Total Tayangan Halaman

Senin, 30 Desember 2013

PEMILIHAN / PRODUKSI BENIH KOPI BEBAS PENYAKIT





I.       PRODUKSI BENIH KOPI BEBAS PENYAKIT
Dalam rangka bercocok tanam kopi, selain memperhatikan keadaan iklim serta jenis dan varietas yang akan ditanam, juga harus diperhatikan pekerjaanpekerjaan yang akan dilaksanakan, seperti:
A.    Pembibitan Tanaman Kopi
Bibit yang akan ditanam dapat berasal dari : (1) Biji (zaaling), pembiakan secara genertaif, (2) Sambungan atau stek, pembiakan secara vegetatif, (3) Pembiakan bibit tanaman kopi dari kultur jaringan.
1.      Cara memperoleh biji kopi
·     Dari kebun sendiri, biji diambil dari pohon yang telah diketahui mutunya. Pohon induk yang produksinya cukup tinggi, tahan terhadap nematoda, bubuk buah maupun bubuk batang, atau dengan kata lain yang tahan terhadap hama dan penyakit.
·Balai penelitian perkebunan, bersumber dari kebun percobaan yang menghasilkan biji telah teruji keunggulannya.
2.      Cara memilih dan memelihara biji kopi
Buah yang dipungut adalah yang masak, kemudian dipilih yang baik, tidak cacat dan yang besarnya normal. Jika biji ini tidak memenuhi syarat harus disingkirkan. Semua buah/biji kopi yang memenuhi syarat kemudian dikerjakan sebagai berikut:
·    Biji dikelupas kulitnya, dinjakinjak dengan kaki, tetapi kulit tanduk tidak sampai lepas.
·    Lendir yang melekat dibersihkan, dengan jalan dicuci atau digosok permukaannya dengan abu dapur.
·    Setelah bersih biji dikering anginkan satu atau dua hari, tidak langsung terkena sinar matahari, melainkan kering angin.
·    Bijibiji yang sudah kering, selanjutnya diadakan pemilihan yang kedua kalinya. Jika biji kopi itu hampa dan bentuknya jelek, harus disortasi, tidak perlu disemai.
3.      Cara menyimpan biji kopi
Bijibiji kopi yang telah dipilih dalam keadaan kering dapat terus disemaikan. Untuk menungggu musim persemaian yang tepat, biji dapat disimpan untuk sementara waktu. Dan untuk menghindari terjadinya serangan hama bubuk atau untuk mematikan bubuk yang mungkin ada, maka bijibiji kopi tersebut bisa dimasukkan dalam peti dengan jalan:
·         Pada dasar peti diberi lapisan kain yang diberi minyak terpentin dengan dosis 1 cc / 100 cm2. Dan di atas kain pada lapisan biji setebal 5 cm, diberi kain lagi yang diberi minyak terpentin pula, demikian seterusnya sehingga peti itu penuh.
·         Bila peti itu sudah penuh, kemudian ditutup rapatrapat dan dibiarkan selama 3 hari 3 malam agar semua hama mati karenanya.
·         Kalau penyimpanan itu berlangsung agak lama, maka biji tersebut perlu dicampur dengan bubuk arang yang dibasahi dengan air, dengan perbandingan 1 kg bubuk arang : 150 cc air.
·         Perbandingan antara biji dan bubuk arang yakni 3:1. Atau 3 kg biji dicampur 1 kg bubuk arang yang telah dibasahi tadi.
4.      Lamanya penyimpanan biji kopi
Penyimpanan biji tidak boleh terlalu lama, sebab jika terlalu lama daya tumbuhnya akan menurun atau akan habis sama sekali. Bijibiji kopi yang baru kemungkinan tumbuh 90 100%, sedang yang disimpan sekitar 6 bulan daya tumbuhnya 60 70%. Sebaiknya penyimpanannya jangan sampai lebih dari 3 bulan, dan yang paling baik ialah bila penyimpanan itu dilakukan sekitar dua bulan. Penyimpanan dimasukkan ke dalam ruangan yang gelap dan sejuk.

B.     Persemaian Biji Kopi
Persyaratan tempat persemaian biji kopi, sebagai berikut:
  • Tanah sedapat mungkin dipilih yang agak datar, subur, dan banyak mengandung bunga tanah.
  • Dekat perumahan dan sumber air, agar memudahkan pengamatan dan pemeliharaan pada musim kemarau, terutama dalam melakukan penyiraman.
  • Ada pohon pelindung, agar dapat menahan terik matahari dan percikan air hujan yang lebat, sehingga tidak merusakkan bibit.
  • Terhindar dari bibit penyakit dan hama, tempattempat yang akan dipergunakan sebagai persemaian sebaiknya diselidiki terlebih dahulu terhadap kemungkinan adanya infeksi penyakit dan hama. Sehingga apabila ada bibit penyakit atau hama harus diadakan pencegahan dan pemberantasan.
  • Semprotkan larutan MiG6PLUS ( 10ml MiG6PLUS : 1 liter air) tipis pada permukaan lahan persemaian. Untuk lahan persemaian dengan luas 10 m2.

C.    Pengendalian Hama Dan Penyakit
Hama utama kopi yang dapat menurunkan produksi  dan mutu kopi adalah: penggerek buah kopi oleh Hypothenemus hampei Ferr. Gejala serangannya dapat terjadi pada buah kopi yang muda maupun tua (masak), buah gugur mencapai 7-14% atau perkembangan buah menjadi tidak normal dan busuk.  Penyakit ini dapat dikendalikan dengan cara:
·         Petik semua buah yang masak awal (baik pada buah yang terserang maupun tidak), biasanya dilakukan pada 15-30 hari menjelang panen raya.  Untuk mencegah terbangnya  hama, pada saat menampung buah digunakan kantong yang tertutup, kemudian buah direndam dalam air panas selama sekitar 5 menit.
·         Lakukan lelesan, yaitu dengan mengumpulkan semua buah yang jatuh di tanah untuk menghilangkan sumber makanan bagi hama.
·         Dilakukan racutan/rampasan, yaitu memetik semua buah yang telah berukuran 5mm yang masih ada di pohon sampai akhir panen (hal ini untuk memutus daur hidup hama).
·         Lakukan pemangkasan terhadap tanaman pelindung agar kondisi lingkungan tidak terlalu gelap.
·         Bisa juga dilakukan penyemprotan dengan agensia hayati, yaitu dengan pemanfaatan jamur Beauvaria bassiana dengan dosis 2,5 kg bahan padat per ha setiap kali aplikasi.

Dalam satu periode panen kopi dapat dilakukan 3 kali aplikasi. Penyakit pada tanaman kopi terutama disebabkan oleh nematoda parasit Pratylencus coffeae yang dapat menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, kurus, batang mengecil, daun tampak tua menguning dan gugur sehinggadaun yang tertinggal adalah yang diujung-ujung cabang.  Pada serangan berat, pucuk akan mati, bunga dan buah prematur.  Jika serangan sudah terjadi dari dalam tanah, tanaman akan  mudah dicabut karena akar-akar serabutnya membusuk berwarna coklat sampai hitam. Teknik pengendalian penyakit ini sbb:
·         Dilakukan dengan menyemprot tanaman menggunakan nematisida (Oksamail, Etoprofos dan Karbofuran) terhadap tanaman yang terserang dalam kategori ringan.
·         Pemusnahan tanaman terserang pada pusat-pusat serangan, dilakukan jika serangan yang menyebabkan penyakit yang berat.
Pencegahan
a. Memperbaiki kondisi tanaman kopi, dengan cara:
·    Pada musim hujan naungan tidak boleh terlalu gelap.
·    Memperbaiki pengolahan tanah, pemupukan, pencegahan nematoda dan penyakit akar. Bila kondisi tanaman kopi kuat, cabang yang digerek akan sembuh kembali.
b. Menghemat perkembangan cendawan
·    Pada musim penghujan naungan harus dikurangi.
c. Memusnahkan sumber infeksi
·    Cabang-cabang yang terserang dan kering dipotong, dikumpulkan kemudian dibakar.
·    Jangan menggunakan pohon pelindung yang merupakan tanaman inang dari bubuk cabang, misalnya Crotalaria, kelapa sawit, mahoni dan lainnya.
D.    Panen
Tanaman kopi dikenal sebagai tanaman yang masa pembungaannya tidak serentak, terdiri dari 3-4 kali dalam setahun yang dikenal dengan istilah pembungaan pendahuluan, pembungaan pertengahan (besar), dan pembungaan akhir. Sebahagian dari tanaman ini ada yang berbunga sepanjang tahun, hal ini sangat tergantung pada iklim dan jenisnya. Ketidak serentakan masa pembungaan mengakibatkan masa panen kopi tidak serentak, yaitu ada panen pendahuluan, panen utama (besar) dan panen akhir.
Karena masa pembungaan dipengaruhi oleh iklim dan jenis kopi, maka masa panen kopi juga dipengaruhi oleh kedua faktor tersebut. Apabila jenis kopi yang ditanam adalah jenis robusta maka waktu panen dapat dilakukan dalam waktu 8-11 bulan setelah pembungaan. Sedangkan untuk jenis kopi Arabika dapat dipanen dalam waktu 6-8 bulan setelah pembungaan. Ketepatan waktu panen sangat berpengaruh terhadap mutu kopi yang  dihasilkan. Oleh sebab itu kopi harus dipanen pada tingkat kematangan yang tepat. Tingkat kematangan yang tepat dapat di tandai dengan buah yang telah berwarna merah terang.     

E.     Pemungutan Hasil / Panen
Untuk memperoleh mutu kopi yang diinginkan maka perlu dilakukan pemungutan hasil secara benar. Pemungutan hasil pada buah kopi dapat dibagi dalam 4 cara:
1. Secara selektif.
·         Buah kopi yang dipetik hanya buah yang betul-betul masak.
·         Buah yang masih hijau tidak ikut dipetik tetapi dibiarkan 1-2 minggu pada pemetikan berikutnya.
·         Dengan cara ini akan diperoleh buah kopi yang bermutu tinggi.
2. Secara setengah selektif.
·         Pemetikan dilakukan terhadap dompolan yang sebagian besar buahnya yang sudah masak.
·         Selanjutnya pemetikan dilakukan terhadap buah masak pada dompolan lain.
3. Secara lelesan.
·         Pemungutan pada buah kopi yang sudah terlalu tua. Hal ini karena lambat dipetik sehingga buah jatuh dengan sendirinyadan biasanya sudah kering.
·         Buah kopi seperti ini biasanya mutunya sudah kurang baik.
4. Secara Rajutan.
·         Pemetikan dilakukan terhadap semua buah kopi termasuk yang masih hijau.
·         Pemetikan seperti ini biasanya dilakukan pada panen terakhir.


II.  PEMILIHAN BENIH BEBAS PENYAKIT
Untuk memilih benih kopi yang bebas penyakit atau benih yang memiliki kualitas bermutu baik maka kita perlu memperhatikan :
a.       Kemasan  yang ada pada benih kopi terdapat label dan jenis mutu yang jelas dari produsen.
b.      Terdapat ketentuan Standar Nasional Indonesia (SNI 01-2907-1999) pada kemasan.
c.       Mengetahui standarisasi mutu dari benih yang meliputi : definisi, klasifikasi, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan, cara pengemasan.







DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian. 2006. Statistik Perkebunan Indonesia 2003 – 2005 (Kopi), Jakarta
Hulupi, R. 1999,  Bahan Tanaman Kopi yang Sesuai untuk Kondisi Agroklimat di Indonesia.  Warta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao.  Jember. Vol 15 (I) 64 – 85
Nasriati, 2006. Analisis Usahatani Kopi Pada Sistem Usahatani Konservasi Lahan Kering Berbasis Tanaman Kopi Di Kabupaten Lampung Barat. Laporan Tahunan BPTP Lampung. Bandar Lampung
Randi Sumitro, 2006. Kebijakan Pengembangan Industri Pengolahan dan Pemasaran Kopi. Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Departemen Pertanian. Jakarta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar