I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sayuran merupakan komoditas penting yang dibudidayakan oleh petani
di berbagai daerah di Indonesia. Komoditas sayuran merupakan cash crop yang
dapat secara nyata mendatangkan keuntungan bagi petani di Indonesia. Dengan
demikian, keberhasilan dalam usaha tani sayuran dapat memberikan sumbangan yang
besar bagi kesejahteraan petani. Konsumsi sayuran di Indonesia diprediksikan
akan mengalami peningkatan sejalan dengan membaiknya kondisi perekonomian dan
meningkatnya taraf pendidikan masyarakat. Peluang meningkatnya permintaan tersebut
perlu diantisipasi dengan peningkatan kuantitas dan kualitas produk sayuran
yang dihasilkan petani di Indonesia. Penyediaan beberapa produk sayuran tertentu
untuk keperluan ekspor juga mulai terbuka.
Permintaan komoditas sayuran olahan oleh pasar global dunia
dilaporkan mencapai sekitar 10 juta ton pertahun. Dengan demikian kemungkinan
untuk meningkatkan pangsa pasar ekspor sayuran dari Indonesia di masa yang akan
datang masih sangat besar. Keberhasilan Indonesia dalam meraih pangsa pasar
yang lebih besar akan sangat tergantung pada kemampuan memproduksi jenis-jenis
sayuran yang diinginkan dan mempunyai kualitas yang sesuai dengan standar mutu
internasional. Masalah peningkatan kuantitas dan kualitas produksi sayuran yang
diinginkan membawa konsekuensi pada perlunya perhatian yang serius tentang
pengadaan benih sayuran yang bermutu. Keberhasilan budidaya sayuran utama di
Indonesia sangat ditentukan oleh ketersediaan benih sayuran yang bermutu secara
berkesinambungan. Sedangkan ketersediaan benih sangat dipengaruhi oleh berbagai
kebijakan dalam bidang pertanían oleh pemerintah Indonesia. Selain itu,
berbagai aspek penunjang yang terkait dengan masalah perbenihan juga dapat memberikan
suasana yang kondusif bagi pengembangan industri benih.
Salah satu
sayuran di Indonesia yang menggunakan benih adalah mentimun. Mentimun (Cucumis sativus L.) merupakan tanaman semusim yang bersifat menjalar atau memanjat
dengan perantaraan alat pemegang berbentuk pilin atau spiral. Bagian yang
dimakan dari sayuran ini adalah buahnya. Buah berwarna hijau ketika muda dengan
larik-larik putih kekuningan. Semakin buah masak warna luar buah
berubah menjadi hijau pucat
sampai putih.
Bentuk buah memanjang seperti torpedo. Daging buahnya perkembangan dari bagian mesokarp,
berwarna kuning
pucat sampai jingga terang. Buah dipanen ketika masih setengah masak dan biji belum masak
fisiologi. Buah
yang masak biasanya mengering dan biji dipanen, warnanya hitam. Biasanya buah
mentimun dimakan mentah sebagai lalap dalam hidangan makanan dan juga di
sajikan dalam bentuk buah segar (Sugito, 1992).
Nilai gizi
mentimun cukup baik karena sayuran buah ini merupakan sumber mineral dan
vitamin. Kandungan nutrisi per 100 g mentimun terdiri dari 15 kalori, 0,8 g
protein, 0,1 g pati, 3 g karbohidrat, 30 mg fosfor, 0,5 mg besi, 0,02 thianine, 0,01
riboflavin, 14 mg asam, 0,45 vitamin A, 0,3 vitamin B1, dan 0,2 vitamin B2 (Reijntjes,
1999). Manfaat Mentimun yang lain yaitu memiliki sifat diuretik, efek
pendingin, dan pembersih yang bermanfaat bagi kulit. Kandungan air yang tinggi;
vitamin A, B, dan C; serta mineral, seperti magnesium, kalium, mangan, dan
silika; membuat mentimun menjadi bagian penting dalam perawatan kulit. Asam
askorbat dan asam caffeic yang hadir dalam mentimun dapat menurunkan tingkat
retensi air, yang pada gilirannya mengurangi pembengkakan di sekitar mata.
Untuk
mendapatkan buah mentimun yang baik dan memenuhi permintaan masyarakat, maka
kita harus memperhatikan benihnya. Benih yang akan ditanam harus melewati
proses sertifikasi benih dan pengujian mutu benih. Makalah ini akan membahas
mengenai bagaimana budidaya mentimun serta proses sertifikasi benih dan
pengujian mutu benih.
1.2 Tujuan
1. Untuk
mengetahui budidaya tanaman mentimun
2. Untuk
mengetahui alur pendaftaran sertifikasi benih
3. Untuk
mengetahui pengujian mutu benih
4. Untuk
mengetahui perbandingan produksi benih dari dua jurnal (sumber) yang berbeda.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Dan Morfologi Mentimun
2.1.1
Klasifikasi
Menurut Kuswanto
(2003) klasifikasi mentimun sebagai berikut :
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Cucurbitales
Famili: Cucurbitaceae
Genus: Cucumis
Spesies: C. Sativus
2.1.2
Morfologi
Menurut Rukmana
(1994), perakaran mentimun memiliki akar tunggang dan bulu-bulu akar, tetapi
daya tembus akar relatif dangkal, pada kedalaman sekitar 30-60 cm. Oleh sebab
itu, tanaman mentimun termasuk peka terhadap kekurangan dan kelebihan air. Tanaman
mentimun memiliki batang yang berwarna hijau, berbulu dengan panjang yang bisa
mencapai 1,5 m dan umumnya batang mentimun mengandung air dan lunak.
Mentimun mempunyai sulur dahan berbentuk spiral yang keluar di sisi tangkai
daun. Sulur mentimun adalah batang yang termodifikasi dan ujungnya peka
sentuhan. Bila menyentuh galah sulur akan mulai melingkarinya. Dalam 14 jam
sulur itu telah melekat kuat pada galah/ajir (Sunarjono, 2007).
Daun
mentimun lebar berlekuk menjari dan dangkal, berwarna hijau muda sampai hijau
tua. Daunnya beraroma kurang sedap dan langu, serta berbulu tetapi tidak tajam.
Dan berbentuk bulat lebar dengan bagaian ujung yang meruncing berbentuk
jantung, kedudukan daun pada batang tanaman berselang seling antara satu daun
dengan daun diatasnya (Sumpena, 2001).
Bunga
mentimun berwarna kuning dan berbentuk terompet, tanaman ini berumah satu
artinya, bunga jantan dan bunga betinah terpisah, tetapi masih dalam satu
pohon. Bunga betina mempunyai bakal buah berbentuk lonjong yang membengkak,
sedangkan bunga jantan tidak. Letak bakal buah tersebut di bawah mahkota bunga
(Nurhayati, 1997). Buah mentimun muda berwarna antara hijau, hijau gelap,
hijau muda, hijau keputihan sampai putih, tergantung kultivar yang diusahakan.
Sementara buah mentimun yang sudah tua (untuk produksi benih) berwarna cokelat,
cokelat tua bersisik, kuning tua, dan putih bersisik. Panjang dan diameter buah
mentimun antara 12-25 cm dengan diameter antara 2-5 cm atau tergantung kultivar
yang diusahakan (Sumpena, 2001).
2.2 Budidaya Tanaman Mentimun
Untuk
pertumbuhan yang optimum diperlukan iklim kering, sinar matahari yang cukup
dengan temperatur optimal antara 210C – 300C. Sementara
untuk suhu perkecambahan biji optimal yang dibutuhkan antara 250C
– 350C Kelembapan udara (RH) yang dikehendaki oleh tanaman
mentimun agar hidup dengan baik adalah antara 80-85%. Sementara curah hujan
optimal untuk budidaya mentimun adalah 200-400 mm/bln, curah hujan yang terlalu
tinggi tidak baik untuk pertumbuhan apalagi pada saat berbunga karena akan
mengakibatkan menggugurkan bunga (Sumpena, 2001).
Hasil
penelitian Rachmat dan Gerard (1995), mengatakan syarat tumbuh tanaman mentimun
pada ketinggian ≥ 1000 m dpl, harus menggunakan mulsa plastik perak hitam
karena di ketinggian tersebut suhu tanah ≤ 18o C dan suhu udara ≤ 25o
C. sehingga penggunaan mulsa akan meningkatkan suhu tanah dan di sekitar
tanaman.
2.2
Teknologi
Produksi Benih
2.3.1 Persyaratan Tanah
Mentimun
cocok ditanam di lahan yang jenis tanahnya lempung sampai lempung berpasir yang
gembur dan mengandung bahan organik. Mentimun membutuhkan pH tanah di kisaran
5,5-6,8 dengan ketinggian tempat 100-900 m dpl. Mentimun juga membutuhkan sinar
matahari terbuka, drainase air lancar dan bukan bekas penanaman mentimun dan
familinya seperti melon, semangka, dan waluh. Aspek agronomi penanaman mentimun
tidak berbeda dengan komoditas sayuran komersil lainnya, seperti kecocokan
tanah dan tinggi tempat, serta iklim yang sesuai meliputi suhu, cahaya,
kelembapan dan curah hujan (Wahyudi, 2011). Tanah gembur, banyak
mengandung humus, tata air baik, tanah mudah meresapkan air, pH tanah 6-7.
2.2.2
Isolasi
Menurut Sadjad (1977) untuk tahap penanaman yaitu :
1.
Jarak lubang tanam untuk tipe merambat adalah 20 x 50 cm, 40 x 60 cm, 30 x
40 cm.
2.
Dan jarak tanam tipe tegak adalah 20 x 40 cm dan 30 x 60 cm.
3.
Waktu tanam yang baik adalah awal musim kemarau/awal musim penghujan,
tetapi dapat saja sepanjang musim asal air tanahnya memadai
4.
Benih dimasukkan ke dalam lubang tanam sebanyak 2 biji, tutup dengan tanah
tipis/dengan abu dapur.
Kemudian
untuk tahap pemeliharaan
tanaman menurut Sutopo (2002) antara lain :
1.
Benih akan tumbuh 3-5 hari setelah tanam.
2.
Tanaman yang rusak atau mati dicabut dan segera disulam dengan tanaman yang
baik. Bersihkan gulma (bisa bersama waktu pemupukan).
3. Penyiangan dilakukan pada waktu tanaman berumur
2-3 minggu setelah tanam, tergantung pertumbuhan rumput di kebun.
4. Penyiangan dengan cara mencabut rumput
liar/membersihkan dengan alat kored.
5. Pasang ajir pada 5 hst ( hari setelah tanam )
untuk merambatkan tanaman. Daun yang terlalu lebat dipangkas, dilakukan 3
minggu setelah tanam pada pagi atau sore hari.
6. Pengairan dan Penyiraman rutin dilakukan setiap
pagi dan sore hari dengan cara di siram atau menggenangi lahan selama 15-30
menit. -Selanjutnya pengairan hanya dilakukan jika diperlukan dan diintensifkan
kembali pada masa pembungaan dan pembuahan.
2.2.3
Roguing
2.3.3.1 Definisi Rouging
Salah
satu langka penting yang harus dilakukan dalam kegiatan produksi benih adalah rouging. Yang dimasud dengan rouging adalah proses pemeriksaan
kondisi tanaman dilapangan dan pembuangan tanaman yang tidak dikehendaki, yang
memiliki cirri berbeda yaitu gulma, tanaman species lain, tanaman varietas lain
dalam satu spesies dan tanaman tipe simpang (off type). Tanaman- tanaman ini
disebut sebagai rogues yang tidak dapat diterima kehadirannya di areal usaha
produksi benih karena benihnya akan mengotori produk benih yang akan dipanen
karena ukuran dan bentuknya sangat mirip sehingga tidak dapat dipisahkan atau
dikenali. Adapun tujuan dari dilakukannya rouging dalam produksi benih adalah
untuk menjaga kemurnian varietas yang dibudidayakan (Mugnisyah, 1995).
2.3.3.2
Pelaksanaan Rouging
Rouging
dilakukan beberapa kali pada fase pertumbuhan yang berbeda secara terus menerus
sampai sebelum panen. Rouging sebaiknya dilakukan sepagi mungkin sebelum
matahari terlalu panas agar pengenalan terhadap ciri-ciri kritis yang ada dapat
lebih mudah dilakukan. Waktu terbaik dalam melakukan rouging adalah pada fase
pertanaman berbunga penuh karena pada fase ini sifat-sifat tanaman hamper
ditampilkan sepenuhnya dan perbedaan-perbedaan warna pada bunga akan tampak
nyata. Namun, untuk tanaman menyerbuk silang senaiknya rouging dilakukan pada fase lebih awal yaitu sebelum pembungaan
penuh atau pada saat pembungaan tetapi sebelum serbuk sari matang dan belum
dilepaskan oleh factor penyerbuk (Mugnisyah, 1995).
2.3.3.3
Teknik Pelaksanaan Roguing
Roguing
merupakan pemeriksaan dan pembuangan tanaman-tanaman yang memiliki ciri berbeda
yang dilakukan dilahan produksi benih dengan tujuan untuk menjaga kemurnian
varietas yang diproduksi. Rouging
dilaksanakan terhadap tanaman species lain, tanaman varietas lain, tanaman tipe
simpang, dan gulma berbahaya dengan tujuan menjaga kemurnian benih sehingga
persyaratan benih dapat terpenuhi (Mugnisyah, 1995).
Dalam
produksi benih bersertifikat, rouging
diikuti dengan pemeriksaan lapangan oleh petugas sertifikasi benih. Pemerikasaan
lapangan tersebut dalam pelaksanaannya memerlukan keterampilan dalam membedakan
tanaman-tanaman yang mempunyai ciri yang berbeda dengan tanaman yang sedang
diproduksi.
2.2.4
Panen
dan pascapanen
2.3.4.1 Panen
·
Ciri dan Umur Panen
Buah mentimun muda
lokal untuk sayuran, asinan atau acar umumnya dipetik 2-3 bulan setelah tanam,
mentimun hibrida dipanen 42 hari setelah tanam Mentimun Suri dipanen setelah
matang (Sumpena,
2001).
·
Cara Panen
Buah dipanen di pagi
hari sebelum jam 9.00 dengan cara memotong tangkai buah dengan pisau tajam (Sumpena,
2001).
·
Periode Panen
Mentimun sayur dipanen
5 - 10 hari sekali tergantung dari varitas dan ukuran/umur buah yang
dikehendaki (Sumpena, 2001).
2.3.4.2
Pasca
panen
Pasca panen,
mentimun mudah mengalami kehilangan kandungan air setelah panen sehingga buah
menjadi keriput dan tidak tahan lama. Oleh sebab itu setelah panen mentimun
disimpan ditempat sejuk. Sebaiknya disimpan pada wadah yang berlobang agar
sirkulasi udara lancar.
2.4
Penyimpanan
Benih
Perlakuan yang terbaik pada benih ialah menanam benih atau disemaikan
segera setelah benih-benih itu dikumpulkan atau dipanen, jadi mengikuti
cara-cara alamiah, namun hal ini tidak selalu mungkin karena musim berbuah
tidak selalu sama, untuk itu penyimpanan benih perlu dilakukan untuk menjamin
ketersediaan benih saat musim tanam tiba.
2.4.1 Tujuan penyimpanan
·
menjaga biji
agar tetap dalam keadaan baik (daya kecambah tetap tinggi)
·
melindungi biji
dari serangan hama dan jamur.
·
mencukupi
persediaan biji selama musim berbuah tidak dapat mencukupi kebutuhan.
Ada dua faktor yang penting selama penyimpanan benih yaitu, suhu dan
kelembaban udara. Umumnya benih dapat dipertahankan tetap baik dalam jangka
waktu yang cukup lama, bila suhu dan kelembaban udara dapat dijaga maka mutu benih
dapat terjaga. Untuk itu perlu runag khusus untuk penyimpanan benih.
2.4.2 Untuk benih ortodoks
Benih ortodoks dapat disimpan lama pada kadar air 6-10% atau dibawahnya.
Penyimpanan dapat dilakukan dengan menggunakan wadah seperti : karung kain,
toples kaca/ plastik, plastik, laleng, dll. Setelah itu benih dapat di simpan
pada suhu kamar atau pada temperature rendah “cold storage” umumnya pada
suhu 2-5oC.
2.4.3 Untuk benih rekalsitran
Benih rekalsitran mempunyai kadar
air tinggi, untuk itu dalam penyimpanan kadar air benih perlu dipertahankan
selama penyimpanan. Penyimpanan dapat menggunakan serbuk gergaji atau serbuk
arang. Caranya yaitu dengan memasukkan benih kedalam serbuk gergaji atau arang.
III.
METODOLOGI
3.1
Alat,
Bahan dan Fungsi
Alat Praktikum
·
Cangkul : Untuk pengolahan tanah
·
Ajir : Untuk membuat lubang pada tanah
·
Botol :
Untuk mengisi air
·
Kayu lancip : Untuk melubangkan tanah supaya dapat diisi benih
·
Tali rafia : Untuk mengukur jarak tanam
Bahan Praktikum
·
Benih Mentimun : Sebagai bahan tanam percobaan yang diamati
·
Pupuk :
Sebagai bahan penambah unsur hara dalam tanah
·
Air :
Sebagai bahan untuk mengairi lahan
3.2
Keterangan
Lahan
3.2.1
Ketinggian
Tempat
Pada
praktikum kali ini, kami menggunakan lahan praktikum percobaan di daerah Fakultas Pertanian,
Universitas Brawijaya yang
berada pada ketinggian ±545
mdpl. Ketinggian tersebut cukup cocok jika digunakan untuk budidaya mentimun karena mentimun dapat tumbuh di ketinggian
1-1000 mdpl.
3.2.2
Sejarah
Penggunaan Lahan
Sejarah
penggunaan lahan yang kami
gunakan untuk praktikum
roguing adalah lahan yang
berada di kebun percobaan praktikum Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya. Lahan tersebut telah digunakan untuk beberapa praktikum dalam mata kuliah yang berbeda
yang berhubungan dengan tanam menaman. Di
dalam penggunaannya lahan
tersebut pernah digunakan untuk menanam tanaman palawija, seperti jagung, padi, kacang-kacangan, dan
beberapa tanaman lain. Jadi dapat diketahui bahwa lahan tersebut melalui proses rotasi tanah karena penggunaan lahan tersebut
tidak monokultur satu tanaman saja melainkan digunakan untuk
berbagai macam tanaman.
3.3
Waktu
Pelaksanaan
Untuk pelaksanaan
praktikum ini dilaksanakan selama ± 5 minggu dimulai dari tanggal
27 April 2013. Terdapat lima sampel tanaman yang masing-masing sampel diberi
label dan pengamatan pertama dilakukan selama 7 hst dengan dokumentasi tiap
sampel.
IV.
HASIL DAN
PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
Tabel 1: Pengamatan Tanaman
|
Parameter
|
Sampel Tanaman Ke-
|
||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
|
|
A. Fase Vegetative
- Tinggi Tanaman (cm)
- Jumlah Daun (buah)
- Jumlah Cabang (buah)
|
|
|
|
|
|
|
137cm
|
-
|
97cm
|
143cm
|
78cm
|
|
|
9
|
-
|
5
|
9
|
6
|
|
|
12
|
-
|
9
|
15
|
8
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
B. Fase Genetarive
- Awal Berbunga (hst)
- Berbunga 50% (hst)
- Berbunga 75% (hst)
- Jumlah bunga per tanaman
- Jumlah polong per tanaman
- Produksi buah/biji per petak
|
|
|
|
|
|
|
7
|
14
|
7
|
7
|
7
|
|
|
14
|
mati
|
14
|
14
|
14
|
|
|
28
|
mati
|
28
|
28
|
28
|
|
|
6
|
-
|
5
|
7
|
4
|
|
|
-
2
|
-
-
|
-
1
|
-
3
|
-
1
|
|
Tabel 2: Pengamatan Roguing
|
Parameter
|
Hasil rouguing
|
Jumlah Tanaman Off Type
|
Jumlah Tanaman Volunter
|
|
Bentuk dan warna daun
|
Menjari-Hijau
muda
|
-
|
|
|
Warna bunga
|
Putih
kekuningan
|
-
|
|
|
Bentuk dan warna buah
|
Lonjong-hijau
kecil
|
-
|
|
|
Waktu berbungan
|
|
|
|
4.2
Pembahasan Dibandingkan Literatur
4.2.1 Pembahasan
4.2.1.1 Fase Vegetatif
Dari praktikum yang telah kami lakukan didapatkan hasil bahwa pada fase vegetatif tinggi tanaman pada sampel pertama yaitu 137 cm dengan jumlah daun 9 buah dan jumlah cabang 12
buah. Kemudian untuk sampel kedua tanaman
ternyata mati, sehingga tidak ada data mengenai tinggi tanaman, jumlah daun,
dan jumlah cabang. Kemudian pada sampel tanaman
ketiga tinggi tanaman yaitu 97 cm dengan
jumlah daun 5 buah dan jumlah cabang 15 buah.
Lalu untuk sampel tanaman kelima tinggi tanaman yaitu sebesar 78 cm dengan jumlah daun 6 buah
dan jumlah cabang 8 buah.
4.2.1.2
Fase Generatif
Kemudian pada fase selanjutnya yaitu pengamatan fase generative.
Untuk sampel
pertama tanaman awal berbunga pada 7
hari setelah tanam, kemudian tanaman menunjukkan berbunga 50% pada 14 hari setelah
tanam, tanaman manunjukkan berbunga 75% pada
28 hari setelah tanam serta jumlah bunga per tanaman yaitu 6 bunga dan terlihat
produksi
buah.biji per petak adalah sebanyak 2
buah.
Pada sampel kedua tanaman terlihat tanaman awal berbunga pada 14 hari setelah tanam namun kemudian tanaman mai, sehinggatidak ada data
untuk berbunga 50%, berbunga 75%, mumlah bunga dan produksi buah per tanaman.
Pada sampel tanaman ketiga tanaman menunjukkan awal berbunga pada 7 hari setelah
tanam, kemudian menunjukkan berbunga 50% pada 14 hari setelah tanam, selanjutnya tanaman menunjukkan
berbunga
75% pada 28 hari setelah tanam, untuk jumlah bunga per tanaman yaitu sebanyak 5 bunga dan produksi buah.biji
per petak yaitu sebanyak 1 buah. Pada sampel tanaman
keempat
tanaman menunjukkan awal berbunga pada 7 hari setelah tanam kemudian menunjukkan berbunga 50% pada 14 hari setelah tanam, kemudian tanaman menunjukkan
berbunga
75% pada 28 hari setelah tanam, serta
menunjukkan jumlah bunga per tanaman sebanyak
7
bunga dan produksi buah.biji per petak adalah sebanyak 3 buah. Pada sampel tanaman
kelima tanaman menunjukkan
awal berbunga
pada 7 hari setelah tanam kemudian menunjukkan
berbunga
50% pada 14 hari setelah tanam, kemudian tanaman menunjukkan berbunga 75% pada 28 hari setelah tanam serta jumlah
bunga per tanaman yaitu sebanyak 4 bunga dan produksi
buah.biji per petak yaitu sebanyak 1 buah.
4.2.1.3
Pengamatan Rouging
Pada saat pengamatan
rouging disebutkan beberapa parameter yaitu bentuk dan warna daun, warna bunga,
bentuk dan warna buah, dan waktu berbungaan. Dari pengamatan rouging yang dilakukan didapatkan bentuk menjari dan berwarna hijau muda
dengan jumlah tanaman volunteer 4 tanaman gulma/tanaman, untuk bunganya yaitu
berwarna putih kekuningan
serta buah berbentuk lonjong
dan warna buah hijau kecil.
Dalam perbandingan
dengan literatur menurut Sutedjo (1997) untuk memperoleh hasil yang memuaskan
maka dalam membudidayakan mentimun memerlukan pemeliharaan yang intensif.
Kegiatan pemeliharaan mentimun antara lain pemangkasan, pemasangan ajir
penopang, pengikatan tanaman, sanitasi, pengairan, pemupukan dan pengendalian
hama dan penyakit. Masalah pemupukan, pengendalian hama dan penyakit dibahas
tersendiri.
·
Pemangkasan (Prunning) Cabang
Jika
banyak percabangan yang tumbuh dari ketiak daun, lakukan pemangkasan. Pilih dua
atau tiga cabang produktif yang tumbuh paling besar dan sehat. Dari cabang yang
tidak terpilih, pangkas bagian pucuknya saja-tidak dari pangkal. Tujuannya agar
memberi kesempatan kepada akar untuk tumbuh luas dan persiapan untuk
perkembangan produktif.
·
Pemasangan Ajir Penopang
Fitrah tanaman mentimun sebenarnya menjalar di
permukaan tanah. Namun, karena menginginkan permukaan kulit buahnya mulus
dengan warna yang tidak belang, maka diperlukan ajir penopang agar buah
mentimun menggantung. Lakukan pemasangan ajir ketika tanaman berumur 3-7 HST
agar tidak melukai akarnya. Siapkan ajir dari bilah bambu dengan panjang
225-250 cm dan lebar 3-4 cm. Tancapkan ajir di samping tanaman, sekitar 7-10 cm
dari pangkal tanaman, dengan posisi miring ke dalam bedengan hingga bersilang
di bagian ujung ajir tanaman di depannya. Di titik persilangan diberi galar
bilah bambu yang menghubungkan persilangan satu dengan yang lainnya di
sepanjang bedengan. Setelah itu, ikat menggunakan tali rafia tepat di titik
persilangan ajir agar lebih kokoh.
·
Pengikatan Tanaman
Agar
tanaman mentimun merambat di ajir, ikatkan tanaman pada ajir dengan menggunakan
tali rafia. Lakukan pengikatan ini bersamaan dengan pertumbuhan tanaman ke atas,
setiap 25-30 cm panjang batang.
·
Penyiangan
Salah
satu penghambat produksi mentimun adalah adanya penyakit yang lebih dominan
daripada hama. Karena itu, lakukan penyiangan rumput dan gulma di sekitas
tanaman secara ruti terutama jika teknik penanaman tanpa menggunakan mulsa
plastik hitam pera untuk mencegah perkembangan penyakit. Gulma ini sangat
merugikan tanaman karena menghambat pertumbuhan tanaman. Gulma merupakan
pesaing bagi tanaman dalam memperoleh cahaya, udara dan air. Penyiangan
dilakukan dengan cara mencabut gulma, dapat juga menggunakan alat bantu kored
tetapi harus berhati-hati agar tidak mengganggu akar tanaman.
·
Pengairan
Karena
tanaman mentimun menghasilkan buah dari batang bagian bawah sampai ke atas,
maka diperlukan kondisi tanah yang lembab stabil. Karena itu, lakukan
penyiraman secara teratur, terutama pada musim kemarau, untuk menciptakan
kelembaban tanah yang ideal. Jika keadaan tanah kurang lembab, tanah perlu
diairi,pengairan dilakukan sekedar untuk membasahi tanah. Pengairan dan penyiraman
dilakukan setiap pagi dan sore, dengan menggenangi lahan selama 15-30 menit.
Waktu pemberian air dilakukan sewaktu tanaman berkecambah yaitu, umur 0-4 hari,
awal pertumbuhan vegetatif (pertumbuhan batan dan daun) ± umur 15-20
hari.Selanjutnya pengairan hanya dilakukan jika diperlukan dan diintensifkan
kembali pada masa pembungaan dan pembuahan. Sebaliknya, perakaran mentimun sangat sensitif
terhadap kelembapan tanah yang terlalu tinggi. Karena itu, lakukan perbaikan
saluran drainase ketika penanamannya dilakukan pada musim hujan. Tujuannya,
agar air hujan tidak sempat menggenang di dalam selokan
4.2.2 Kondisi Lapang (alasan berhasil /
tidak berhasil)
Pada praktikum budidaya mentimun ini dapat dikatakan
80% berhasil dan 20% faktor-faktor penghambat yang menyebabkan beberapa tanaman
sampel mati dan tidak berbuah dengan baik. Dikatakan 80% berhasil
karena dalam budidaya timun ini masih dapat menghasilkan 7 buah timun yang menjadi
dalah satu indikator
keberhasilan. Sedangkan dikatakan 20% faktor penghambat hal ini
dikarenakan oleh beberapa faktor antara lain faktor iklim yang tidak menentu,
seperti adanya hujan yang datang dalam satu hari penuh, maka tanaman akan
kekurangan cahaya, sehingga tidak dapat bermetabolisme dengan optimal serta pada proses rouging tidak terjadi
peningkatan produksi mentimun
yang terjadi. Sedangkan untuk syarat tumbuh optimum mentimun yang diperlukan
pada iklim kering, sinar matahari yang cukup dengan temperatur optimal antara
210C – 300C. Sementara untuk suhu perkecambahan biji
optimal yang dibutuhkan antara 250C – 350C. Kelembapan
udara (RH) yang dikehendaki oleh tanaman mentimun agar hidup dengan baik adalah
antara 80-85%. Sementara curah hujan optimal untuk budidaya mentimun adalah
200-400 mm/bln, curah hujan yang terlalu tinggi tidak baik untuk pertumbuhan
apalagi pada saat berbunga karena akan mengakibatkan menggugurkan bunga
(Sumpena, 2001). Apabila syarat tersebut cukup dipenuhi untuk budidaya mentimun,
maka bisa diperkirakan mentimun dapat tumbuh dengan baik.
V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada praktikum
Teknologi Produksi Benih kali ini kamimelakukan penanaman buah mentimun yang dilaksanakan selama ± 5 minggu dimulai dari tanggal
27 April 2013. Terdapat lima sampel tanaman yang masing-masing sampel diberi
label dan pengamatan pertama dilakukan selama 7 hst dengan dokumentasi tiap
sampel. Pada
praktikum budidaya mentimun ini dapat dikatakan 80% berhasil dan 20%
faktor-faktor penghambat yang menyebabkan beberapa tanaman sampel mati dan
tidak berbuah dengan baik. Dikatakan
80%
berhasil karena dalam
budidaya timun ini masih dapat menghasilkan 7 buah timun yang menjadi dalah
satu indikator
keberhasilan. Sedangkan dikatakan 20% faktor penghambat hal ini
dikarenakan oleh beberapa faktor antara lain faktor iklim yang tidak menentu,
seperti adanya hujan yang datang dalam satu hari penuh, maka tanaman akan
kekurangan cahaya, sehingga tidak dapat bermetabolisme dengan optimal serta pada proses rouging tidak terjadi peningkatan produksi
mentimun yang terjadi.Bisa dikatakan berhasil dan bisa
dikatakan gagal,
yang mana dikarenakan
adanya 7
timun yang tumbuh dengan baik tetapi tanaman lainnya mati.
Kami juga
melakukan rouging pada
pengamatan budidaya mentimun dengan
tujuan untuk meningkatkan produksi dari tanaman timun dengan cara memotong
beberapa bagian dari tanaman timun. Tetapi hasil dari tanaman timun ini tidak terlalu berpengaruh akibat
dilakukannya rouging ini. Dari
pengamatan rouging yang
dilakukan didapatkan bentuk menjari dan berwarna hijau muda dengan jumlah tanaman
volunteer 4 tanaman gulma/tanaman, untuk bunganya yaitu
berwarna putih kekuningan
serta buah berbentuk lonjong dan warna buah hijau kecil.
5.2 Saran
Seharusnya
diberikan pembagian jadwal kepada praktikan untuk pengamatan, perawatan, serta
dokumentasi tiap minggunya, sehingga setiap praktikan dapat bertanggung jawab
terhadap tanaman yang mereka amati dan data untuk pembuatan laporan dapat
dikumpulkan dengan mudah.
DAFTAR PUSTAKA
Kuswanto, Hendarto.
2003, Teknologi Pemprosesan, Pengemasan dan Penyimpanan Benih. Yogyakarta:
Kanisius
Mugnisyah,
WQ dan Aseo Setiawan. 1995. “Pengantar Produksi Benih . Raja Gravindo Persada.
Jakarta
Nurhayati,
K. 1997. Pengaruh Ukuran dan Saat perkahan Buah Pada Proses Ekstraksi terhadap
Perkecambahan dan Pertumbuahan Semai Khaya anthoteca C.DC. Skrpisi. Bogor.
Jurusan Manajeman Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Rachmat, S.
dan Geraad Grubben. 1995. Pedoman Bertanam Sayuran Dataran Rendah. Prosea
Indonesia dan Balai Penelitian Hortikultura. Universitas Gadja Mada. Hal,
102-104.
Reijntjes,
C, B. Haverkorb, A. Waters-Bayers. 1999. Pertanian
Masa Depan. Kanisius. Yogyakarta. Hal, 44-45.
Rukmana, R.
1994. Budidaya Mentimun. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Hal, 5-8.
Sadjad. S.
1977. Catatan Sejarah Tentang
Pengembangan Mutu Benih. Vol. 2. Penataran Latihan Pola Beranam, LP3
IRRI, Bogor. Hal, 1-12.
Sugito, J.
1992. Sayur Komersial. Penebar
Swadaya. Jakarta. Hal, 106-112.
Sumpena, U.
2001. Budidaya Mentimun Intensif dengan
Mulsa Secara Tumpang Gilir. Penebar Swadaya. Jakarta. Hal, 1-46.
Sumpena, Rinda Kirana Dan Ahsol Hasyim, 2011. Produksi Benih Calon Varietas Mentimun Hibrida Untuk Persiapan Pelepasan Varietas, Subang
Sumpena, Rinda Kirana dan Ahsol Hasjim, 2011. Produksi Benih Sumber Mentimun
Varietas Mars, Laboratorium
BALITSA, Subang
Sunarjono,
H, H. 2007. Bertanam 30 Jenis Sayur.
Penebar Swadaya. Jakarta. Hal, 109-114.
Sutedjo, M,
M dan Kartasas Poetra A, G. 1997. Pupuk
dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta Buana. Bandung. Hal, 14-15.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar