Total Tayangan Halaman

Senin, 30 Desember 2013

TEORI EKONOMI PEMBANGUNAN PERTANIAN



1.     Teori Adam Smith Terkait dengan Pembangunan Pertanian !
Adam Smith sangat terkenal sebagai pelopor dalam perkembangan ilmu ekonomi, maka tidaklah heran kalau dia mendapat julukan sebagai bapak ilmu ekonomi, hal ini sangat beralasan sebab Adam Smith lah orang pertama sebagai pelopor dari perkembangannya ilmu ekonomi dan juga pelopor dalam pentingnya kebijaksanaan Laissez Faire serta ahli ekonomi pertama yang banyak menumpahkan perhatiannya pada masalah pembangunan ekonomi.
Adam Smith menerbitkan buku yang menjadi acuan bagi para ekonomi dengan judul AN INQUIRY INTO THE NATURE AND CAUSES OF THE WEALTH OF NATION, atau seringkali juga disebut dengan The Wealth of Nation saja. Dalam buku ini terutama menganalisa mengenai sebab akibat dari berkembangnya suatu negara.
Menurut Adam Smith kebijaksanaan Laissez Faire atau sistem mekanisme pasar akan memaksimalkan tingkat pembangunan ekonomi yang dapat dicapai oleh suatu masyarakat. Kebijaksanaan Laissez Faire adalah suatu kebijaksanaan yang sifatnya memberikan kebebasan yang maksimal kepada para pelaku dalam perekonomian untuk melakukan kegiatan yang disukainya dan meminimalkan campur tangan Pemerintah dalam perekonomian. Sistem ekonomi yang demikian dinamakan juga sistem mekanisme pasar atau sistem pasar bebas.
Ada beberapa hal berkaitan dengan pandangan Adam Smith, yaitu :
a)      Hukum Alam
Adam Smith meyakini berlakunya doktrin “hukum alam” dalam persoalan ekonomi. Ia menganggap setiap orang sebagai hakim yang paling tahu akan kepentingannya sendiri yang sebaiknya dibiarkan dengan bebas mengejar kepentingannya itu demi keuntungannya sendiri. Menurutnya, setiap orang jika dibiarkan bebas akan berusaha memaksimalkan keuntungan dirinya sendiri, karena itu jika semua orang dibiarkan bebas akan memaksimalkan kesejahteraan mereka secara agregat. Smith pada dasarnya menentang setiap campur tangan Pemerintah dalam industri maupun perdagangan. Ia penganut paham bebas dan penganjur kebijaksanaan “ pasar bebas ”dalam aktivitas kegiatan ekonomi. Dengan kebijaksanaan pasar bebas, yaitu terwujudnya pasar persaingan sempurna yang merupakan mekanisme menuju keseimbangan secara otomatis, cenderung untuk memaksimalkan kesejahteraan nasional.

b)     Pembagian kerja
Pembagian kerja adalah titik permulaan dari teori pertumbuhan ekonomi. Menurut Adam Smith, dengan adanya pembagian kerja, maka akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja, yang pada gilirannya akan :
·         meningkatkan ketrampilan pekerja
·         penghematan waktu dalam memproduksi barang
·         penemuan-penemuan yang sangat menghemat tenaga kerja.
Namun demikian, pembagian kerja tergantung luas pasar.

c)      Proses akumulasi modal
Smith menekankan bahwa proses akumulasi modal harus dilakukan lebih dahulu daripada pembagian kerja. Akumulasi modal merupakan syarat utama terjadinnya proses pembangunan ekonomi, dengan demikian permasalahan pembangunan ekonomi secara luas adalah kemampuan manusia untuk lebih banyak menabung dan menanam modal.

d)     Investasi
Menurut Smith, investasi dilakukan Karena pemilik modal mengnharapkan untung, dan harapan masa depan keuntungan tergantung pada iklim investasi pada hari ini dan pada keuntungan nyata. Keuntungan cenderung menurun dengan adanya kemajuan ekonomi. Kondisi ini dapat digambarkan, bahwa pada waktu laju pemumpukan modal meningkat maka persaingan antar pemilik modal juga akan menin+gkat dengan sendirinya tingkat upah juga akan meningkat dan pada gilirannya akan menurunkan keuntungan pemilik modal.
Modal diperoleh dari tuan tanah atau bangsawan. Mereka ini yang mampu untuk melakukan investasi. Sebaliknya, para pengusaha atau kaum kapitalis yang mengembangkan modal dari tuan tanah atau bangsawan. Pada umunya modal ini digunakan untuk perdagangan.
Apabila stok para pedagang kaya beralih ke bidang perdagangan yang sama, maka persaingan antar mereka secara alamiah cenderung menurunkan keuntungan dan bila peningkatan yang sama terjadi pada stok di seluruh bidang perdagangan yang dilakukan dalam masyarakat yang sama, persaingan yang sama seperti itu pasti akan menghasilkan pengaruh yang sama. Jadi dengan adanya pertumbuhan stok modal di dalam perekonomian, akan terjadi persaingan antar pengusaha dalam mendapatkan tenaga kerja. Untuk mendapatkan tenaga kerja yang layak pengusaha cenderung menawarkan tingkat upah yang tinggi dan karena itu menurunkan tingkat keuntungan.

e)      Tingkat suku bunga
Apabila modal dalam perekonomian sudah berkembang, maka akan terjadi peningkatan kemakmuran yang pada gilirannya akan meningkatkan jumlah penduduk. Sebaliknya dalam kondisi seperti ini tingkat suku bunga akan menurun dan akibatnya persediaan akan modal menjadi meningkat.
Dengan tingkat suku bunga yang rendah para tuan tanah atau pengusaha terpaksa meminjamkan uangnnya dalam jumlah yang lebih besar untuk mendapatkan lebih banyak bunga dengan maksud mempertahankan standar hidupnya. Jadi dengan menurunnya tingkat suku bunga, jumlah modal yang dipinjamkan akan meningkat. Tetapi bila suku bunga turun terlalu rendah para tuan tanah atau bangsawan tidak sanggup untuk meminjamkan uang lebih banyak lagi. Dalam kondisi ini mereka akan memilih invesatasi menjadi pengusaha. Jadi sekalipun suku bunga menurun, pada akhirnya terjadi pemumpukan modal dan kemajuan ekonomi.

f)       Pertumbuhan ekonomi
Proses pertumbuhan bersifat kumulatif. Apabila timbul kemakmuran sebagai akibat kemajuan di bidang pertanian, industri manufaktur, dan perniagaan kemakmuran itu akan menarik ke pemupukan modal, kamajuan teknis, meingkatkan penduduk, perluasan pasar, pembagain kerja dan kenaikan keuntungan secara terus menerus. Situasi yang progresif ini akan menyenangkan masyarakat. Dalam keadaan maju ini, sementara masyarakat meraih hasil-hasil yang lebih baik, keadaan buruh miskin yang merupakan bagian terbesar dari masyarakat, agaknya menjadi kelompok paling bahagia dan nyaman.

Adam Smith (Optimis Dalam Jangka Panjang)
Faktor-faktor yang menentukan pembangunan ekonomi adalah :
1)      Perkembangan Penduduk                                                mendorong adanya
pembangunan ekonomi
Memperluas Pasar                                                akan menimbulkan spesialisasi

Produktivitas Tinggi                                            Teknologi akan berkembang
Maka perkembangan ekonomi tinggi. jika ini sudah terjadi maka ini akan berlangsung secara kumulatif.
2)      Bila Pasar Berkembang, maka produktivitas dan spesialisasi meningkat, pendapatan nasional meningkat penduduk juga meningkat.
3)      Pasar berkembang lebih luas lagi, tabungan masyarakat dan tingkat keuntungan pengusaha meningkat.
4)      Pengusaha dapat meningkatkan teknologi dan inovasi Teknologi/ Inovasi berkembang.
Akhirnya perkembangan ekonomi akan terjadi terus menerus dan pendapatan nasional akan bertambah terus dengan demikian pendapatan perkapita masyarakat juga mengalami kenaikan terus.

2.     Teori David Ricardo Mengenai Pembangunan Pertanian !

DAVID RICARDO


images.jpg
 












David Ricardo terkenal dengan teori Ricardian menulis dalam bukunya The priciples of political economy and taxation pada tahun 1912 – 1823. David Ricardo dalam analisanya mengenai proses terjadinya pertumbuhan ekonomi menjelaskan sebagai berikut :
Pada awalnya jumlah penduduk sangat rendah dan kekayaan alam masih melimpah. Pada keadaan seperti ini para pengusaha dalam menjalankan usahanya dengan menggunakan kekayaan alam sebagai faktor produksi, mengakibatkan para pengusaha dapat memperoleh keuntungan yang tinggi. Dengan tingkat keuntungan yang tinggi itu dapat mempertinggi tingkat modal yang dimiliki yang selanjutnya dapat mempertinggi tingkat produktivitas tenaga kerja. Dalam perkembangan selanjutnya dengan adanya kenaikan tingkat produktivitas ini para pekerja mulai menuntut tingkat upah yang tinggi.
Pada tingkat upah yang tinggi mengakibatkan penduduk bertambah sedang luas lahan tetap dengan demikian mutu tanah juga mulai menurun, sewa tanah semakin tinggi mengakibatkan pendapatan menurun yang selanjutnya mengakibatkan tingkat keuntungan para pengusaha menjadi berkurang. Dengan demikian modal juga menjadi berkurang, permintaan tenaga kerja berkurang, upah turun. Begitu terus sampai tingkat upah mencapai minim. Dalam keadaan seperti ini dikatakan dalam kondisi stationary state atau perekonomian dalam keadaan statis (pertumbuhan berhenti).
Ricardo membagi masyarakat dalam tiga golongan, yaitu :
1.      Masyarakat pekerja atau buruh
2.      Masyarakat pengusaha atau kapitalis
3.      Tuan tanah atau bangsawan
Asumsi yang digunakan Ricardo adalah :
1.      Seluruh tanah digunakan untuk produksi gandum dan angkatan kerja dalan pertanian membantu menentukan distribusi industri.
2.      Berlakunya hukum “ law of diminishing return” bagi tanah
3.      Persediaan tanah adalah tetap
4.      Permintaan gandum benar-benar inelastik
5.      Buruh dan modal adalah masukan yang bersifat variabel
6.      Keadaan pengetahuan teknis adalah tertentu
7.      Seluruh buruh dibayar dengan upah yang cukup untuk hidup secara minimal
8.      Harga penawaran buruh adalah tertentu
9.      Permintaan akan buruh tergantung pada pemupukan modal
10.  Terdapat persaingan sempurna
11.  Pemupukan modal dihasilkan dari keuntungan

Pertumbuhan ekonomi terjadi akibat adanya produksi yang dihasilkan oleh masyarakat berupa adanya pemupukan modal. Pembagian pendapatan ini berdasarkan pada pendapatan tuan tanah berupa sewa, pengusaha atau kapitalis berupa keuntungan dan buruh berupa upah.
1.      Proses pemupukan modal
Pemupukan modal merupakan keuntungan sebab keuntungan merupakan kekayaan yang disishkan untuk pembentukan modal. Pemupukan modal tergantung pada : kemampuan menabung dan kemauan menabung. Kemampuan untuk menabung adalah lebih penting, sebab dari sinilah akan terjadi pemupukan modal. Namun, kemampuan ini juga tidak akan berarti bila kemauan untuk menabung rendah.
2.      Keadaan stationer
Menurut Ricardo ada kecenderungan alamiah bahwa tingkat keuntungan akan menurun dalam perekonomian, sehingga negara akhirnya mencapai keadaan stationer. Apabila pemupukan modal meningkat sebagai akibat meningkatnya keuntungan, maka jumlah keseluruhan produksi meningkat sehingga dana upah meningkat. Dengan meningkatnya dana upah, penduduk akan meningkat yang pada gilirannya akan menaikkan permintaan gandum dan harganya.  Dengan jumlah penduduk meningkat. sedang tanah tetap, maka kualitas tanah yang kurang baik terpaksa diolah untuk memenuhi permintaan gandum yang meningkat. Akibat dari penggunaan tanah yang semakin luas, sewa tanah akan naik. Hal ini akan mengurangi bagian dari pemilik modal dan buruh. Akibatnya keuntungan menurun begitu juga upah cenderung jatuh ke tingkat yang cukup untuk hidup secara minimal. Sebaliknya pendapatan tuan tanah dari sewa akan mengalami peningkatan. Proses naiknya sewa dan menurunnya keuntungan ini berlanjut terus sampai out put dari tambahan tanah menyamai upah minimal dari buruh yang dipekerjakan. Akhirnya keuntungan adalah sama dengan nol.

Ciri-ciri keadaan stationary state ditandai dengan :
1.      Tingkat upah pekerja sebesar upah subsitence, akibatnya jumlah penduduk tidak bertambah
2.      Para pengusaha tidak memperoleh keuntungan sama sekali, pemupukan modal berhenti.
3.      Tuan tanah dengan tingkat pendapatan yang sangat tinggi.
4.      Kemajuan teknis berhenti.

Untuk mengatasi keadaan stationary state dapat diatasi dengan adanya perkembangan / kemajuan dibidang teknologi dan tuan tanah mau menggunakan pendapatan yang diterimanya untuk pembentukan modal. Kenaikan produktivitas yang tinggi disertai dengan adanya kemajuan di bidang teknologi mengakibatkan tingkat pendapatan pengusaha tinggi, tingkat upah juga tinggi dengan tingkat pendapatan yang tinggi ini maka dapat untuk usaha yang lebih besar lagi maka proses pertumbuhan ekonomi dapat berjalan terus. Namun demikian proses ini tidak dapat berlangsung terus karena penduduk terus bertambah yang mengakibatkan tingkat upah menjadi menurun, pendapatan pengusaha juga menurun. Dengan demikian kemajuan di bidang teknologi hanya bersifat memperlambat proses terjadinya stationary state saja.
Tuan tanah dalam keadaan stationary state ini diharapkan dapat lebih berperan, yaitu dengan kesediaannya menggunakan pendapatannya dari sewa tanah untuk digunakan sebagai modal dalam usaha. Tetapi menurut Ricardo hal itu tidaklah mudah karena tuan tanah sangat pemboros sekali dan bersifat konsumtif artinya mereka lebih suka menggunakan uangnya untuk dibelanjakan barang-barang mewah daripada untuk usaha atau digunakan untuk hal-hal yang bersifat produktif.
Apabila stok para pedagang kaya berailh ke bidang perdagangan yang sama, maka persaingan antar mereka secara alamiah cenderung menurunkan keuntungan dan bila peningkatan yang sama terjadi pada stok di seluruh bidang perdagangan yang dilakukan dalam masyarakat yang sama, persaingan yang sama seperti itu pasti akan menghasilkan pengaruh yang sama. Jadi dengan adanya pertumbuhan stok modal di dalam perekonomian, akan terjadi persaingan antar wiraswastawan sehingga pengusaha dalam mendapatkan tenaga kerja yang layak cenderung menawarkan tingkat upah yang tinggi dan karena itu menurunkan tingkat keuntungan.
Dari uraian di atas maka dapat disimpulkan, bahwa teori pembangunan ekonomi dari kaum klasik pada intinya adalah sebagai berikut :
1.      Bahwa tingkat perkembangan/ pembangunan ekonomi dalam masyarakat tergantung pada 4 faktor yaitu :
a. Jumlah penduduk
b. Jumlah stok alat-alat modal
c. Luas tanah
d. Tingkat teknologi
2.      Pendapatan nasional suatu masyarakat dapat dibedakan menjadi 3, yaitu :
a. Upah para pekerja
b. Keuntungan pengusaha
c. Sewa tanah bagi pemilik tanah
3.      Kenaikan upah mengakibatkan jumlah penduduk meningkat.Tingkat keuntungan merupakan faktor penentu pembentukan modal, keuntungan tidak berubah (tetap atau menurun) maka perekonomian dalam keadaan stationary state.
4.       Hukum hasil lebih yang semakin berkurang berlaku untuk segala kegiatan ekonomi.

Kedua ahli ekonomi klasik ini berbeda sekali padangannya dengan Adam Smith yang optimis. Ricardo dan Malthus justru pesimis. Dalam jangka panjang menurutnya perekonomian justru akan mengalami apa yang dinamakan stationary state, yaitu suatu keadaan dimana perkembangan ekonomi tidak terjadi sama sekali. Adapun berbedaan pandangan antara Adam Smith dan kedua ahli tersebut disebabkan adanya pandangan yang berbeda mengenai peranan penduduk dalam pembangunan ekonomi.
Menurut Ricardo dan Malthus, perkembangan penduduk yang berjalan dengan cepat akan memperbedar jumlah penduduk hingga dua kali lipat dalam waktu satu generasi, yang nantinya hal tersebut akan menurunkan kembali tingkat pembangunan ke taraf yang lebih rendah. Pada tingkat ini pekerja akan menerima upah yang hanya cukup untuk hidup (subsistance level).  Apabila yang dibicarakan mengenai teori pertumbuhan dari klasik, maka yang dimaksud adalah teori pertumbuhan dari Ricardo yang sangat dipengaruhi teori perkembangan penduduk dari Malthus dan teori hasil lebih yang semakin berkurang.
3.     Beberapa Teori Lain Yang Juga Berkaitan Dengan Pembangunan Pertanian !
v  JOHN STUART MILL


jsmill.jpg
 








Pada intinya teori pembangunan ekonomi dari John Stuart Mill ini sependapat dengan Adam Smith, bahwa spesialisasi atau pembagian kerja akan mempertinggi keahlian pekerja, memperbaiki organisasi produksi dan mendorong dilakukannya inovasi sehingga akan mempertinggi tingkat produktivitas dan mempelancar pembangunan ekonomi. Suatu spesialisasi luas ini dibatasi oleh luas pasar.
Mengenai pandangan penduduk sama dengan Ricardo yaitu penduduk akan semakin meningkat terus, luas tanah tetap sehingga berlaku hukum hasil lebih yang semakin berkurang yang selanjutnya mengakibatkan keadaan statinary state. Sumbangan yang penting dari Mill dalam pembangunan ekonomi ini adalah mengenai faktor-faktor non ekonomi yang tidak sedikit peranannya dalam pembangunan ekonomi. Faktor-faktor non ekonomi tersebut antara lain :
·         Kepercayaan masyarakat
·         Kebiasan-kebiasaan berpikir masyarakat
·         Adat istiadat
·         Corak institusi-institusi dalam masyarakat
Mill berpendapat bahwa faktor-faktor tersebut merupakan faktor-faktor yang penting yang menyebabkan ketiadaan pembangunan ekonomi di Asia. Di samping itu tingkat pengetahuan masyarakat akan mempengaruhi pembangunan ekonomi, sebab tingkat pengetahuan ini akan menentukan tingkat kemajuan industri yang dapat dicapai. Mill menganggap pembangunan ekonomi sebagai fungsi dari tanah, tenaga kerja dan modal. Peningkatan kesejahteraan hanya mungkin bila tanah dan modal mampu meningkatkan produksi lebih cepat dibandingkan angkatan kerja.
1.      Pengendalian pertambahan penduduk
Mill percaya pada teori yang dikemukakan oleh Malthus, bahwa pembatasan penduduk merupakan hal yang penting untuk memperbaiki kondisi kelas pekerja sehingga mereka dapat menikmati hasil kemajuan teknologi dan akumulasi modal.
2.      Laju akumulasi modal
Menurut Mill, laju akumulasi modal tergantung pada 2 hal, yaitu : Jumlah dana yang dapat menghasilkan tabungan dan Kuatnya kecenderungan untuk menabung. Modal adalah hasil dari tabungan dan tabungan berasal dari penghematan konsumsi saat ini demi kepentingan konsumsi di masa yang akan dating.

Menurut Mill pembangunan ekonomi tergantung pada dua hal, yaitu : a) Perbaikan dalam tingkat pengetahuan masyarakat, dan b) Perbaikan untuk menghapus penghambat-penghambat dalam pembangunan ekonomi yang diciptakan oleh manusia. Oleh karena itu Mill menekankan pada pentingnya pendidikan ini sebab dengan pendidikan dapat mempertinggi pengetahuan tehnis masyarakat dan mempertinggi pengetahuan umum masyarakat, pendidikan dapat juga menciptakan pandangan-pandangan dan kebiasaan yang lebih modern.








v KARL MARX


170px-Marx_old.jpg
 










Karl Marx sangat terkenal dengan bukunya yang berjudul DAS KAPITAL. Melalui ajarannya ini Marx telah mempesonakan ratusan juta umat manusia. Maka tidaklah mengherankan kalau dia mendapat julukan sebagai “SANG NABI” oleh pengikutnya yang fanatik. Dengan julukan tersebut maka Karl Marx dapat disejajarkan dengan Kristus dan nabi Muhammad jika dinilai pada besarnya jumlah pengikut pada waktu itu. Ajaran Karl Marx ini terkenal dengan sebutan Marxis yang menurut Schumpeter Marxisme adalah agama. Menurut kaum Marxisme kolot, tantangan bukan saja dianggap sebagai suatu kekeliruan tapi adalah juga dosa. Dengan demikian kaum Marxisme ini merupakan penganut suatu kepercayaan.
Sumbangan Karl Marx terhadap teori pembangunan ekonomi dengan menitik beratkan masalah kapitalis yang menurut Marx sendiri meramalkan bahwa kapitalis akan mengalami suatu keruntuhan dalam jangka panjang dan atas dasar ramalan ini maka komunis mendirikan bangunan besarnya. Analisa Marx merupakan suatu pengamatan yang paling tajam mengenai proses pembangunan kapitalis. Analisa ini memberikan pengaruh yang kuat dalam menentukan kebijakan yang dilakukan oleh Uni Soviet (dahulu), Cina dan negara komunis lainnya.  Dalam memahami analisa Marx ini perlu penelaah melalui beberapa tahapan. Dengan demikian analisa Marx secara keseluruhan sumbangannya terhadap ekonomi pembangunan dapat ditinjau dari tiga sudut, yaitu :
a.      Sejarah Perkembangan Masyarakat
Karl Marx membagi ada lima tahap dalam perkembangan masyarakat bila ditinjau dari segi sejarah. Menurut Karl Marx ke lima tahap tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.      Primitive Communal
Dalam tahap ini masyarakat dalam melakukan suatu produksi masih menggunakan alat-alat yang sifatnya masih sangat sederhana sekali, yaitu alat-alat yang terbuat dari batu. Alat produksi yang masih bersifat sederhana ini bukan milik perseorangan tapi milik bersama (komunal). Pada awalnya tidak berlebihan dalam berproduksi karena konsumsi mereka sama dengan yang diproduksi. Akan tetapi perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa masyarakat makin lama makin menunjukkan adanya suatu perkembangan dalam menggunakan alat-alat produksi ini, yaitu dengan ditemukannya alat-alat produksi yang sudah menggunakan besi.
Dengan adanya perkembangan ini jelas akan memberikan hasil lebih dalam berproduksi, dengan demikian dalam masyarakat sudah mulai ada suatu kelebihan produksi. Perbaikan dalam penggunaan alat-alat produksi juga mengakibatkan adanya perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat, seperti mulai perlu adanya suatu pembagian kerja dalam melakukan suatu produksi. Dengan adanya pembagian kerja ini akan mengakibatkan produksi semakin meningkat sehingga pertukaran hasil produksi sudah mulai semakin diperlukan dan semakin luas. Akhirnya untuk menghasilkan barang-barang dibutuhkan orang lain untuk membantu dan dengan demikian ada hubungan produksi antara orang-orang dalam masyarakat.
2.      Perbudakan (Slavery)
Adanya hubungan antara orang-orang yang mempunyai alat-alat produksi dengan orang-orang yang bekerja merupakan awal terbentuknya masyarakat perbudakan. Dengan memperkerjakan orang-orang ini merupakan suatu keuntungan tersendiri bagi pemilik alat-alat produksi, lebih-lebih dengan sistem pengupahan yang sangat minim ini. Pekerja hanya diberi upah ala kadarnya saja yaitu sekerdar untuk nafkah agar tidak meninggal. Adanya pembagian kerja akan melahirkan adanya spesialisasi dan akan meningkatkan produksi. Spesialisasi akan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang akan mendorong terciptanya perbaikan dalam penggunaan alat-alat produksi yang lebih baik. Murahnya tingkat upah atau tenaga kerja pada masa itu memberikan keuntungan yang banyak bagi pemilik alat-alat produksi dan mengakibatkan pemilik alat-alat produksi mempunyai keinginan untuk memperbaiki alat-alat produksinya. Akan tetapi lama ke lamaan para pekerja semakin sadar akan kedudukannya dan semakin tidak puas dengan sitem pengupahan yang ada. Oleh karena itu mulai terjadi adanya suatu pertentangan antara pemilik alat-alat produksi dengan pekerja (buruh).
3.      Masyarakat Feodal
Dengan adanya pertentangan antara pemilik alat-alat produksi dan pekerja (buruh) maka berakhirlah sistem perbudakan dan lahirlah sistem masyarakat baru, yaitu masyarakat feodal. Dalam masyarakat feodal ini kaum bangsawan merupakan pemilik alat-alat produksi yang utama yakni tanah. Dan sebagai petaninya adalah para bekas buruh yang dibebaskan. Pada umumnya tugas para bekas buruh ini adalah mengerjakan tanah milik bangsawan dan setelah itu baru dapat mengerjakan tanah milik sendiri.
Dalam perkembangannya alat-alat produksi di sektor pertanian ini terus berkembang dan mengalami kemajuan yang pesat dalam cara meningkatkan produksi. Dalam keadaan seperti itu dalam masyarakat terjadi perubahan dalam kehidupan sosialnya, yaitu ditandai dengan adanya klas baru dalam masyarakat yaitu klas bangsawan atau tuan tanah yang berkuasa dan klas buruh. Pertentangan kepentingan bangsawan dan buruh, dimana bangsawan menghendaki keuntungan yang sebesar-besarnya, sedangkan buruh menghendaki tingkat upah yang wajar. Keuntungan bangsawan kemudian di investasikan lagi berupa pendirian pabrik-pabrik baru, sehingga menimbulkan adanya pedagang-pedagang baru akibat produksi yang meningkat.
Dengan demikian mulai diperlukan adanya perluasan pasar untuk dapat menampung hasil produksi ini. Perkembangan ini mengakibatkan muncul adanya kaum kapitalis yang menghendaku hapusnya sistem feodal. Masyarakat sudah mulai tidak menyukai rintangan-rintangan yang dapat menghambat perdagangan, mereka menghendaki adanya kebebasan-kebebasan yang mendukung sistem perdagangan.
4.      Masyarakat Kapitalis
Ciri yang menonjol dalam kapitalis adalah adanya suatu kebebasan ekonomi dan pemilikan alat-alat produksi secara pribadi (individu). Klas kapitalis ini memperkerjakan kaum buruh yang dalam perkembangan memberikan keuntungan yang tinggi ini mengakibatkan alat-alat produksi semakin berkembang, produksi semakin meningkat dan menciptakan pasaran dunia. Perubahan-perubahan sosial dalam masyarakat. Perbedaan kepentingan antara kapitalis dan buruh mengakibatkan timbulnya perjuangan klas dalam masyarakat.
5.      Masyarakat Sosialis
Ciri yang menonjol dalam masyarakat sosialis adalah alat-alat produksi didasarkan atas milik sosial. Hubungan produksi merupakan hubungan kerjasama dan saling membantu antara buruh yang tidak dieksploitasi. Perbedaannya dengan sistem masyarakat komunal adalah alat-alat produksi dalam sistem sosialis berdasarkan atas hasil dari kebudayaan manusia yang telah tinggi. Sistem ini memungkinakan masyarakat untuk maju baik dilapangan produksi maupun dalam kehidupan kemasyarakatannya. Dalam sistem sosialis tidak ada lagi pembagian klas-klas dalam masyarakat.
b.      Perkembangan dan Kehancuran Kapitalis
Seperti sudah dijelaskan bahwa, dalam perkembangannya kapitalis akan mengalami kemajuan yang pesat dengan semakin majunya teknologi. Kemajuan di bidang teknologi akan mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat. Dengan demikian terjadi pergeseran-pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat. Oleh karena itu menurut Marx akibat adanya perkembangan akan menghilangkan fase atau struktur masyarakat terdahulu. Dalam jangka panjang akibat adanya perkembangan terus menerus akan mengakibatkan kapitalis mengalami kehancuran, sehingga Marx merasa pesimis. Adapun kehancuran kapitalis menurutnya disebabkan karena perkembangan kapitalis itu sendiri. Pendapat Marx ini dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.      Masa Konsentrasi
Dalam masyarakat kapitalis dengan ciri yang menonjol adalah adanya suatu persaingan bebas. Semakin lama persaingan ini semakin tajam, dengan demikian akan mengakibatkan hanya yang kuat saja yang dapat bersaing sedang yang lemah jelas akan tergusur. Bagi yang lemah dapat saja melakukan suatu penggabungan untuk mengantisipasi persaingan yang semakin ketat. Dengan demikian terjadi pemusatan-pemusatan perusahaan yang semakin lama semakin sedikit jumlahnya.
2.      Akumulasi
Pada masa ini ditandai dengan adanya pemusatan-pemusatan perusahaan yang terakumulasi, dengan demikian perusahaan yang besar mempunyai peluang monopoli. Sehingga mengakibatkan penumpukan kekayaan yang semakin lama semakin meningkat. Perbedaan golongan dalam masyarakat semakin tajam dalam arti antara golongan kaya dan miskin terjadi kesenjangan semakin luas.

3.      Kesengsaraan
Akibat adanya persaingan yang ketat mengakibatkan golongan lemah semakin mendesak kedudukannya. Dengan demikian mereka jadi tergeser dan semakin alternatif mereka yang tergeser ini menawarkan diri sebagai buruh dengan demikian jumlah buruh semakin melimpah. Dengan jumlah buruh yang semakin melimpah ini mengakibatkan upah menjadi rendah dan pengusaha dapat menekan buruh sedemikian rupa demi keuntungan yang ingin dicapai. Akibatnya kedudukan buruh semakin lemah dan semakin sengsara.
4.      Masa Krisis
Dengan tingkat keuntungan yang semakin meningkat mengakibatkan produksi meningkat. Akan tetapi peningkatan produksi ini tidak diimbangi dengan adanya peningkatan daya beli masyarakat sehingga terjadilah keadaan over produksi. Dengan tingkat upah yang rendah jelas sekali mengakibatkan daya beli buruh semakin kecil. Karena daya beli yang rendah ini dan terjadinya over produksi mengakibatkan harga menjadi menurun. Harga menurun banyak perusahaan-perusahaan yang bangkrut dan menutup usahanya. Mulailah terjadi suatu krisis dalam perekonomian.
Demikian proses kehancuran kapitalis menurut Karl Marx. Pada intinya kapitalis mengakibatkan :
1.      Makin sengsaranya kaum buruh
2.      Terjadinya konsentrasi kapital
3.      Turunnya tingkat keuntungan kaum kapitalis
c.       Pembangunan Ekonomi Terencana
Marx menggunakan teori nilai lebih sebagai basis bagi perjuangan kelas dalam kapitalisme dan atas dasar teori nilai lebih inilah digunakan sebagai dasar membangun suprastruktur analisa pembangunan ekonomi. Nilai lebih ini diperoleh dari tenaga kerja yang menjual tenaganya ke kapitalis. Nilai lebih merupakan jumlah tenaga yang diperlukan untuk menghasilkan tenaga kerja baru. Dengan demikian nilai disini adalah merupakan sarana kehidupan yang diperlukan untuk mempertahankan hidupnya, ditentukan oleh jumlah jam yang diperlukan untuk menghasilkan tenaga kerja. Sebagai contoh : Bila seorang buruh bekerja selama 10 jam, sedang kebutuhan buruh untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya diperlukan waktu 6 jam, dengan demikain ada selisih sebesar 4 jam yang disebut dengan nilai lebih. Nilai lebih ini yang merupakan suatu keuntungan bagi kaum kapitalis.
Akibat adanya nilai lebih ini memacu kapitalis untuk melakukan akumulasi modal dengan cara :
1.      Memperpanjang jam kerja buruh
2.      Mengurangi kebutuhan hidup buruh (tingkat upah)
3.      Meningkatkan produktivitas buruh dengan diikuti kemajuan di bidang teknologi.

Menimbun dan menyimpan sebanyak mungkin nilai lebih atau hasil lebih menjadi modal merupakan cara yang ditempuh para kapitalis. Dengan demikian keuntungan ditentukan oleh jumlah modal. Menurut Marx modal adalah buruh mati yang bagaikan drakula, hanya jaya dengan menghisap buruh yang hidup dan semakin panjang hidupnya akan semakin banyak pula buruh yang diisap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar