1.
PERBEDAAN
ANTARA TUMBUHAN DAN HEWAN
|
No
|
Persamaan
|
Perbedaan
|
|
|
Tumbuhan
|
Hewan
|
||
|
1.
|
Bernafas
|
a).System bernafas dengan aerob
|
a).System bernafas dengan difusi
|
|
b).System bernafas dengan anaerob
|
b).System bernafas dengan trakea
|
||
|
c).System bernafas dengan insang
|
|||
|
2.
|
Berkembang biak
|
a). Berkembang secara generative (penyerbukan)
|
a).Berkembang secara generative
(eksternal,internal),(ovipar,vivipar,ovovivipar)
|
|
b).Berkembang secara vegetative (alami,buatan)
|
b).Berkembang secara vegetatif (fragmentasi,tunas)
|
||
|
3.
|
Tanggap terhadap
rangsangan (Iribalitas)
|
a). Gerak autonom
|
a)Gerak melompat
|
|
b). Gerak esionom
|
b)Gerak merayap
|
||
|
c). Gerak higroskofis
|
c)Gerak terbang
|
||
|
4.
|
Tumbuh dan berkembang
|
a).Pengaruh cahaya matahari
|
a).Tumbuh besar
|
|
b).Pengaruh Suhu dan kelembaban
|
b).Tumbuh dewasa
|
||
|
c).Pengaruh Air dan unsur tanah
|
|||
|
5.
|
Memerlukan makan dan air
|
a).Pupuk
|
a).Makanan atau nutrisi
|
|
b).Air dan udara
|
b).Air dan udara
|
||
|
c).Nutrisi unsur hara tanah
|
|||
2.
JARINGAN
Kultur jaringan atau biakan jaringan merupakan teknik
pemeliharaan jaringan atau bagian dari individu secara buatan (artifisial).
Yang dimaksud secara buatan adalah dilakukan di luar individu yang
bersangkutan. Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro,
sebagai lawan dari in vivo. Dikatakan in vitro (bahasa Latin,
berarti “di dalam kaca”) karena jaringan dibiakkan di dalam tabung inkubasi atau cawan Petri
dari kaca atau material
tembus pandang lainnya.
Jaringan
hewan (termasuk manusia)
Ada empat
kelompok jaringan dasar yang membentuk tubuh semua hewan, termasuk manusia
dan organisme multiseluler
tingkat rendah seperti artropoda: jaringan epitelium, jaringan pengikat, jaringan
penyokong, dan jaringan saraf.
- Jaringan epitelium.
Jaringan yang disusun oleh lapisan
sel yang melapisi permukaan organ seperti permukaan kulit. Jaringan ini berfungsi untuk
melindungi organ yang dilapisinya, sebagai organ sekresi
dan penyerapan.
Jaringan epitel terdiri dari 3
macam:
1. Eksotelium: epitel yang
membungkus bagian luar tubuh
2. Endotelium: epitel yang melapisi
organ dalam tubuh
3. Mesotelium: epitel yang membatasi
rongga tubuh
Fungsi jaringan epitelium yakni:
a. Absorpsi, misalnya pada usus yang
menyerap sari-sari makanan
b. Sekresi, contohnya testis yang
mensekresikan sperma
c. Ekskresi, kulit yang mengeluarkan
keringat
d. Transportasi, mengatur tekanan
osmosis dalam tubuh
e. Proteksi, kulit melindungi
jaringan tubuh di bawahnya
f. Penerima rangsang, kulit yang
menanggapi rangsang dari luar
g. Pernapasan, kulit katak berfungsi
sebagai alat pernapasan
h. Alat gerak, selaput kaki pada
kulit katak membantu dalam pergerakan
i. Mengatur suhu tubuh, kulit
mengatur suhu tubuh dengan mengeluarkan keringat jika tubuh kepanasan
- Jaringan pengikat.
Sesuai namanya, jaringan pengikat
berfungsi untuk mengikat jaringan dan alat tubuh. Contoh jaringan ini adalah
jaringan darah.
- Jaringan otot.
Jaringan otot terbagi atas tiga
kategori yang berbeda yaitu otot licin yang dapat ditemukan di organ tubuh
bagian dalam, otot lurik yang dapat ditemukan pada rangka tubuh, dan otot
jantung yang dapat ditemukan di jantung.
- Jaringan saraf.
adalah jaringan yang berfungsi untuk
mengatur aktivitas otot dan organ serta menerima dan meneruskan rangsangan.
- Jaringan penyokong
adalah jaringan yang terdiri dari
jaringan tulang rawan dan jaringan tulang yang berfungsi untuk memberi bentuk
tubuh,melindungi tubuh,dan menguatkan bentuk tubuh.
Jaringan
tumbuhan
Jaringan tumbuhan relatif
lebih homogen daripada jaringan hewan. Tumbuhan tidak memiliki kemampuan
lokomosi (berpindah)/bergerak secara aktif sebagaimana hewan. Meskipun
demikian, banyak sel-sel baru terbentuk untuk berbagai jaringan sebagai
kompensasi banyaknya sel-sel yang mati, yang menjadi pasif karena berperan
sebagai sel-sel penyimpan cadangan energi (misalnya pada buah atau umbi) atau metabolit sekunder, dan untuk mengisi jaringan
baru karena tumbuhan selalu bertambah massanya, khususnya bagi tumbuhan
tahunan. Jaringan yang aktif memperbanyak diri dan tidak memiliki
fungsi khusus disebut jaringan meristematik, sementara jaringan yang
telah mantap dengan fungsinya disebut jaringan tetap/permanen.
Jaringan
meristematik
Jaringan
meristematik terdiri dari sel-sel meristem,
suatu analog dari sel-sel punca (stem cells) hewan. Jaringan
ini dapat ditemukan pada titik-titik tumbuh di ujung batang dan akar (disebut meristem
pucuk/ujung/apikal), di bawah kulit kayu (sebagai kambium gabus
maupun kambium pembuluh, disebut meristem tepi/lateral), dan di tepi ruas atau buku, serta pada pangkal
tangkai daun (meristem antara/interkalar). Jaringan ini, terutama meristem
ujung, mudah diinduksi untuk diperbanyak secara in vitro.
Dalam jargon
kultur jaringan, sel-sel ini dikatakan bersifat embrionik
("dapat membentuk embrio"). Jaringan meristematik juga terbentuk
apabila ada bagian tumbuhan yang terbuka, misalnya karena terluka. Mobilisasi
beberapa fitohormon,
biasanya auksin
dan sitokinin, akan memicu terbentuknya
sel-sel meristem yang membentuk semacam jaringan tidak terdiferensiasi yang
disebut kalus.
Jaringan
permanen
Jaringan
permanen dikategorikan menjadi tiga kelompok utama: epidermis (jaringan pelindung, terdiri
dari sel-sel yang menyusun lapisan luar daun dan bagian-bagian
tumbuhan yang masih muda), jaringan pengangkut (menyusun xilem dan floem), dan jaringan
dasar (mencakup parenkim, klorenkim, kolenkim, dan sklerenkim).
Epidermis
melindungi bagian dalam organ sehingga tidak bersentuhan langsung dengan
pengaruh keadaan di luar organ. Epidermis dapat dilindungi oleh lapisan tipis
di bagian luar yang dikenal sebagai kutikula.
Dapat juga ditemukan lapisan malam
(wax). Sel-sel epidermis biasanya berbentuk segi empat apabila dilihat
dari samping, berjajar homogen. Namun demikian, epidermis dapat mengalami
perubahan menjadi sel-sel penutup atau sel penjaga stomata beserta beberapa
sel tetangga, trikoma (miang atau rambut
daun/batang), duri,
serta rambut kelenjar.
Jaringan
pengangkut dimiliki oleh tumbuhan berpembuluh (Tracheophyta). Gymnospermae
memiliki jaringan trakeida, serabut trakeida, dan parenkim kayu sebagai
penyusun xilem. Angiospermae memiliki tambahan jaringan trakea
selain jaringan yang dimiliki Gymnospermae. Floem (pembuluh tapis) tersusun
dari jaringan buluh tapis dan sel-sel pengiring.
Jaringan
dasar menyusun sebagian besar tubuh tumbuhan (biomassa). Kelompok jaringan ini
memiliki banyak fungsi tergantung tempat ia berada. Seringkali ia mengisi
bagian terbesar dari suatu organ, menyusun daging buah, kulit batang, isi umbi
atau rimpang
yang menyimpan pati
atau metabolit sekunder tertentu (seperti alkaloid
dan terpenoid).
Jaringan ini juga dapat mengalami kematian dengan mengosongkan isi sel-selnya
untuk membentuk struktur berongga (aerenkim) seperti ruang dalam gelembung pada
tangkai daun eceng gondok atau rongga dalam buluh bambu.
KULTUR
JARINGAN
Kultur jaringan atau biakan jaringan merupakan teknik
pemeliharaan jaringan atau bagian dari individu secara buatan (artifisial).
Yang dimaksud secara buatan adalah dilakukan di luar individu yang
bersangkutan. Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro,
sebagai lawan dari in vivo. Dikatakan in vitro (bahasa Latin,
berarti “di dalam kaca”) karena jaringan dibiakkan di dalam tabung inkubasi atau cawan Petri
dari kaca atau material
tembus pandang lainnya.
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman,
khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit
yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara
lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam
jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas,
mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat,
kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat
dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.
Kultur jaringan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk membuat bagian tanaman (akar, tunas, jaringan tumbuh tanaman) tumbuh menjadi tanaman utuh (sempurna) dikondisi invitro (didalam gelas). Keuntungan dari kultur jaringan lebih hemat tempat, hemat waktu, dan tanaman yang diperbanyak dengan kultur jaringan mempunyai sifat sama atau seragam dengan induknya. Contoh tanaman yang sudah lazim diperbanyak secara kultur jaringan adalah tanaman anggrek.
Tahapan yang dilakukan dalam
perbanyakan tanaman dengan teknik kultur jaringan adalah:
1) Pembuatan media
1) Pembuatan media
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur
jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman
yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam
mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan
seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang
ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan
tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi
ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca. Media yang
digunakan juga harus disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.
2) Inisiasi
Inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan
dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur
jaringan adalah tunas.
3) Sterilisasi
Sterilisasi adalah bahwa segala kegiatan dalam kultur jaringan harus
dilakukan di tempat yang steril, yaitu di laminar flow dan menggunakan alat-alat
yang juga steril. Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu
menggunakan etanol yang disemprotkan secara merata pada peralatan yang
digunakan. Teknisi yang melakukan kultur jaringan juga harus steril.
4) Multiplikasi
Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam
eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari
adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung
reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di
tempat yang steril dengan suhu kamar.
5) Pengakaran
Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan
akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan
dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan
dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri
ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti
berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).
6) Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan
aseptic ke bedeng. Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu
dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara
luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat
rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu
beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan
dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan
bibit generatif.
Keunggulan inilah yang menarik bagi produsen bibit untuk mulai
mengembangkan usaha kultur jaringan ini. Saat ini sudah terdapat beberapa
tanaman kehutanan yang dikembangbiakkan dengan teknik kultur jaringan, antara
lain adalah: jati, sengon, akasia, dll. Bibit hasil kultur jaringan yang ditanam di beberapa areal menunjukkan
pertumbuhan yang baik, bahkan jati hasil kultur jaringan yang sering disebut
dengan jati emas dapat dipanen dalam jangka waktu yang relatif lebih pendek
dibandingkan dengan tanaman jati yang berasal dari benih generatif, terlepas
dari kualitas kayunya yang belum teruji di Indonesia. Hal ini sangat
menguntungkan pengusaha karena akan memperoleh hasil yang lebih cepat. Selain
itu, dengan adanya pertumbuhan tanaman yang lebih cepat. Perbanyakan bibit dengan teknik kultur jaringan, kultur organ, dan
embiogenesis somatik dapat pula diterapkan pada jaringan hewan dan manusia.
Tidak seperti pada tumbuhan, kultur pada hewan dan manusia tidak dapat
dikembangkan menjadi individu baru.
KENAPA
KULTUR JARINGAN TIDAK DAPAT DITERAPKAN PADA MANUSIA ?
Karena sel-sel
embriotik yang berfungsi membentuk jaringan tubuh dan bagian tubuh lainnya
hanya aktif saat manusia berada di kandungan sedangkan tumbuhan punya sel-sel
embriotik yang aktif terus selama hidupnya. Manusia (sel hewan) tidak mempunyai
jaringan yang bersifat totipotensi, sehingga sel hewan tidak dapat di kultur
jaringan tapi sel hewan dapat di kloning.
Ketika kita mengkultur
suatu sel ataupun jaringan dari tumbuhan setiap sel ataupun jaringan yang di
kultur bisa menjadi individu baru. Tapi berbeda dengan ketika kita mengkultur
sel dari hewan ataupun manusia. Kultur sel ataupun jaringan dari hewan hanya
akan membentuk koloni sel ataupun jaringan yang telah dikultur. Pada kultur
jaringan tumbuhan dapat menjadi individu baru karena sifat totipotensi yang
dimiliki sel tumbuhan.
Bagaimana
Dengan Kloning ?
Berbeda lagi dengan
kloning, kloning merupakan kultur dari sel (n) ataupun sperma(n) yang
diinjeksikan dalam sel telur yang intinya sudah dihilangkan. Sel yang sudah
tertanam dalam sel telur ini akan memiliki totipotensi sehingga bisa terbentuk
individu baru. Yang membedakan antara kultur jaringan hewan dengan kloning
adalah adanya keterlibatan dari
sel telur yang mampu membentuk sifat totipotensi sehingga dapat
membentuk individu baru. Medium yang digunakan pada kultur jaringan tanaman
berbentuk padatan gel untuk mempertahankan posisi dari individu yang terbentuk.
Sedangkan pada kultur jaringan hewan dan juga kloning media yang digunakan
berbentuk cairan dengan kondisi sedemikian rupa dibuat seperti dalam rahim
REFERENSI :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar