Total Tayangan Halaman

Senin, 30 Desember 2013

TEORI EKONOMI PEMBANGUNAN PERTANIAN (part III)



1.      PENGERTIAN INCREMENTAL CAPITAL OUTPUT RATIO (ICOR) !
 Incremental Capital Output Ratio (ICOR) memiliki peranan yang penting dalam teori ekonomi. Lebih jauh, ICOR telah mendapatkan status baru di tabel pertumbuhan ekonomi dan investasi di suatu negara. Incremental Capital Ouput Ratio (ICOR) atau rasio kenaikan ouput akibat kenaikan kapital adalah indikator ekonomi makro yang sering digunakan untuk menilai kinerja investasi di suatu negara. Kegunaan lainnya adalah untuk menghitung besarnya investasi yang dibutuhkan agar perekonomian tumbuh dengan laju yang sudah ditetapkan.
Dapat diartikan juga bahwa Incremental Capital Output Ratio (ICOR) adalah suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital (investasi) baru yang dibutuhkan untuk menaikkan/menambah satu unit output. Besaran ICOR diperoleh dengan membandingkan besarnya tambahan kapital dengan tambahan output. Karena unit kapital bentuknya berbeda-beda dan beraneka ragam sementara unit output relatif tidak berbeda, maka untuk memudahkan penghitungan keduanya dinilai dalam bentuk uang (nominal).
Pengkajian mengenai ICOR menjadi sangat menarik karena ICOR dapat merefleksikan besarnya produktifitas kapital yang pada akhirnya menyangkut besarnya pertumbuhan ekonomi yang bisa dicapai. Secara teoritis hubungan ICOR dengan pertumbuhan ekonomi dikembangkan pertama kali oleh R. F. Harrod dan Evsey Domar (1939 dan 1947). Namun karena kedua teori tersebut banyak kesamaannya, maka kemudian teori tersebut lebih dikenal sebagai teori Harrod-Domar.  Pada dasarnya teori tentang ICOR dilandasi oleh dua macam konsep Rasio Modal-Output yaitu: 
·           Rasio Modal-Output atau Capital Output Ratio (COR) atau yang sering disebut sebagai Average Capital Output Ratio (ACOR), yaitu perbandingan antara capital yang digunakan dengan output yang dihasilkan pada suatu periode tertentu. COR atau ACOR ini bersifat statis karena hanya menunjukkan besaran yang menggambarkan perbandingan modal dan output.
·           Ratio Modal-Output Marginal atau Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yaitu suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital (investasi) baru yang dibutuhkan untuk menaikkan /menambah satu unit output baik secara fisik maupun secara nilai (uang). Konsep ICOR ini Iebih bersifat dinamis karena menunjukkan perubahan kenaikan/ penambahan output sebagai akibat langsung dari penambahan kapital.
Dari pengertian diatas, maka ICOR bisa diformulasikan sebagai berikut:

ICOR =  …………………………. (1)

Dimana   = perubahan kapital
                         = perubahan output
Dari rumus (1) didapatkan pengertian bahwa ICOR merupakan statistik yang menunjukkan kebutuhan perubahan stok kapital untuk menaikkan satu unit output. Dalam perkembangannya, data yang digunakan untuk menghitung ICOR bukan lagi hanya penambahan barang modal baru atau perubahan stok kapital melainkan Investasi (I) yang ditanam baik oleh swasta maupun pemerintah sehingga rumusan ICOR dimodifikasi menjadi:

ICOR =  ……………………………. (2)
Dimana     I = Investasi
 = perubahan output  
Rumus (2) dapat diartikan sebagai banyaknya kebutuhan investasi yang diperlukan untuk mendapatkan 1 unit output. Sebagai contoh, misalnya besarnya investasi pada suatu tahun dinegara A adalah sebesar Rp 200 miliar, sedangkan tambahan output yang diperoleh dari hasil penanaman investasi itu adalah sebesar Rp 40 miliar, maka nilai ICOR negara A adalah sebesar 5 (200 miliar / 40 miliar). Angka ini menunjukkan bahwa untuk menaikkan 1 unit output diperlukan investasi sebesar 5 unit.
Pada kenyataannya pertambahan output bukan hanya disebabkan oleh investasi, tetapi juga oleh faktor-faktor lain di luar investasi seperti pemakaian tenaga kerja, penerapan teknologi dan kemampuan kewiraswastaan. Dengan demikian untuk melihat peranan investasi terhadap output berdasarkan konsep ICOR, maka peranan faktor-faktor selain investasi diasumsikan konstan (ceteris paribus).
Sebagai ilustrasi, arti dari angka ICOR sebesar 3.0 adalah agar output perekonomian naik satu rupiah dibutuhkan tambahan kapital senilai 3.0 rupiah. Perhitungan angka ICOR biasanya bukan dari perubahan kapital dan output tahun per tahun, melainkan dihitung dalam selang waktu yang relatif panjang, misalnya 5 tahun. Sebab penambahan kapital pada tahun ini tidak otomatis diikuti oleh penambahan output pada tahun ini juga, melainkan baru akan muncul pada satu atau dua tahun yang akan datang. Selain itu masa yang dibutuhkan dari waktu penambahan kapital sampai dengan menghasilkan output akan berbeda-beda dari sektor yang satu dengan sektor lainnya. Sebagai contoh penambahan kapital (investasi) pada sektor bangunan akan mendatangkan output paling cepat pada 2–3 tahun yang akan datang. Di sisi lain penambahan kapital (investasi) untuk kegiatan perdagangan, dipastikan akan mendatangkan output dalam jangka waktu kurang dari satu tahun setelah investasi.
Angka ICOR bervariasi dari suatu negara ke negara lainnya, hal ini bergantung pada tingkat efisiensi ekonomi suatu negara. Semakin tinggi angka ICOR, semakin tidak efisien kegiatan produksi di negara tersebut, demikian sebaliknya. Indonesia pada beberapa waktu yang lalu pernah memiliki angka ICOR 4.5. Pada periode yang sama negara-negara maju di dunia umumnya memiliki angka ICOR tidak lebih dari 3.0. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi ekonomi dari kegiatan produksi di Indonesia jauh di bawah negara-negara maju.
Dalam prakteknya penerapan formula ICOR seperti dicantumkan di atas mengalami kesulitan, terutama dalam menaksir tingkat output. Untuk itu kemudian nilai output diganti oleh nilai Produk Domestik Bruto, sehingga konsep praktis perhitungan ICOR diformulasikan menjadi,
 ICOR =

Dimana     I           = nilai investasi (=  )
  = perubahan nilai PDB (Produk Domestik Bruto)
Kemudian mengingat ICOR harus dihitung dalam selang waktu yang relative lama, maka berikut adalah formulasi ICOR yang dihitung dari tahun m hingga n
ICORm       n =

Dimana     m         = tahun mulai perhitungan ICOR
n          = tahun akhir perhitungan ICOR
PDRB = Angka PDRB pada awal perhitungan ICOR
PDRBn= Angka PDRB pada tahun terakhir perhitungan ICOR
Berdasarkan formula di atas maka makna ICOR sedikit berubah menjadi berapa rupiah investasi yang dibutuhkan pada tahun t untuk menambah satu rupiah PDRB pada tahun t+1. Setelah diperoleh angka ICOR berdasarkan rumus di atas, kemudian dihitung kebutuhan investasi menggunakan rumus teknis sebagai berikut
I t = ICOR(PDRBt+1 - PDRBt )

Makna yang terkandung dalam formula tersebut adalah agar PDRB pada tahun t+1 bertambah menjadi sebesar PDRBt+1 dari nilai tahun t sebesar PDRBt maka pada tahun t harus dilakukan investasi sebesar It. Formula lebih sederhana yang diturunkan dari persamaan di atas adalah
It = ICOR* (LPE(t+1) /100)*PDRBt

dimana
It                          = nilai investasi yang dibutuhkan tahun t
PDRBt                 = nilai PDRB tahun t
ICOR                   = angka ICOR
LPE(t+1)              = angka Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) yang ditargetkan pada tahun t+1















2.      RUMUS ICOR DAN PENERAPANNYA !
            Secara teoritis, terdapat beberapa rumus yang dapat digunakan dalam menghitung ICOR. Masing-masing rumus digunakan untuk tujuan dan asumsi masing-masing pula. Dalam modul ini hanya dikemukakan satu rumus saja, yakni:
ICOR

Di mana:
ICOR         =       angka yang menunjukkan besarnya tambahan investasi yang diperlukan untuk     meningkatkan satu unit output pada tahun t
I                 = Besarnya tambahan investasi pada tahun t
  Y             = Besarnya tambahan output (PDB atau PDRB) pada tahun t

Dengan rumus tersebut diasumsikan bahwa investasi yang dilakuakan dalam tahun ini langsung   dapat menghasilkan PDB/PDRB pada tahun yang bersangkutan.
Contoh Penghitungan:
     Misalkan di Provinsi Kalimatan Tengah, PDRB menurut jenis pengeluaran atas dasar harga konstan 2000 tahun 2005-2006 adalah sebagai berikut:

PDRB Menurut Jenis Pengeluaran Atas Dasar Harga Konstan 2000 Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2005-2006 (Rp Milyar)
Jenis Pengeluaran
2005
2006
Konsumsi Rumah Tangga
7.097
7.430
Konsumsi Pemerintah
2.292
2.463
Pembentukan Modal Tetap Bruto (investasi)
4.850
5.487
Stok Barang Dagangan
1.099
975
Ekspor Barang & Jasa
4.561
5.069
(Impor)
(5.867)
(6.574)
PDRB
14.032
14.850
Sumber Data: Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Tengah (istilah jenis pengeluaran disesuaikan)
Berdasarkan data PDRB tersebut dapat diketahui bahwa investasi tahun 2005 sebesar Rp 4.850.000.000.000,00 dan tahun 2006 Rp 5.487.000.000.000,00. PDRB tahun 2005 sebesar Rp 14.032.000.000.000,00 dan tahun 2006 sebesar Rp 14.850.000.000.000,00. Dari data tersebut dapat dicari perubahan masing-masing jenis pengeluaran dan prosentase perubahannya sebagai berikut.

Perubahan PDRB Menurut Jenis Pengeluaran Atas Dasar Harga Konstan 2000 Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2005-2006 (Rp Milyar)
Jenis Pengeluaran
2005 (Rp)
2006 (Rp)
Perubahan 2006-2005 (Rp)
Persentase Perubahan
Konsumsi Rumah Tangga
7.097
7.430
333
4,69
Konsumsi Pemerintah
2.292
2.463
171
7,46
Pembentukan Modal Tetap Bruto (investasi)
4.850
5.487
637
13,13
Stok Barang Dagangan
1.099
975
-124
-11,28
Ekspor Barang & Jasa
4.561
5.069
508
11,14
(Impor)
(5.867)
(6.574)
-707
12,05
PDRB
14.032
14.850
818
5,83

Dari tabel di atas diketahui bahwa pada tahun 2006 terdapat penambahan investasi sebesar Rp637.000.000.000,00 dibanding tahun 2005 dan PDRB tahun 2006 naik sebesar Rp818.000.000.000,00 dibanding tahun 2005. Atas dasar data ini dapat dihitung ICOR tahun 2006 sebagai berikut:
ICOR =  = 0,778729

Angka ICOR sebesar 0,778729 menunjukkan bahwa jika ingin meningkatkan PDRB sebesar Rp1.000.000.000,00 diperlukan tambahan investasi sebesar: 0,778729 x Rp1.000.000.000,00 = Rp778.728.606,00.


3.      MANFAAT ICOR DALAM PERENCANAAN EKONOMI MAKRO !
Perencanaan pembangunan pada dasarnya akan ditentukan oleh kemampuan penyediaan sumber dana, untuk diinvestasikan guna mencapai laju pertumbuhan dan tingkat kesejahteraan yang hendak dicapai. Untuk keperluan analisis ini, konsep ICOR dapat dimanfaatkan. ICOR bermanfaat untuk memperkirakan kebutuhan dana, balik untuk perencanaan PDB atau PDRB secara menyeluruh maupun sektoral.
Misalkan, untuk kasus PDRB Provinsi Kalimantan Tengah tersebut, jika kondisi pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Tengah tahun 2006 diperkirakan terjadi juga pada tahun 2007 dan 2008, maka proyeksi PDRB (tanpa perencanaan ICOR) tahun 2007 dan 2008 tampak sebagai berikut.

Proyeksi PDRB (Tanpa Perencanaan ICOR) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2007 dan 2008 (Rp Milyar)
Jenis Pengeluaran
2005 (Rp)
2006 (Rp)
Proyeksi
2007 (Rp)
2008 (Rp)
Konsumsi Rumah Tangga
7.097
7.430
7.778*)
8.143**)
Konsumsi Pemerintah
2.292
2.463
2.647
2.844
Pembentukan Modal Tetap Bruto (investasi)
4.850
5.487
6.207
7.022
Stok Barang Dagangan
1.099
975
865
767
Ekspor Barang & Jasa
4.561
5.069
5.634
6.261
(Impor)
(5.867)
(6.574)
-7.366
-8.254
PDRB
14.032
14.850
15.765
16.684

Sumber Data: simulasi oleh penulis
Penjelasan perhitungan proyeksi tahun 2007 dan 2008 untuk jenis pengeluaran konsumsi Rumah Tangga adalah sebagai berikut:
*)   7.430 x  = 7.778
**)  7.778 x  = 8.143
Anggaplah kita sedang berada pada pertengahan tahun 2007, di mana ada PDRB tahun 2006 telah diketahui dan PDRB tahun 2007 diproyeksikan. Misalkan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah tidak puas dengan pertumbuhan PDRB tahun 2008 yang hanya 5,83 % dan meningkatkannya menjadi sebesar 10% disbanding proyeksi PDRB tahun 2007. Dengan asumsi pertumbuhan jenis pengeluaran sama dengan yang terjadi pada tahun 2006, maka penambahan PDRB tahun 2008 dapat dihitung sebagai berikut:

·           PDRB tanpa tambahan investasi (perhitungan ICOR):                    Rp 16.684
·           PDRB yang diinginkan: 110% x 16.684:                                         Rp 18.352
·           Tambahan PDRB yang diinginkan:                                                  Rp   1.668

Dengan tambahan PDRB yang diinginkan sebesar Rp1.668.000.000.000,00 dan ICOR sebesar 0,778729, maka kebutuhan tambahan investasi adalah: 0,778729 x Rp1.668.000.000.000,00 = Rp1.298.000.000.000,00. Dengan demikian jumlah invesatasi yang harus ditanamkan di tahun 2008 seluruhnya adalah: Rp7.022.000.000.000,00 + Rp1.298.000.000.000,00 = Rp8.320.000.000.000,00. Dengan efek pengganda (multiplier) dalam kegiatan ekonomi, diharapkan dlam tahun 2008 itu juga dihasilkan tambahan PDRB sebesar Rp1.668.000.000.000,00 sehingga PDRB secara keseluruhan tahun 2008 menjadi sebesar Rp18.352.000.000.000,00.
Berikut ini disajikan hasil perhitungan ICOR oleh BPS untuk beberapa bidang sebagai berikut:

ICOR Menurut Lapangan Usaha di DKI Jakarta Tahun 1996-1999

No
Lapangan Usaha
ICOR
1
Pertanian
6,57
2
Industri Pengolahan
0,48
3
Listrik, gas, air bersih
10,07
4
Bangunan
0,73
5
Perdagangan, hotel, restoran
4,29
6
Pengangkutan dan komunikasi
1,60
7
Keuangan, Persewaan, & Jasa Perusahaan
0,04
8
Jasa-jasa
2,92
9
Jasa Pemerintah
7,01
10
Jasa Pemerintahan Lainnya
1,23

Total
1,86

Sumber Daya BPS, Incremental Capital Output Ratio DKI Jakarta 1996-1999
Daftar ICOR untuk industri pengolahan nasional menurut jenis industri tahun 1980-1990 adalah sebagai berikut.

ICOR Sektor Industri Pengolahan Nasional Menurut Jenis Industri Tahun 1980-1990
No
Jenis Industri
ICOR
1
Industri Makanan
1,86
2
Industri Tekstil
4,58
3
Industri Kayu
5,22
4
Industri Kertas
5,68
5
Industri Kimia
4,62
6
Industri Galian Non Logam
6,87
7
Industri Logam Dasar
3,83
8
Industri Barang Dari Logam
3,17
9
Industri Pengolahan Lain
2,85

Total
4,18

Sumber: BPS, Incremental Capital Output Ratio Sektor Industri, 1980-1990



4.      MEMAHAMI ICOR
       Berdasarkan pengertian ICOR dapat diketahui bahwa semakin kecil angka ICOR berarti investasi yang dilakukan semakin efisien. Misalnya untuk investasi pada tahun dan kondisi yang sama, di Kabupaten Baros ICOR = 5, sedangkan di Kabupaten Bagindo ICOR = 7. Hal ini menunjukkan bahwa di Kabupaten Baros, untuk mendapatkan tambahan PDB Rp1,00 diperlukan tambahan investasi sebesar Rp5,00. Sedangkan di Kabupaten Bagindo diperlukan tambahan investasi sebesar Rp7,00. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa untuk melakukan investasi, kondisi perekonomian di Kabupaten Baros lebih kondusif dan lebih efisien dibandingkan dengan di Kabupaten Bagindo.
            Hal-hal yang mempengaruhi besar-kecilnya ICOR sebagai berikut:
a.         Bentuk Investasi
Untuk investasi yang bersifat padat karya yang kurang memerlukan banyak modal, ICOR-nya relative lebih rendah. Di lain pihak, investasi yang bersifat padat modal yang banyak memerlukan modal, ICOR-nya lebih besar.
b.         Umur Ekonomi Investasi
Untuk invesatsi yang masa manfaatnya panjang biasanya memerlukan jumlah modal yang diinvesatsikan juga besar. Dengan demikian karena masa pengembalian modalnya memerlukan waktu yang panjang, maka ICOR akan semakin besar. Sebaliknya untuk investasi yang masa manfaatnya pendek ICOR-nya akan kecil pula.
c.         Pemanfaatan Kapasitas Produksi
Untuk investasi yang pemanfaatan kapasitas produksinya rendah, berarti terdapat kapasitas yang menganggur, maka dengan jumlah investasi yang besar hanya diperoleh output yang kecil. Hal ini berdampak pada ICOR yang besar. Sedangkan untuk investasi yang beroperasi secara penuh yang berarti tidak ada barang modal yang menganggur. ICOR-nya lebih rendah.
d.        Ekonomi Biaya Tinggi
Bentuk ekonomi biaya tinggi ini antara lain adalah: budaya kerja yang boros. Prosedur kerja yang berbelit-belit, pungutan liar yang membebani perusahaan, kerusakan sarana transportasi, dan sebagainya. oleh karena itu, untuk mendorong efisiensi investasi, diperlukan tekad yang kuat bagi pemerintah untuk menghilangkan atau meminimalkan ekonomi biaya tinggi tersebut. Pungutan liarr akan menjadikan investasi semakin mahal sehingga untuk menghasilakn tambahan output (PDB) Rp1,00 investor harus mengeluarkan uang lebih banyak. Untuk dapat menarik minat investor ke suatu daerah, maka pemerintah daerah ahrus bersaing dengan daerah lain dengan memberikan pelayanan yang lebih baik. Pelayanan tersebut antara lan dengan mudah mempermudah proses perizinan, menghilangkan pungutan-pungutan, menjaga stabilitas keamanan, adanya kepastian hokum, dan lain sebagainya.



DAFTAR PUSTAKA
BPS Provinsi DKI Jakarta, Incremental Capital Output Ratio DKI Jakarta 1996-1999, Katalog BPS: 1119.31.
Sofa, Ekonomi Pembangunan dan Pembangunan Ekonomi, http://massofa.wordpress.com
/2012/03/27/ekonomi-pembangunan-dan-pembangunan-ekonomi/
Sukirno, Sadono, Pengantar Teori Makroekonomi (Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI, 1981)

1 komentar: