Total Tayangan Halaman

Senin, 30 Desember 2013

PRODUKSI BENIH LAPANG



I.  PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Sayuran merupakan komoditas penting yang dibudidayakan oleh petani di berbagai daerah di Indonesia. Komoditas sayuran merupakan cash crop yang dapat secara nyata mendatangkan keuntungan bagi petani di Indonesia. Dengan demikian, keberhasilan dalam usaha tani sayuran dapat memberikan sumbangan yang besar bagi kesejahteraan petani. Konsumsi sayuran di Indonesia diprediksikan akan mengalami peningkatan sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian dan meningkatnya taraf pendidikan masyarakat. Peluang meningkatnya permintaan tersebut perlu diantisipasi dengan peningkatan kuantitas dan kualitas produk sayuran yang dihasilkan petani di Indonesia. Penyediaan beberapa produk sayuran tertentu untuk keperluan ekspor juga mulai terbuka.
Permintaan komoditas sayuran olahan oleh pasar global dunia dilaporkan mencapai sekitar 10 juta ton pertahun. Dengan demikian kemungkinan untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor sayuran dari Indonesia di masa yang akan datang masih sangat besar. Keberhasilan Indonesia dalam meraih pangsa pasar yang lebih besar akan sangat tergantung pada kemampuan memproduksi jenis-jenis sayuran yang diinginkan dan mempunyai kualitas yang sesuai dengan standar mutu internasional. Masalah peningkatan kuantitas dan kualitas produksi sayuran yang diinginkan membawa konsekuensi pada perlunya perhatian yang serius tentang pengadaan benih sayuran yang bermutu. Keberhasilan budidaya sayuran utama di Indonesia sangat ditentukan oleh ketersediaan benih sayuran yang bermutu secara berkesinambungan. Sedangkan ketersediaan benih sangat dipengaruhi oleh berbagai kebijakan dalam bidang pertanían oleh pemerintah Indonesia. Selain itu, berbagai aspek penunjang yang terkait dengan masalah perbenihan juga dapat memberikan suasana yang kondusif bagi pengembangan industri benih.
Salah satu sayuran di Indonesia yang menggunakan benih adalah mentimun. Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan tanaman semusim yang bersifat menjalar atau memanjat dengan perantaraan alat pemegang berbentuk pilin atau spiral. Bagian yang dimakan dari sayuran ini adalah buahnya. Buah berwarna hijau ketika muda dengan larik-larik putih kekuningan. Semakin buah masak warna luar buah berubah menjadi hijau pucat sampai putih. Bentuk buah memanjang seperti torpedo. Daging buahnya perkembangan dari bagian mesokarp, berwarna kuning pucat sampai jingga terang. Buah dipanen ketika masih setengah masak dan biji belum masak fisiologi. Buah yang masak biasanya mengering dan biji dipanen, warnanya hitam. Biasanya buah mentimun dimakan mentah sebagai lalap dalam hidangan makanan dan juga di sajikan dalam bentuk buah segar (Sugito, 1992).
Nilai gizi mentimun cukup baik karena sayuran buah ini merupakan sumber mineral dan vitamin. Kandungan nutrisi per 100 g mentimun terdiri dari 15 kalori, 0,8 g protein, 0,1 g pati, 3 g karbohidrat, 30 mg  fosfor, 0,5 mg besi, 0,02 thianine, 0,01 riboflavin, 14 mg asam, 0,45 vitamin A, 0,3 vitamin B1, dan 0,2 vitamin B2 (Reijntjes, 1999). Manfaat Mentimun yang lain yaitu memiliki sifat diuretik, efek pendingin, dan pembersih yang bermanfaat bagi kulit. Kandungan air yang tinggi; vitamin A, B, dan C; serta mineral, seperti magnesium, kalium, mangan, dan silika; membuat mentimun menjadi bagian penting dalam perawatan kulit. Asam askorbat dan asam caffeic yang hadir dalam mentimun dapat menurunkan tingkat retensi air, yang pada gilirannya mengurangi pembengkakan di sekitar mata.
Untuk mendapatkan buah mentimun yang baik dan memenuhi permintaan masyarakat, maka kita harus memperhatikan benihnya. Benih yang akan ditanam harus melewati proses sertifikasi benih dan pengujian mutu benih. Makalah ini akan membahas mengenai bagaimana budidaya mentimun serta proses sertifikasi benih dan pengujian mutu benih.
1.2  Tujuan
1.      Untuk mengetahui budidaya tanaman mentimun
2.      Untuk mengetahui alur pendaftaran sertifikasi benih
3.      Untuk mengetahui pengujian mutu benih
4.      Untuk mengetahui perbandingan produksi benih dari dua jurnal (sumber) yang berbeda.








II.  TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Klasifikasi Dan Morfologi Mentimun
2.1.1   Klasifikasi
Menurut Kuswanto (2003) klasifikasi mentimun sebagai berikut :
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Cucurbitales
Famili: Cucurbitaceae
Genus: Cucumis
Spesies: C. Sativus
2.1.2   Morfologi
Menurut Rukmana (1994), perakaran mentimun memiliki akar tunggang dan bulu-bulu akar, tetapi daya tembus akar relatif dangkal, pada kedalaman sekitar 30-60 cm. Oleh sebab itu, tanaman mentimun termasuk peka terhadap kekurangan dan kelebihan air. Tanaman mentimun memiliki batang yang berwarna hijau, berbulu dengan panjang yang bisa mencapai 1,5 m dan  umumnya batang mentimun mengandung air dan lunak. Mentimun mempunyai sulur dahan berbentuk spiral yang keluar di sisi tangkai daun. Sulur mentimun adalah batang yang termodifikasi dan ujungnya peka sentuhan. Bila menyentuh galah sulur akan mulai melingkarinya. Dalam 14 jam sulur itu telah melekat kuat pada galah/ajir (Sunarjono, 2007).
Daun mentimun lebar berlekuk menjari dan dangkal, berwarna hijau muda sampai hijau tua. Daunnya beraroma kurang sedap dan langu, serta berbulu tetapi tidak tajam. Dan berbentuk bulat lebar dengan bagaian ujung yang meruncing berbentuk jantung, kedudukan daun pada batang tanaman berselang seling antara satu daun dengan daun diatasnya (Sumpena, 2001).
Bunga mentimun berwarna kuning dan berbentuk terompet, tanaman ini berumah satu artinya, bunga jantan dan bunga betinah terpisah, tetapi masih dalam satu pohon. Bunga betina mempunyai bakal buah berbentuk lonjong yang membengkak, sedangkan bunga jantan tidak. Letak bakal buah tersebut di bawah mahkota bunga (Nurhayati, 1997).  Buah mentimun muda berwarna antara hijau, hijau gelap, hijau muda, hijau keputihan sampai putih, tergantung kultivar yang diusahakan. Sementara buah mentimun yang sudah tua (untuk produksi benih) berwarna cokelat, cokelat tua bersisik, kuning tua, dan putih bersisik. Panjang dan diameter buah mentimun antara 12-25 cm dengan diameter antara 2-5 cm atau tergantung kultivar yang diusahakan (Sumpena, 2001).
2.2  Budidaya Tanaman Mentimun
Untuk pertumbuhan yang optimum diperlukan iklim kering, sinar matahari yang cukup dengan temperatur optimal antara 210C – 300C. Sementara untuk suhu perkecambahan biji optimal yang dibutuhkan antara 250C – 350C Kelembapan udara (RH) yang dikehendaki oleh tanaman mentimun agar hidup dengan baik adalah antara 80-85%. Sementara curah hujan optimal untuk budidaya mentimun adalah 200-400 mm/bln, curah hujan yang terlalu tinggi tidak baik untuk pertumbuhan apalagi pada saat berbunga karena akan mengakibatkan menggugurkan bunga (Sumpena, 2001).
Hasil penelitian Rachmat dan Gerard (1995), mengatakan syarat tumbuh tanaman mentimun pada ketinggian ≥ 1000 m dpl, harus menggunakan mulsa plastik perak hitam karena di ketinggian tersebut suhu tanah ≤ 18o C dan suhu udara ≤ 25o C. sehingga penggunaan mulsa akan meningkatkan suhu tanah dan di sekitar tanaman.
2.2      Teknologi Produksi Benih
2.3.1 Persyaratan Tanah
Mentimun cocok ditanam di lahan yang jenis tanahnya lempung sampai lempung berpasir yang gembur dan mengandung bahan organik. Mentimun membutuhkan pH tanah di kisaran 5,5-6,8 dengan ketinggian tempat 100-900 m dpl. Mentimun juga membutuhkan sinar matahari terbuka, drainase air lancar dan bukan bekas penanaman mentimun dan familinya seperti melon, semangka, dan waluh. Aspek agronomi penanaman mentimun tidak berbeda dengan komoditas sayuran komersil lainnya, seperti kecocokan tanah dan tinggi tempat, serta iklim yang sesuai meliputi suhu, cahaya, kelembapan dan curah hujan (Wahyudi, 2011). Tanah gembur, banyak mengandung humus, tata air baik, tanah mudah meresapkan air, pH tanah 6-7.
2.2.2         Isolasi
Menurut Sadjad (1977) untuk tahap penanaman yaitu :
1.    Jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60 cm, 30 x 40 cm.
2.    Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm.
3.    Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan, tetapi dapat saja sepanjang musim asal air tanahnya memadai
4.    Benih dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 2 biji, tutup dengan tanah tipis/dengan abu dapur.

Kemudian untuk tahap pemeliharaan tanaman menurut Sutopo (2002) antara lain :
1.    Benih akan tumbuh 3-5 hari setelah tanam.
2.    Tanaman yang rusak atau mati dicabut dan segera disulam dengan tanaman yang baik. Bersihkan gulma (bisa bersama waktu pemupukan).
3.    Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman berumur 2-3 minggu setelah tanam, tergantung pertumbuhan rumput di kebun.
4.    Penyiangan dengan cara mencabut rumput liar/membersihkan dengan alat kored.
5.    Pasang ajir pada 5 hst ( hari setelah tanam ) untuk merambatkan tanaman. Daun yang terlalu lebat dipangkas, dilakukan 3 minggu setelah tanam pada pagi atau sore hari.
6.    Pengairan dan Penyiraman rutin dilakukan setiap pagi dan sore hari dengan cara di siram atau menggenangi lahan selama 15-30 menit. -Selanjutnya pengairan hanya dilakukan jika diperlukan dan diintensifkan kembali pada masa pembungaan dan pembuahan.
2.2.3        Roguing
2.3.3.1 Definisi Rouging
Salah satu langka penting yang harus dilakukan dalam kegiatan produksi benih adalah rouging. Yang dimasud dengan rouging adalah proses pemeriksaan kondisi tanaman dilapangan dan pembuangan tanaman yang tidak dikehendaki, yang memiliki cirri berbeda yaitu gulma, tanaman species lain, tanaman varietas lain dalam satu spesies dan tanaman tipe simpang (off type). Tanaman- tanaman ini disebut sebagai rogues yang tidak dapat diterima kehadirannya di areal usaha produksi benih karena benihnya akan mengotori produk benih yang akan dipanen karena ukuran dan bentuknya sangat mirip sehingga tidak dapat dipisahkan atau dikenali. Adapun tujuan dari dilakukannya rouging dalam produksi benih adalah untuk menjaga kemurnian varietas yang dibudidayakan (Mugnisyah, 1995).
2.3.3.2 Pelaksanaan Rouging
Rouging dilakukan beberapa kali pada fase pertumbuhan yang berbeda secara terus menerus sampai sebelum panen. Rouging sebaiknya dilakukan sepagi mungkin sebelum matahari terlalu panas agar pengenalan terhadap ciri-ciri kritis yang ada dapat lebih mudah dilakukan. Waktu terbaik dalam melakukan rouging adalah pada fase pertanaman berbunga penuh karena pada fase ini sifat-sifat tanaman hamper ditampilkan sepenuhnya dan perbedaan-perbedaan warna pada bunga akan tampak nyata. Namun, untuk tanaman menyerbuk silang senaiknya rouging dilakukan pada fase lebih awal yaitu sebelum pembungaan penuh atau pada saat pembungaan tetapi sebelum serbuk sari matang dan belum dilepaskan oleh factor penyerbuk (Mugnisyah, 1995).
2.3.3.3 Teknik Pelaksanaan Roguing
Roguing merupakan pemeriksaan dan pembuangan tanaman-tanaman yang memiliki ciri berbeda yang dilakukan dilahan produksi benih dengan tujuan untuk menjaga kemurnian varietas yang diproduksi. Rouging dilaksanakan terhadap tanaman species lain, tanaman varietas lain, tanaman tipe simpang, dan gulma berbahaya dengan tujuan menjaga kemurnian benih sehingga persyaratan benih dapat terpenuhi (Mugnisyah, 1995).
Dalam produksi benih bersertifikat, rouging diikuti dengan pemeriksaan lapangan oleh petugas sertifikasi benih. Pemerikasaan lapangan tersebut dalam pelaksanaannya memerlukan keterampilan dalam membedakan tanaman-tanaman yang mempunyai ciri yang berbeda dengan tanaman yang sedang diproduksi.
2.2.4        Panen dan pascapanen
2.3.4.1 Panen
·         Ciri dan Umur Panen
Buah mentimun muda lokal untuk sayuran, asinan atau acar umumnya dipetik 2-3 bulan setelah tanam, mentimun hibrida dipanen 42 hari setelah tanam Mentimun Suri dipanen setelah matang (Sumpena, 2001).
·         Cara Panen
Buah dipanen di pagi hari sebelum jam 9.00 dengan cara memotong tangkai buah dengan pisau tajam (Sumpena, 2001).
·         Periode Panen
Mentimun sayur dipanen 5 - 10 hari sekali tergantung dari varitas dan ukuran/umur buah yang dikehendaki (Sumpena, 2001).
2.3.4.2  Pasca panen
Pasca panen, mentimun mudah mengalami kehilangan kandungan air setelah panen sehingga buah menjadi keriput dan tidak tahan lama. Oleh sebab itu setelah panen mentimun disimpan ditempat sejuk. Sebaiknya disimpan pada wadah yang berlobang agar sirkulasi udara lancar.
2.4    Penyimpanan Benih
Perlakuan yang terbaik pada benih ialah menanam benih atau disemaikan segera setelah benih-benih itu dikumpulkan atau dipanen, jadi mengikuti cara-cara alamiah, namun hal ini tidak selalu mungkin karena musim berbuah tidak selalu sama, untuk itu penyimpanan benih perlu dilakukan untuk menjamin ketersediaan benih saat musim tanam tiba.
2.4.1   Tujuan penyimpanan
·         menjaga biji agar tetap dalam keadaan baik (daya kecambah tetap tinggi)
·         melindungi biji dari serangan hama dan jamur.
·         mencukupi persediaan biji selama musim berbuah tidak dapat mencukupi kebutuhan.
Ada dua faktor yang penting selama penyimpanan benih yaitu, suhu dan kelembaban udara. Umumnya benih dapat dipertahankan tetap baik dalam jangka waktu yang cukup lama, bila suhu dan kelembaban udara dapat dijaga maka mutu benih dapat terjaga. Untuk itu perlu runag khusus untuk penyimpanan benih.
2.4.2   Untuk benih ortodoks
Benih ortodoks dapat disimpan lama pada kadar air 6-10% atau dibawahnya. Penyimpanan dapat dilakukan dengan menggunakan wadah seperti : karung kain, toples kaca/ plastik, plastik, laleng, dll. Setelah itu benih dapat di simpan pada suhu kamar atau pada temperature rendah “cold storage” umumnya pada suhu 2-5oC.
2.4.3   Untuk benih rekalsitran
Benih rekalsitran mempunyai kadar air tinggi, untuk itu dalam penyimpanan kadar air benih perlu dipertahankan selama penyimpanan. Penyimpanan dapat menggunakan serbuk gergaji atau serbuk arang. Caranya yaitu dengan memasukkan benih kedalam serbuk gergaji atau arang.










III.             METODOLOGI
3.1    Alat, Bahan dan Fungsi
Alat Praktikum
·    Cangkul                       : Untuk pengolahan tanah
·    Ajir                              : Untuk membuat lubang pada tanah
·    Botol                           : Untuk mengisi air
·    Kayu lancip                 : Untuk melubangkan tanah supaya dapat diisi benih
·    Tali rafia                      : Untuk mengukur jarak tanam
Bahan Praktikum
·    Benih Mentimun         : Sebagai bahan tanam percobaan yang diamati
·    Pupuk                          : Sebagai bahan penambah unsur hara dalam tanah
·    Air                               : Sebagai bahan untuk mengairi lahan
3.2    Keterangan Lahan
3.2.1    Ketinggian Tempat
Pada praktikum kali ini, kami menggunakan lahan praktikum percobaan di daerah Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya yang berada pada ketinggian ±545 mdpl. Ketinggian tersebut cukup cocok jika digunakan untuk budidaya mentimun karena mentimun dapat tumbuh di ketinggian 1-1000 mdpl.
3.2.2    Sejarah Penggunaan Lahan
Sejarah penggunaan lahan yang kami gunakan untuk praktikum roguing adalah lahan yang berada di kebun percobaan praktikum Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Lahan tersebut telah digunakan untuk beberapa praktikum dalam mata kuliah yang berbeda yang berhubungan dengan tanam menaman. Di dalam penggunaannya lahan tersebut pernah digunakan untuk menanam tanaman palawija, seperti jagung, padi, kacang-kacangan, dan beberapa tanaman lain. Jadi dapat diketahui bahwa lahan tersebut melalui proses rotasi tanah karena penggunaan lahan tersebut tidak monokultur satu tanaman saja melainkan digunakan untuk berbagai macam tanaman.
3.3    Waktu Pelaksanaan
Untuk pelaksanaan  praktikum ini dilaksanakan selama ± 5 minggu dimulai dari tanggal 27 April 2013. Terdapat lima sampel tanaman yang masing-masing sampel diberi label dan pengamatan pertama dilakukan selama 7 hst dengan dokumentasi tiap sampel.

IV.      HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1  Hasil Pengamatan
                   Tabel 1:  Pengamatan Tanaman
Parameter
Sampel Tanaman Ke-
1
2
3
4
5
A.    Fase Vegetative
-       Tinggi Tanaman (cm)
-       Jumlah Daun (buah)
-       Jumlah Cabang (buah)





137cm
-
97cm
143cm
78cm
9
-
5
9
6
12
-
9
15
8










B.     Fase Genetarive
-       Awal Berbunga (hst)
-       Berbunga 50% (hst)
-       Berbunga 75% (hst)
-       Jumlah bunga per tanaman
-       Jumlah polong per tanaman
-       Produksi buah/biji per petak





7
14
7
7
7
14
mati
14
14
14
28
mati
28
28
28
6
-
5
7
4
-
2
-
-
-
1
-
3
-
1

                   Tabel 2: Pengamatan Roguing
Parameter
Hasil rouguing
Jumlah Tanaman Off Type
Jumlah Tanaman Volunter
Bentuk dan warna daun
Menjari-Hijau muda
-
± 4 tanaman gulma /tanaman

Warna bunga

Putih kekuningan
-

Bentuk dan warna buah
Lonjong-hijau kecil
-

Waktu berbungan











4.2  Pembahasan Dibandingkan Literatur
4.2.1 Pembahasan
4.2.1.1 Fase Vegetatif
Dari praktikum yang telah kami lakukan  didapatkan hasil bahwa pada fase vegetatif tinggi tanaman pada sampel pertama yaitu 137 cm dengan jumlah daun 9 buah dan jumlah cabang 12 buah. Kemudian untuk sampel kedua tanaman ternyata mati, sehingga tidak ada data mengenai tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah cabang. Kemudian pada sampel tanaman ketiga tinggi tanaman yaitu 97 cm dengan jumlah daun 5 buah dan jumlah cabang 15 buah. Lalu untuk sampel tanaman kelima tinggi tanaman yaitu sebesar 78 cm dengan  jumlah daun 6 buah dan jumlah cabang 8 buah.
4.2.1.2 Fase Generatif
Kemudian pada fase selanjutnya yaitu pengamatan fase generative. Untuk sampel pertama tanaman awal berbunga pada 7 hari setelah tanam, kemudian tanaman menunjukkan berbunga 50% pada 14 hari setelah tanam, tanaman manunjukkan berbunga 75% pada 28 hari setelah tanam serta jumlah bunga per tanaman yaitu 6 bunga dan terlihat produksi buah.biji per petak adalah sebanyak 2 buah. Pada sampel kedua tanaman terlihat tanaman awal berbunga pada 14 hari setelah tanam namun kemudian tanaman mai, sehinggatidak ada data untuk berbunga 50%, berbunga 75%, mumlah bunga dan produksi buah per tanaman.
 Pada sampel tanaman ketiga tanaman menunjukkan awal berbunga pada 7 hari setelah tanam, kemudian menunjukkan berbunga 50% pada 14 hari setelah tanam, selanjutnya tanaman menunjukkan berbunga 75% pada 28 hari setelah tanam, untuk  jumlah bunga per tanaman yaitu sebanyak 5 bunga dan produksi buah.biji per petak yaitu sebanyak 1 buah. Pada sampel tanaman keempat tanaman menunjukkan awal berbunga  pada 7 hari setelah tanam kemudian menunjukkan berbunga 50% pada 14 hari setelah tanam, kemudian tanaman menunjukkan berbunga 75% pada 28 hari setelah tanam, serta menunjukkan jumlah bunga per tanaman sebanyak 7 bunga dan produksi buah.biji per petak adalah sebanyak 3 buah. Pada sampel tanaman kelima tanaman menunjukkan awal berbunga pada 7 hari setelah tanam kemudian menunjukkan berbunga 50% pada 14 hari setelah tanam, kemudian tanaman menunjukkan berbunga 75% pada 28 hari setelah tanam serta jumlah bunga per tanaman yaitu sebanyak 4 bunga dan produksi buah.biji per petak yaitu sebanyak 1 buah.
4.2.1.3 Pengamatan Rouging
Pada saat pengamatan rouging disebutkan beberapa parameter yaitu bentuk dan warna daun, warna bunga, bentuk dan warna buah, dan waktu berbungaan. Dari pengamatan  rouging  yang dilakukan didapatkan bentuk menjari dan berwarna hijau muda dengan jumlah tanaman volunteer 4 tanaman gulma/tanaman, untuk bunganya yaitu berwarna putih kekuningan serta buah berbentuk lonjong dan warna buah hijau kecil.
Dalam perbandingan dengan literatur menurut Sutedjo (1997) untuk memperoleh hasil yang memuaskan maka dalam membudidayakan mentimun memerlukan pemeliharaan yang intensif. Kegiatan pemeliharaan mentimun antara lain pemangkasan, pemasangan ajir penopang, pengikatan tanaman, sanitasi, pengairan, pemupukan dan pengendalian hama dan penyakit. Masalah pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dibahas tersendiri.
·         Pemangkasan (Prunning) Cabang
Jika banyak percabangan yang tumbuh dari ketiak daun, lakukan pemangkasan. Pilih dua atau tiga cabang produktif yang tumbuh paling besar dan sehat. Dari cabang yang tidak terpilih, pangkas bagian pucuknya saja-tidak dari pangkal. Tujuannya agar memberi kesempatan kepada akar untuk tumbuh luas dan persiapan untuk perkembangan produktif.
·         Pemasangan Ajir Penopang
Fitrah tanaman mentimun sebenarnya menjalar di permukaan tanah. Namun, karena menginginkan permukaan kulit buahnya mulus dengan warna yang tidak belang, maka diperlukan ajir penopang agar buah mentimun menggantung. Lakukan pemasangan ajir ketika tanaman berumur 3-7 HST agar tidak melukai akarnya. Siapkan ajir dari bilah bambu dengan panjang 225-250 cm dan lebar 3-4 cm. Tancapkan ajir di samping tanaman, sekitar 7-10 cm dari pangkal tanaman, dengan posisi miring ke dalam bedengan hingga bersilang di bagian ujung ajir tanaman di depannya. Di titik persilangan diberi galar bilah bambu yang menghubungkan persilangan satu dengan yang lainnya di sepanjang bedengan. Setelah itu, ikat menggunakan tali rafia tepat di titik persilangan ajir agar lebih kokoh.


·         Pengikatan Tanaman
Agar tanaman mentimun merambat di ajir, ikatkan tanaman pada ajir dengan menggunakan tali rafia. Lakukan pengikatan ini bersamaan dengan pertumbuhan tanaman ke atas, setiap 25-30 cm panjang batang.
·         Penyiangan
Salah satu penghambat produksi mentimun adalah adanya penyakit yang lebih dominan daripada hama. Karena itu, lakukan penyiangan rumput dan gulma di sekitas tanaman secara ruti terutama jika teknik penanaman tanpa menggunakan mulsa plastik hitam pera untuk mencegah perkembangan penyakit. Gulma ini sangat merugikan tanaman karena menghambat pertumbuhan tanaman. Gulma merupakan pesaing bagi tanaman dalam memperoleh cahaya, udara dan air. Penyiangan dilakukan dengan cara mencabut gulma, dapat juga menggunakan alat bantu kored tetapi harus berhati-hati agar tidak mengganggu akar tanaman.
·         Pengairan
Karena tanaman mentimun menghasilkan buah dari batang bagian bawah sampai ke atas, maka diperlukan kondisi tanah yang lembab stabil. Karena itu, lakukan penyiraman secara teratur, terutama pada musim kemarau, untuk menciptakan kelembaban tanah yang ideal. Jika keadaan tanah kurang lembab, tanah perlu diairi,pengairan dilakukan sekedar untuk membasahi tanah. Pengairan dan penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore, dengan menggenangi lahan selama 15-30 menit. Waktu pemberian air dilakukan sewaktu tanaman berkecambah yaitu, umur 0-4 hari, awal pertumbuhan vegetatif (pertumbuhan batan dan daun) ± umur 15-20 hari.Selanjutnya pengairan hanya dilakukan jika diperlukan dan diintensifkan kembali pada masa pembungaan dan pembuahan.  Sebaliknya, perakaran mentimun sangat sensitif terhadap kelembapan tanah yang terlalu tinggi. Karena itu, lakukan perbaikan saluran drainase ketika penanamannya dilakukan pada musim hujan. Tujuannya, agar air hujan tidak sempat menggenang di dalam selokan

4.2.2 Kondisi Lapang (alasan berhasil / tidak berhasil)
Pada praktikum budidaya mentimun ini dapat dikatakan 80% berhasil dan 20% faktor-faktor penghambat yang menyebabkan beberapa tanaman sampel mati dan tidak berbuah dengan baik. Dikatakan 80% berhasil karena dalam budidaya timun ini masih dapat menghasilkan 7 buah timun yang menjadi dalah satu indikator keberhasilan. Sedangkan dikatakan 20% faktor penghambat hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor antara lain faktor iklim yang tidak menentu, seperti adanya hujan yang datang dalam satu hari penuh, maka tanaman akan kekurangan cahaya, sehingga tidak dapat bermetabolisme dengan optimal serta pada proses rouging tidak terjadi peningkatan produksi mentimun yang terjadi. Sedangkan untuk syarat tumbuh optimum mentimun yang diperlukan pada iklim kering, sinar matahari yang cukup dengan temperatur optimal antara 210C – 300C. Sementara untuk suhu perkecambahan biji optimal yang dibutuhkan antara 250C – 350C. Kelembapan udara (RH) yang dikehendaki oleh tanaman mentimun agar hidup dengan baik adalah antara 80-85%. Sementara curah hujan optimal untuk budidaya mentimun adalah 200-400 mm/bln, curah hujan yang terlalu tinggi tidak baik untuk pertumbuhan apalagi pada saat berbunga karena akan mengakibatkan menggugurkan bunga (Sumpena, 2001). Apabila syarat tersebut cukup dipenuhi untuk budidaya mentimun, maka bisa diperkirakan mentimun dapat tumbuh dengan baik.


















V.  PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada praktikum Teknologi Produksi Benih kali ini kamimelakukan penanaman buah mentimun yang dilaksanakan selama ± 5 minggu dimulai dari tanggal 27 April 2013. Terdapat lima sampel tanaman yang masing-masing sampel diberi label dan pengamatan pertama dilakukan selama 7 hst dengan dokumentasi tiap sampel. Pada praktikum budidaya mentimun ini dapat dikatakan 80% berhasil dan 20% faktor-faktor penghambat yang menyebabkan beberapa tanaman sampel mati dan tidak berbuah dengan baik. Dikatakan 80% berhasil karena dalam budidaya timun ini masih dapat menghasilkan 7 buah timun yang menjadi dalah satu indikator keberhasilan. Sedangkan dikatakan 20% faktor penghambat hal ini dikarenakan oleh beberapa faktor antara lain faktor iklim yang tidak menentu, seperti adanya hujan yang datang dalam satu hari penuh, maka tanaman akan kekurangan cahaya, sehingga tidak dapat bermetabolisme dengan optimal serta pada proses rouging tidak terjadi peningkatan produksi mentimun yang terjadi.Bisa dikatakan berhasil dan bisa dikatakan gagal, yang mana dikarenakan adanya 7 timun yang tumbuh dengan baik tetapi tanaman lainnya mati.
Kami juga melakukan rouging pada pengamatan budidaya mentimun dengan tujuan untuk meningkatkan produksi dari tanaman timun dengan cara memotong beberapa bagian dari tanaman timun. Tetapi hasil dari tanaman timun ini tidak terlalu berpengaruh akibat dilakukannya rouging ini.  Dari pengamatan  rouging  yang dilakukan didapatkan bentuk menjari dan berwarna hijau muda dengan jumlah tanaman volunteer 4 tanaman gulma/tanaman, untuk bunganya yaitu berwarna putih kekuningan serta buah berbentuk lonjong dan warna buah hijau kecil.
5.2 Saran
Seharusnya diberikan pembagian jadwal kepada praktikan untuk pengamatan, perawatan, serta dokumentasi tiap minggunya, sehingga setiap praktikan dapat bertanggung jawab terhadap tanaman yang mereka amati dan data untuk pembuatan laporan dapat dikumpulkan dengan mudah.







DAFTAR PUSTAKA

Kuswanto, Hendarto. 2003, Teknologi Pemprosesan, Pengemasan dan Penyimpanan Benih. Yogyakarta: Kanisius
Mugnisyah, WQ dan Aseo Setiawan. 1995. “Pengantar Produksi Benih . Raja Gravindo Persada. Jakarta
Nurhayati, K. 1997. Pengaruh Ukuran dan Saat perkahan Buah Pada Proses Ekstraksi terhadap Perkecambahan dan Pertumbuahan Semai Khaya anthoteca C.DC. Skrpisi. Bogor. Jurusan Manajeman Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Rachmat, S. dan Geraad Grubben. 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah. Prosea Indonesia dan Balai Penelitian Hortikultura. Universitas Gadja Mada. Hal, 102-104.
Reijntjes, C, B. Haverkorb, A. Waters-Bayers. 1999. Pertanian Masa Depan. Kanisius. Yogyakarta. Hal, 44-45.
Rukmana, R. 1994. Budidaya Mentimun. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Hal, 5-8.
Sadjad. S. 1977. Catatan Sejarah Tentang Pengembangan Mutu Benih. Vol. 2. Penataran Latihan Pola Beranam, LP3  IRRI, Bogor. Hal, 1-12.
Sugito, J. 1992. Sayur Komersial. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal, 106-112.
Sumpena, U. 2001. Budidaya Mentimun Intensif dengan Mulsa Secara Tumpang Gilir. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal, 1-46.
Sumpena, Rinda Kirana Dan Ahsol Hasyim, 2011. Produksi Benih Calon Varietas Mentimun Hibrida Untuk Persiapan Pelepasan Varietas, Subang
Sumpena, Rinda Kirana dan Ahsol Hasjim, 2011. Produksi Benih Sumber Mentimun Varietas Mars, Laboratorium BALITSA, Subang
Sunarjono, H, H. 2007. Bertanam 30 Jenis Sayur. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal, 109-114.
Sutedjo, M, M dan Kartasas Poetra A, G. 1997. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta Buana. Bandung. Hal, 14-15.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar