EKSTRAKSI
BENIH
Ekstraksi
benih merupakan prosedur pelepasan dan pemisahan benih secara fisik dari
struktur buah yang menutupinya. Dengan kata lain, ekstraksi dilakukan untuk
mengeluarkan biji dari buah/polongnya.
Tujuan ekstraksi benih adalah : (1) Mengurangi campuran. Benih biasanya merupakan 1-5% dari total volume buah. Pengurangan campuran dapat membantu mengurangi biaya penyimpanan dan pengangkutan, (2) Mudah penanganannya. Benih umumnya diuji, diberi perlakuan pendahuluan dan ditanam secara individual, sehingga perlu pemisahan benih dari buahnya, (3) Meningkatkan kemampuan penyimpanan.
Tujuan ekstraksi benih adalah : (1) Mengurangi campuran. Benih biasanya merupakan 1-5% dari total volume buah. Pengurangan campuran dapat membantu mengurangi biaya penyimpanan dan pengangkutan, (2) Mudah penanganannya. Benih umumnya diuji, diberi perlakuan pendahuluan dan ditanam secara individual, sehingga perlu pemisahan benih dari buahnya, (3) Meningkatkan kemampuan penyimpanan.
Berikut
ini merupakan beberapa definisi Ekstraksi :
1. Menurut
Kuswanto (2003) ekstraksi merupakan kegiatan yang bertujuan untuk memisahkan
benih dari buah.
2. Menurut
Kamil (1982) ekstraksi merupakan pemisahan biji dari daging buah, kulit benih,
polong, kulit buah, malai, tongkol dan sebagainya dengan tujuan agar benih
tersebut dapat digunakan untuk bahan tanam yang memenuhi persyaratan.
3. Menurut
Nurhayati (1997) ekstraksi merupakan proses pengeluaran benih dari buah,
polong, kerucut, kapsul atau bahan pembungkus benih lainnya.
Kuswanto (2003) menyatakan bahwa berdasarkan proses
ekstraksi ini buah dan polong dapat digolongkan menurut cara mengekstraksinya,
antara lain:
|
Cone dan
polong
|
Buah polong dikeringkan sampai pada tingkat kadar
air tertentu dimana buah polong tersebut mulai terbuka. Setelah terbuka
bijinya diambil dengan menggunakan tangan atau mesin khusus. Kerusakan mesin
dapat dengan mudah menimbulkan kerusakan pada benih apabila terjadi terlalu
banyak benturan dan getaran. Setiap famili pohon (families) dapat
berbeda dalam hal kadar air cone dan ketebalan dan struktur lapisan benih,
dan ekstraksi standar dapat juga mempengaruhi famili pohon (families)
tersebut secara berbeda.
|
|
Buah kering
|
Beberapa jenis buah akan terbuka dengan sendirinya
apabila dikeringkan khususnya apabila buah tersebut dipetik pada saat yang
tepat, bukan sebelum waktunya dan apalagi dengan pengeringan terlalu cepat.
Beberapa benih dapat diperoleh melalui gosokan ringan atau rontok, sedangkan
lainnya memerlukan bantuan mesin. Proses seperti ini dapat mengakibatkan
kerusakan pada benih apabila tidak dilakukan dengan teliti.
|
|
Buah Berdaging
|
Pada buah berdaging sebelum benih dipisahkan atau
diekstraksi, buahnya dapat dikeringkan terlebih dahulu setelah buah masak.
Tanaman yang termasuk dalam tipe ini adalah tanaman cabai, oyong, okra dan
paria.
|
|
Buah Berdaging dan Berair
|
Buah tipe ini, disamping berdaging
juga berair misalnya ketimun, sehingga pada saat benih masak fisiologis
maupun masak morfologis kandungan air benih masih sangat tinggi dan benih
diselaputi oleh lendir dan saling melekat pada runag-ruang tempat biji
tersususn yang mengandung bahan yang bersifat inhibitor. Dengan demikian,
sebelum benih dikeringkan lendir yang ada harus dihilangkan terlebih dahulu
menggunakan zat kimia yaitu dengan difermentasikan terlebih dahulu, kemudian
benih dicuci dengan air hingga bersih dan bebas dari lendir.
|
METODE
EKSTRAKSI
1.
METODE EKSTRAKSI
BASAH
Ekstraksi
basah dilakukan terhadap jenis-jenis yang memiliki daging buah yang basah
seperti buah mentimun, buah melon, buah tomat, dsb.
|
Fermentasi
|
Benih yang telah dipisahkan dari
daging buahnya, dimasukkan ke dalam wadah dan apabila perlu ditambah dengan sedikit
air, wadah ditutup dan disimpan selama beberapa hari. Adapun wadah yang
digunakan untuk fermentasi benih dipilih wadah yang tidak korosif terhadap
asam, misalnya terbuat dari logam stainless steel, kayu ataupun plastic. Lama
fermentasi tergantung pada tinggi rendahnya suhu selama fermentasi. Apabila
fermentasi dilakukan pada temperature 240 C-270 C maka
diperlukan waktu 1-2 hari, sedangkan apabila digunakan temperature 150 C-220C,
dbutuhkan waktu 3-6 hari., tergantung pada jenis benih yang difermentasikan.
Selama fermentasi bubur (pulp) perlu diaduk guna memisahkan benih dari massa
pulp dan mencegah timbulnya cendawan. Setelah fermentasi selesai, bisanya
benih akan tenggelam ke dasar wadah untuk memudahkan pemisahan benih dari
massa pulp perlu ditambahkan air agar pulp menjadi encer. Setelah benih
difermentasi benih dicuci dengan air bersih hingga semua zat penghambat
hilang, yang ditandai dengan permukaan benih yang sudah tidak licin.
Selanjutnya benih tersebut dikering anginkan pada suhu 310 C hingga
diperoeh kadar air tertentu sesuai dengan peraturan yang aman bagi
penyimpanan (Pitojo,
2005).
|
|
Mekanis
|
Pada usaha skala besar, pemisahan benih dari daging buahnya akan
kurang efisien jika menggunakan tenaga manual. Proses pembijian dilakukan
dengan menggunakan mesin (seed extraction) yang dirancang untuk
memisahkan dan membersihkan benih dari pulp yang mengandung inhibitor (Kamil,
J, 1982).
|
|
Kimiawi
|
Menggunakan zat kimia misalnya HCL 35%, dengan dosis
5 liter HCL 35% dicampur dengan 100 liter air. Kemudian larutan HCL digunakan
untuk merendam pulp. Setelah direndam dan diaduk selama 30 menit, massa pulp
akan mengambang dipermukaan sehingga mudah dipisahkan dari benih yang tenggelam didasar wadah.
Setelah dipisahkan benih
dicuci dengan air hingga bekas pencuciannya bersifat netral (dapat dicek
dengan menggunakan kertas lakmus) (Kuswanto,2003).
|
Menurut
Pitojo (2005) Pemisahan biji setelah fermentasi
dapat dilaukan dengan menggunakan sodium karbonat 10% selama dua hari, namun
cara tesebut jarang digunakan oleh perusahaan benih, pemisahan biji dalam jumlah banyak dapat dilakukan secara
cepat degan menggunakan HCL 1 N sebanyak 7-8 ml/l larutan, dibiarkan selama 1-2
jam. Namun jika tidak dilakukan secara tepat perlakuan dengan bahan kimia tersebut dapat menurunkan daya
kecambah.
Kemudian
menurut Murniati (1996) memanfaatkan kapur tohor sebagai bahan untuk ekstraksi basah menunjukkan bahwa pada konsentrasi kapur tohor 20 g/l dengan
lama perendaman 30 menit memberikan potensi tumbuh terbaik (96%) untuk benih manggis. Manggis dan ketimun
termasuk kedalam tipe buah berdagung dan berair sehingga diharapkan kapur tohor
juga dapat dipalikasikan dalam ekstraksi
benih ketimun. Adapun keuntungan
dari penggunaan kapur tohor adalah prosesnya berjalan cepat, harganya murah
2000/kg dapat mencegah terjadinya pembusukan yang dapat mempengaruhi kualitas benih terutama viabilitasnya dan tidak
menyebabkan perubahan warna.
2. METODE EKSTRAKSI KERING
Ekstraksi kering
yang dilakukan terhadap buah berbentuk polong dan jenis-jenis yang memiliki
daging buah yang kering yang
dapat dilakukan secara manual atau dengan mesin. Ekstraksi kering dapat
dilakukan pada buah-buah seperti cabai.
DAFTAR
PUSTAKA
Kamil,
J, 1982, Teknologi Benih I, Padang: Universitas Andalas
Kuswanto,
Hendarto. 1997. Analisis Benih. Yogyakart:Andi
Kuswanto, Hendarto. 2003, Teknologi
Pemprosesan, Pengemasan dan Penyimpanan Benih. Yogyakarta:
Kanisius
Murniati,E.1996.
Informasi Hasil Penelitian Pengaruh faktor internal dan eksternal terhadap
viabilitas benih kemiri (Aleurites moluccana Willd.). Keluarga
Benih 7(1):59-65
Nurhayati,
K. 1997. Pengaruh Ukuran dan Saat perkahan Buah Pada Proses Ekstraksi
terhadap Perkecambahan dan Pertumbuahan Semai Khaya anthoteca C.DC.
Skrpisi. Bogor. Jurusan Manajeman Hutan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian
Bogor.
Pitojo Setijo, 2005. Benih Kacang Tanah. Yogyakarta: Kanisius
Sadjad,
Syamsoe’oed. 1975. Dasar-dasar Teknologi Benih. Bogor: IPB
Sutopo,
Lita. 2002. Teknologi Benih.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar