Bagaimana
faktor2 berikut mempengaruhi bentuk dan ukuran pola muka air tanah (cone of
depression) :
· Kecepatan
pemompaan air (debit pompa)
Air tanah dapat dipompa menggunakan sistem dengan
beberapa titik sumur yang dihubungkan dengan satu pompa di bagian permukaan
tanah, dibandingkan dengan menggunakan pompa untuk tiap sumur. Pengaturan debit
dilakukan dengan menggunakan katup di tiap ujung atas masing-masing sumur.
Pengaturan ini disebut tuning. Jarak tiap sumur biasanya 3-10 feet,
dengan kedalaman 15-28 feet. Debit pemompaan biasanya 0,1-25 gpm/sumur. Sistem
ini biasanya dipakai dalam pekerjaan konstruksi, dan jarang digunakan untuk pekerjaan
remediasi jangka waktu lama. Hal ini disebabkan oleh kedalamannya yang dangkal
dan debit pemompaan yang rendah.
· Lamanya
pemompaan
Penyedotan
air tanah berlebihan atau penyedotan air yang banyak dalam waktu yang lama
dengan pompa juga menjadi salah satu penyebab turunnya permukaan tanah. Antara
17,5-18 persen penurunan tanah disebabkan oleh adanya sumur bor, sisanya
(sekitar 82 persen) disebabkan oleh kondisi alam, beban bangunan, serta
kendaraan. Disebutkan, pengambilan air tanah dengan pompa berkapasitas lebih
dari 100 meter kubik (m3) sangat dikhawatirkan mempercepat laju penurunan
tanah.
·
Karakteritik akuifer
Desain sumuran ekstraksi tergantung pada sifat
aquifer, tujuan sistem dan ukuran volume. Sifat aquifer menentukan berapa
banyak air yang harus dipompa dari tiap sumuran. Penempatan sumuran dan jumlah
total air yang dipompa tergantung dari sistem dan ukuran plume. Sumuran
dapat dibangun secara vertikal ataupun horisontal dengan komponen utama berupa casing,
saringan, filter pack, pelindung serta pompa. Air tanah mengalir melalui
saringan berupa pipa PVC atau pipa stainless steel. Hal yang diperhatikan
adalah bahwa total luas lubang harus cukup besar agar kecepatan airnya cukup
besar untuk mengatasi headlossnya. Panjang saringan tergantung pada tipe,
stratafikasi, ketebalan aquifer dan penampang yang tersedia.
Ukuran casingnya disesuaikan dengan pompa yang akan
dipakai, umumnya berdiameter lebih besar atau sama dengan 4 inchi. Filter pack
umumnya berupa pasir kasar atau medium gravel halus yang mengelilingi saringan
dan casing. Pompa yang digunakan untuk mengekstraksi air tanah adalah pompa
pneumatik dan pompa submersible, yang ukurannya ditentukan sesuai dengan
energi tekanan yang diperlukan.
Potensi air tanah di daerah sedimen
terlipat umumnya kecil hal ini mengingat batuan penyusunnya berupa serpih,
napal, atau lempung yang bersifat kedap air. Batu pasir jika ada umumnya berupa
sisipan dan sangat kompak karena berumur tua dan telah mengalami proses
tektonik kuat sehingga sedikit kemungkinannya laipasan batu pasir tua dapat
bertindak sebagai akuifer yang baik. Potensi air tanah pada daerah gunung
api dijumpai akuifer-akuifer dengan sistem rekahan yang banyak dijumpai pada
lava. Rekahan tersebut terbentuk oleh kekar-kekar yang terjadi akibat proses
pada pembekuan ataupun akibat tektonik/vulkanik. Terbentuknya mata air rekahan
(fracture artesian spring) adalah mata air yang dihasilkan oleh akuifer
tertekan yang terpotong oleh struktur impermeable.
· Kemiringan
muka air tanah
Pengaruh
tektonik juga menjadi faktor penurunan muka air tanah. Pengaruh tektonik disini
adalah pengaruh dari suatu gempa yaitu gempa tektonik yang kemudian menyebabkan
muka air tanah menjadi miring. Gempa akan membentuk crack atau
rekahan-rekahan. Pada saat gempa terjadi goyangan-goyangan yang dibeberapa
tempat justru terlihat air yang menyembur. Namun setelah goyangan gempa reda
banyak dilaporkan sumur-sumur kering, dan mata air yang sudah tidak
mengeluarkan air lagi. Mata-air (sumur) banyak yang menjadi kering. Hal ini
disebabkan karena ada crack atau rekahan yang membuat muka air tanah dangkal
“jatuh” ke lapisan dibawahnya, terjadi equilibrium dimana ada air yang masuk ke
zona lain yang bertekanan lebih rendah (tinggi muka airnya lebih rendah).
· Permeabilitas
sekitar sumur
Sistem pompa dan olah dapat ditingkatkan dengan
pengolahan in situ atau variasisasi komponen-komponen
sistemnya untuk meningkatkan performa. Sebagai contoh, dapat dibuat sumur ekstraksi tambahan untuk memperluas luas bidang
tangkapan sistem, atau sumur injeksi tambahan
untuk meningkatkan pengontrolan gradien. Pengontrolan gradien dapat dilakukan
dengan penambahan sebuah pengahalang vertikal,
seperti dinding slurry atau penanaman lembaran.
Pemompaan pulsa dapat dilakukan untuk meningkatkan
performa sistem sumur ekstraksi pada saat kinerjanya menurun. Dengan melakukan
variasi terhadap laju kecepatan pompa pada tiap-tiap sumur (pemompaan adaptif),
aliran yang menuju ke zona stagnan di antara sumur-sumur ekstraksi dapat
ditingkatkan. Peningkatan sistem pompa dan olah lainnya yang dapat dilakukan
adalah mengganti permeabilitas material aquifer. Pecahan-pecahan batu dapat
meningkatkan hidrolis dan pnematik material aquifer. Surfaktan juga dapat
digunakan untuk meningkatkan kelarutan kontaminan organik sehingga dapat
meningkatkan optimasi remedisi air tanah.
Sumber
:
Anonymous, 2013. Muka Air Tanah dalam http://hedihastriawan.wordpress.com/geologi-dasar-3/muka-air-tanah/
diakses 28 mei 2013
Bisri,
M. 2008. Airtanah. Malang : Tirta Media.
Boby, H. 2012. Geografi Lingkungan.
Pacitan.http://geoenviron.blogspot.com/.
Erdelyi,
M., & Galfi, J. 1988. ”Surface And Subsurface
Mapping In Hydrogeology”.
Budapest: Akademiai
Kiado.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar