teknologi
mengakibatkan tingkat pendapatan pengusaha tinggi, tingkat upah juga tinggi
dengan tingkat pendapatan yang tinggi ini maka dapat untuk usaha yang lebih
besar lagi maka proses pertumbuhan ekonomi dapat berjalan terus. Namun demikian
proses ini tidak dapat berlangsung terus karena penduduk terus bertambah yang
mengakibatkan tingkat upah menjadi menurun, pendapatan pengusaha juga menurun.
Dengan demikian kemajuan di bidang teknologi hanya bersifat memperlambat proses
terjadinya stationary state saja.
Tuan tanah dalam keadaan stationary state ini diharapkan
dapat lebih berperan, yaitu dengan kesediaannya menggunakan pendapatannya dari
sewa tanah untuk digunakan sebagai modal dalam usaha. Tetapi menurut Ricardo
hal itu tidaklah mudah karena tuan tanah sangat pemboros sekali dan bersifat
konsumtif artinya mereka lebih suka menggunakan uangnya untuk dibelanjakan
barang-barang mewah daripada untuk usaha atau digunakan untuk hal-hal yang
bersifat produktif.
Apabila stok para pedagang kaya berailh ke bidang perdagangan
yang sama, maka persaingan antar mereka secara alamiah cenderung menurunkan
keuntungan dan bila peningkatan yang sama terjadi pada stok di seluruh bidang
perdagangan yang dilakukan dalam masyarakat yang sama, persaingan yang sama
seperti itu pasti akan menghasilkan pengaruh yang sama. Jadi dengan adanya
pertumbuhan stok modal di dalam perekonomian, akan terjadi persaingan antar
wiraswastawan sehingga pengusaha dalam mendapatkan tenaga kerja yang layak
cenderung menawarkan tingkat upah yang tinggi dan karena itu menurunkan tingkat
keuntungan.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan, bahwa teori
pembangunan ekonomi dari kaum klasik pada intinya adalah sebagai berikut :
1. Bahwa
tingkat perkembangan/ pembangunan ekonomi dalam masyarakat tergantung pada 4
faktor yaitu :
a. Jumlah penduduk
b. Jumlah stok alat-alat modal
c. Luas tanah
d. Tingkat teknologi
2. Pendapatan
nasional suatu masyarakat dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :
a. Upah para pekerja
b. Keuntungan pengusaha
c.
Sewa tanah bagi pemilik tanah
3. Kenaikan
upah mengakibatkan jumlah penduduk meningkat.Tingkat keuntungan merupakan
faktor penentu pembentukan modal, keuntungan tidak berubah (tetap atau menurun)
maka perekonomian dalam keadaan stationary state.
4. Hukum hasil lebih yang semakin berkurang
berlaku untuk segala kegiatan ekonomi.
Kedua ahli ekonomi klasik ini berbeda sekali padangannya
dengan Adam Smith yang optimis. Ricardo dan Malthus justru pesimis. Dalam
jangka panjang menurutnya perekonomian justru akan mengalami apa yang dinamakan
stationary state, yaitu suatu keadaan dimana perkembangan ekonomi tidak terjadi
sama sekali. Adapun berbedaan pandangan antara Adam Smith dan kedua ahli
tersebut disebabkan adanya pandangan yang berbeda mengenai peranan penduduk
dalam pembangunan ekonomi.
Menurut Ricardo dan Malthus, perkembangan penduduk yang
berjalan dengan cepat akan memperbedar jumlah penduduk hingga dua kali lipat
dalam waktu satu generasi, yang nantinya hal tersebut akan menurunkan kembali
tingkat pembangunan ke taraf yang lebih rendah. Pada tingkat ini pekerja akan
menerima upah yang hanya cukup untuk hidup (subsistance level). Apabila yang dibicarakan mengenai teori
pertumbuhan dari klasik, maka yang dimaksud adalah teori pertumbuhan dari
Ricardo yang sangat dipengaruhi teori perkembangan penduduk dari Malthus dan
teori hasil lebih yang semakin berkurang.
3.
Beberapa Teori Lain Yang Juga Berkaitan Dengan
Pembangunan Pertanian !
v
JOHN STUART MILL
![]() |
Pada intinya teori pembangunan ekonomi dari John Stuart Mill
ini sependapat dengan Adam Smith, bahwa spesialisasi atau pembagian kerja akan
mempertinggi keahlian pekerja, memperbaiki organisasi produksi dan mendorong
dilakukannya inovasi sehingga akan mempertinggi tingkat produktivitas dan
mempelancar pembangunan ekonomi. Suatu spesialisasi luas ini dibatasi oleh luas
pasar.
Mengenai pandangan penduduk sama dengan Ricardo yaitu
penduduk akan semakin meningkat terus, luas tanah tetap sehingga berlaku hukum hasil
lebih yang semakin berkurang yang selanjutnya mengakibatkan keadaan statinary
state. Sumbangan yang penting dari Mill dalam pembangunan ekonomi ini adalah
mengenai faktor-faktor non ekonomi yang tidak sedikit peranannya dalam
pembangunan ekonomi. Faktor-faktor non ekonomi tersebut antara lain :
·
Kepercayaan masyarakat
·
Kebiasan-kebiasaan berpikir masyarakat
·
Adat istiadat
·
Corak institusi-institusi dalam masyarakat
Mill berpendapat bahwa faktor-faktor tersebut merupakan
faktor-faktor yang penting yang menyebabkan ketiadaan pembangunan ekonomi di
Asia. Di samping itu tingkat pengetahuan masyarakat akan mempengaruhi
pembangunan ekonomi, sebab tingkat pengetahuan ini akan menentukan tingkat
kemajuan industri yang dapat dicapai. Mill menganggap pembangunan ekonomi
sebagai fungsi dari tanah, tenaga kerja dan modal. Peningkatan kesejahteraan
hanya mungkin bila tanah dan modal mampu meningkatkan produksi lebih cepat
dibandingkan angkatan kerja.
1. Pengendalian
pertambahan penduduk
Mill percaya pada teori yang dikemukakan oleh Malthus, bahwa pembatasan
penduduk merupakan hal yang penting untuk memperbaiki kondisi kelas pekerja
sehingga mereka dapat menikmati hasil kemajuan teknologi dan akumulasi modal.
2. Laju
akumulasi modal
Menurut
Mill, laju akumulasi modal tergantung pada 2 hal, yaitu : Jumlah dana yang
dapat menghasilkan tabungan dan Kuatnya kecenderungan untuk menabung. Modal
adalah hasil dari tabungan dan tabungan berasal dari penghematan konsumsi saat
ini demi kepentingan konsumsi di masa yang akan dating.
Menurut Mill pembangunan ekonomi tergantung pada dua hal,
yaitu : a) Perbaikan dalam tingkat pengetahuan masyarakat, dan b) Perbaikan
untuk menghapus penghambat-penghambat dalam pembangunan ekonomi yang diciptakan
oleh manusia. Oleh karena itu Mill menekankan pada pentingnya pendidikan ini
sebab dengan pendidikan dapat mempertinggi pengetahuan tehnis masyarakat dan
mempertinggi pengetahuan umum masyarakat, pendidikan dapat juga menciptakan
pandangan-pandangan dan kebiasaan yang lebih modern.
v KARL MARX
![]() |
Karl Marx sangat terkenal dengan bukunya yang berjudul DAS
KAPITAL. Melalui ajarannya ini Marx telah mempesonakan ratusan juta umat
manusia. Maka tidaklah mengherankan kalau dia mendapat julukan sebagai “SANG
NABI” oleh pengikutnya yang fanatik. Dengan julukan tersebut maka Karl Marx
dapat disejajarkan dengan Kristus dan nabi Muhammad jika dinilai pada besarnya
jumlah pengikut pada waktu itu. Ajaran Karl Marx ini terkenal dengan sebutan
Marxis yang menurut Schumpeter Marxisme adalah agama. Menurut kaum Marxisme
kolot, tantangan bukan saja dianggap sebagai suatu kekeliruan tapi adalah juga
dosa. Dengan demikian kaum Marxisme ini merupakan penganut suatu kepercayaan.
Sumbangan Karl Marx terhadap teori pembangunan ekonomi dengan
menitik beratkan masalah kapitalis yang menurut Marx sendiri meramalkan bahwa
kapitalis akan mengalami suatu keruntuhan dalam jangka panjang dan atas dasar
ramalan ini maka komunis mendirikan bangunan besarnya. Analisa Marx merupakan
suatu pengamatan yang paling tajam mengenai proses pembangunan kapitalis.
Analisa ini memberikan pengaruh yang kuat dalam menentukan kebijakan yang
dilakukan oleh Uni Soviet (dahulu), Cina dan negara komunis lainnya. Dalam memahami analisa Marx ini perlu penelaah
melalui beberapa tahapan. Dengan demikian analisa Marx secara keseluruhan
sumbangannya terhadap ekonomi pembangunan dapat ditinjau dari tiga sudut, yaitu
:
a.
Sejarah Perkembangan Masyarakat
Karl Marx membagi ada lima tahap dalam perkembangan masyarakat bila
ditinjau dari segi sejarah. Menurut Karl Marx ke lima tahap tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut :
1. Primitive
Communal
Dalam tahap ini masyarakat dalam melakukan suatu
produksi masih menggunakan alat-alat yang sifatnya masih sangat sederhana
sekali, yaitu alat-alat yang terbuat dari batu. Alat produksi yang masih
bersifat sederhana ini bukan milik perseorangan tapi milik bersama (komunal).
Pada awalnya tidak berlebihan dalam berproduksi karena konsumsi mereka sama
dengan yang diproduksi. Akan tetapi perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa
masyarakat makin lama makin menunjukkan adanya suatu perkembangan dalam
menggunakan alat-alat produksi ini, yaitu dengan ditemukannya alat-alat
produksi yang sudah menggunakan besi.
Dengan adanya perkembangan ini jelas akan memberikan
hasil lebih dalam berproduksi, dengan demikian dalam masyarakat sudah mulai ada
suatu kelebihan produksi. Perbaikan dalam penggunaan alat-alat produksi juga
mengakibatkan adanya perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat, seperti mulai
perlu adanya suatu pembagian kerja dalam melakukan suatu produksi. Dengan
adanya pembagian kerja ini akan mengakibatkan produksi semakin meningkat
sehingga pertukaran hasil produksi sudah mulai semakin diperlukan dan semakin
luas. Akhirnya untuk menghasilkan barang-barang dibutuhkan orang lain untuk
membantu dan dengan demikian ada hubungan produksi antara orang-orang dalam
masyarakat.
2.
Perbudakan
(Slavery)
Adanya hubungan antara orang-orang yang mempunyai
alat-alat produksi dengan orang-orang yang bekerja merupakan awal terbentuknya
masyarakat perbudakan. Dengan memperkerjakan orang-orang ini merupakan suatu
keuntungan tersendiri bagi pemilik alat-alat produksi, lebih-lebih dengan
sistem pengupahan yang sangat minim ini. Pekerja hanya diberi upah ala kadarnya
saja yaitu sekerdar untuk nafkah agar tidak meninggal. Adanya pembagian kerja
akan melahirkan adanya spesialisasi dan akan meningkatkan produksi.
Spesialisasi akan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang akan mendorong
terciptanya perbaikan dalam penggunaan alat-alat produksi yang lebih baik.
Murahnya tingkat upah atau tenaga kerja pada masa itu memberikan keuntungan
yang banyak bagi pemilik alat-alat produksi dan mengakibatkan pemilik alat-alat
produksi mempunyai keinginan untuk memperbaiki alat-alat produksinya. Akan
tetapi lama ke lamaan para pekerja semakin sadar akan kedudukannya dan semakin tidak
puas dengan sitem pengupahan yang ada. Oleh karena itu mulai terjadi adanya
suatu pertentangan antara pemilik alat-alat produksi dengan pekerja (buruh).
3. Masyarakat
Feodal
Dengan adanya pertentangan antara pemilik alat-alat
produksi dan pekerja (buruh) maka berakhirlah sistem perbudakan dan lahirlah
sistem masyarakat baru, yaitu masyarakat feodal. Dalam masyarakat feodal ini
kaum bangsawan merupakan pemilik alat-alat produksi yang utama yakni tanah. Dan
sebagai petaninya adalah para bekas buruh yang dibebaskan. Pada umumnya tugas
para bekas buruh ini adalah mengerjakan tanah milik bangsawan dan setelah itu
baru dapat mengerjakan tanah milik sendiri.
Dalam perkembangannya alat-alat produksi di sektor
pertanian ini terus berkembang dan mengalami kemajuan yang pesat dalam cara
meningkatkan produksi. Dalam keadaan seperti itu dalam masyarakat terjadi
perubahan dalam kehidupan sosialnya, yaitu ditandai dengan adanya klas baru
dalam masyarakat yaitu klas bangsawan atau tuan tanah yang berkuasa dan klas
buruh. Pertentangan kepentingan bangsawan dan buruh, dimana bangsawan
menghendaki keuntungan yang sebesar-besarnya, sedangkan buruh menghendaki
tingkat upah yang wajar. Keuntungan bangsawan kemudian di investasikan lagi
berupa pendirian pabrik-pabrik baru, sehingga menimbulkan adanya
pedagang-pedagang baru akibat produksi yang meningkat.
Dengan demikian mulai diperlukan adanya perluasan
pasar untuk dapat menampung hasil produksi ini. Perkembangan ini mengakibatkan
muncul adanya kaum kapitalis yang menghendaku hapusnya sistem feodal.
Masyarakat sudah mulai tidak menyukai rintangan-rintangan yang dapat menghambat
perdagangan, mereka menghendaki adanya kebebasan-kebebasan yang mendukung
sistem perdagangan.
4. Masyarakat
Kapitalis
Ciri yang menonjol dalam kapitalis adalah adanya
suatu kebebasan ekonomi dan pemilikan alat-alat produksi secara pribadi
(individu). Klas kapitalis ini memperkerjakan kaum buruh yang dalam
perkembangan memberikan keuntungan yang tinggi ini mengakibatkan alat-alat
produksi semakin berkembang, produksi semakin meningkat dan menciptakan pasaran
dunia. Perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat. Perbedaan kepentingan
antara kapitalis dan buruh mengakibatkan timbulnya perjuangan klas dalam
masyarakat.
5. Masyarakat
Sosialis
Ciri yang menonjol dalam masyarakat sosialis adalah
alat-alat produksi didasarkan atas milik sosial. Hubungan produksi merupakan
hubungan kerjasama dan saling membantu antara buruh yang tidak dieksploitasi.
Perbedaannya dengan sistem masyarakat komunal adalah alat-alat produksi dalam
sistem sosialis berdasarkan atas hasil dari kebudayaan manusia yang telah
tinggi. Sistem ini memungkinakan masyarakat untuk maju baik dilapangan produksi
maupun dalam kehidupan kemasyarakatannya. Dalam sistem sosialis tidak ada lagi
pembagian klas-klas dalam masyarakat.
b.
Perkembangan dan Kehancuran Kapitalis
Seperti sudah dijelaskan bahwa, dalam perkembangannya
kapitalis akan mengalami kemajuan yang pesat dengan semakin majunya teknologi.
Kemajuan di bidang teknologi akan mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan
dalam kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian terjadi
pergeseran-pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat. Oleh karena itu menurut
Marx akibat adanya perkembangan akan menghilangkan fase atau struktur
masyarakat terdahulu. Dalam jangka panjang akibat adanya perkembangan terus
menerus akan mengakibatkan kapitalis mengalami kehancuran, sehingga Marx merasa
pesimis. Adapun kehancuran kapitalis menurutnya disebabkan karena perkembangan
kapitalis itu sendiri. Pendapat Marx ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Masa
Konsentrasi
Dalam masyarakat kapitalis dengan ciri yang menonjol
adalah adanya suatu persaingan bebas. Semakin lama persaingan ini semakin
tajam, dengan demikian akan mengakibatkan hanya yang kuat saja yang dapat
bersaing sedang yang lemah jelas akan tergusur. Bagi yang lemah dapat saja
melakukan suatu penggabungan untuk mengantisipasi persaingan yang semakin
ketat. Dengan demikian terjadi pemusatan-pemusatan perusahaan yang semakin lama
semakin sedikit jumlahnya.
2. Akumulasi
Pada masa ini ditandai dengan adanya
pemusatan-pemusatan perusahaan yang terakumulasi, dengan demikian perusahaan
yang besar mempunyai peluang monopoli. Sehingga mengakibatkan penumpukan
kekayaan yang semakin lama semakin meningkat. Perbedaan golongan dalam masyarakat
semakin tajam dalam arti antara golongan kaya dan miskin terjadi kesenjangan
semakin luas.
3. Kesengsaraan
Akibat adanya persaingan yang ketat mengakibatkan
golongan lemah semakin mendesak kedudukannya. Dengan demikian mereka jadi
tergeser dan semakin alternatif mereka yang tergeser ini menawarkan diri
sebagai buruh dengan demikian jumlah buruh semakin melimpah. Dengan jumlah
buruh yang semakin melimpah ini mengakibatkan upah menjadi rendah dan pengusaha
dapat menekan buruh sedemikian rupa demi keuntungan yang ingin dicapai.
Akibatnya kedudukan buruh semakin lemah dan semakin sengsara.
4. Masa
Krisis
Dengan tingkat keuntungan yang semakin meningkat
mengakibatkan produksi meningkat. Akan tetapi peningkatan produksi ini tidak
diimbangi dengan adanya peningkatan daya beli masyarakat sehingga terjadilah
keadaan over produksi. Dengan tingkat upah yang rendah jelas sekali
mengakibatkan daya beli buruh semakin kecil. Karena daya beli yang rendah ini
dan terjadinya over produksi mengakibatkan harga menjadi menurun. Harga menurun
banyak perusahaan-perusahaan yang bangkrut dan menutup usahanya. Mulailah
terjadi suatu krisis dalam perekonomian.
Demikian
proses kehancuran kapitalis menurut Karl Marx. Pada intinya kapitalis
mengakibatkan :
1. Makin
sengsaranya kaum buruh
2. Terjadinya
konsentrasi kapital
3. Turunnya
tingkat keuntungan kaum kapitalis
c.
Pembangunan Ekonomi Terencana
Marx menggunakan teori nilai lebih sebagai basis bagi
perjuangan kelas dalam kapitalisme dan atas dasar teori nilai lebih inilah
digunakan sebagai dasar membangun suprastruktur analisa pembangunan ekonomi.
Nilai lebih ini diperoleh dari tenaga kerja yang menjual tenaganya ke
kapitalis. Nilai lebih merupakan jumlah tenaga yang diperlukan untuk
menghasilkan tenaga kerja baru. Dengan demikian nilai disini adalah merupakan
sarana kehidupan yang diperlukan untuk mempertahankan hidupnya, ditentukan oleh
jumlah jam yang diperlukan untuk menghasilkan tenaga kerja. Sebagai contoh :
Bila seorang buruh bekerja selama 10 jam, sedang kebutuhan buruh untuk dapat memenuhi
kebutuhan hidupnya diperlukan waktu 6 jam, dengan demikain ada selisih sebesar
4 jam yang disebut dengan nilai lebih. Nilai lebih ini yang merupakan suatu
keuntungan bagi kaum kapitalis.
Akibat
adanya nilai lebih ini memacu kapitalis untuk melakukan akumulasi modal dengan
cara :
1. Memperpanjang
jam kerja buruh
2. Mengurangi
kebutuhan hidup buruh (tingkat upah)
3. Meningkatkan
produktivitas buruh dengan diikuti kemajuan di bidang teknologi.
Menimbun dan menyimpan sebanyak mungkin nilai lebih atau
hasil lebih menjadi modal merupakan cara yang ditempuh para kapitalis. Dengan
demikian keuntungan ditentukan oleh jumlah modal. Menurut Marx modal adalah
buruh mati yang bagaikan drakula, hanya jaya dengan menghisap buruh yang hidup
dan semakin panjang hidupnya akan semakin banyak pula buruh yang diisap.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar