I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pembuatan Bibit Secara Kultur
Jaringan
Atas dasar
teori dari Schleiden dan Schwann yang menyatakan bahwa
tiap-tiap sel mampu tumbuh menjadi tanaman baru, maka diperoleh kemampuan ini
yang disebut totipotensi dari
sel. Dengan teori tersebut banyak dikembangkan tanaman baru yang berasal dari
jaringan tumbuhan tertentu. Reproduksi tanaman dengan menggunakan jaringan
tertentu tersebut disebut dengan kultur jaringan (tissue culture).
Teknik ini dipopulerkan oleh Muer,
Haberlant, dan Riker pada
tahun 1954.
Kultur
jaringan telah banyak diterapkan dalam bidang pertanian dan perkebunan dalam
skala besar untuk mendapatkan bibit unggul dalam waktu yang singkat. Kultur
jaringan dilakukan di dalam laboratorium dengan cara menumbuhkan sel atau
jaringan tumbuhan/hewan di dalam medium buatan. Teknik ini mudah diterapkan
pada tumbuhan dibandingan dengan hewan. Hal tersebut dikarenakan sel tumbuhan
memiliki sifat totipotensi yang tinggi dibandingan dengan sel hewan. Dalam
kultur jaringan ini hanya diperlukan sedikit bagian dari tumbuhan atau hewan,
misalnya tunas, akar, atau daun. Bagian tersebut dibagi-bagi lagi dan setiap
bagian ditumbuhkan dalam medium tertentu dan kondisi steril di laboratorium.
Hasilnya nanti adalah organisme dalam jumlah besar dan mempunyai sifat yang
sama dengan induknya (Anonymousª, 2013).
Kultur
jaringan dapat memperbanyak tanaman dengan sifat seperti induknya, pembiakan
ini termasuk pembiakan secara vegetatif, yaitu individu baru terjadi dari
bagian tubuh suatu induk. Oleh karena itu, individu yang baru terbentuk
mempunyai sifat yang sama dengan induknya. Perbanyakan tanaman dengan teknik
ini membuat tanaman bebas dari penyakit karena dilakukan secara aseptik.
Penggunaan metode ini sangat ekonomis dan komersial karena bahan tanaman awal
yang diperlukan hanya sedikit atau satu bagian kecil yang menghasilkan turunan
dalam jumlah besar, sehingga penyediaan bibit dalam jumlah yang besar tidak
memerlukan banyak tanaman induk.
1.2
Tujuan
1. Untuk
mengetahui pembuatan media kultur jaringan
2. Untuk
mengenal dan mengoperasikan alat-alat yang digunakan dalam praktikum kultur
jaringan
3. Untuk
mengetahui ilmu tentang praktikum kultur jaringan
4. Untuk
mengetahui teknik sterilisasi eksplan, teknik penanaman eksplan, teknik
subkultur eksplan, dan teknik aklimatisasi.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pembuatan
Larutan Induk
Larutan induk adalah larutan yang akan dijadikan
bahan dasar media tanam in vitro dimana terdiri dari larutan induk senyawa
makro, larutan induk senyawa mikro, larutan induk senyawa besi dan unsur‑unsur
vitamin serta zat pengatur tumbuh. Tujuannya adalah mempelajari cara pembuatan
larutan induk, berdasarkan kelompok senyawa masing‑masing dan ketersediaan
larutan induk akan mempermudah dalam pembuatan media in vitro (Anonymousᵇ,
2013).
2.2
Pembuatan Media Kultur (Jenis media Murashige and
Skoog)
Media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan
kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis
tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam
mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan
seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang
ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, tergantung dengan
tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang digunakan juga harus
disterilkan dengan cara memanaskannya dengan autoklaf.
Media
Murashige dan Skoog (MS) sering digunakan karena cukup memenuhi unsur hara
makro, mikro dan vitamin untuk pertumbuhan tanaman. Nutrien
yang tersedia di media berguna untuk metabolisme,
dan vitamin
pada media dibutuhkan oleh organisme dalam jumlah sedikit untuk regulasi
(Marlina, 2004). Pada media MS, tidak terdapat zat pengatur tumbuh
(ZPT) oleh karena itu ZPT ditambahkan pada media (eksogen).
2.3
Isolasi Dan
Inokulasl Explant
2.3.1
Inisiasi
Tujuan
utama dari propagasi secara in-vitro tahap ini adalah pembuatan kultur dari
eksplan yang bebas mikroorganisme serta inisiasi pertumbuhan baru (Gunawan,
1987). Ditambahkan pula bahwa pada tahap ini mengusahakan kultur yang aseptik
atau aksenik. Aseptik berarti bebas dari mikroorganisme, sedangkan aksenik
berarti bebas dari mikroorganisme yang tidak diinginkan. Dalam tahap ini juga
diharapkan bahwa eksplan yang dikulturkan akan menginisiasi pertumbuhan baru,
sehingga akan memungkinkan dilakukannya pemilihan bagian tanaman yang tumbuhnya
paling kuat,untuk perbanyakan (multiplikasi) pada kultur tahap selanjutnya (Khan IA, 1988).
2.3.2
Sterilisasi
Sterilisasi adalah bahwa segala
kegiatan dalam kultur jaringan harus dilakukan di tempat yang steril, yaitu di
laminar flow dan menggunakan alat-alat yang juga steril (Gunawan, 1987).
Sterilisasi juga dilakukan terhadap peralatan, yaitu menggunakan etanol yang
disemprotkan secara merata pada peralatan yang digunakan. Teknisi yang
melakukan kultur jaringan juga harus steril.
2.3.3
Multiplikasi
Tahap
ini bertujuan untuk menggandakan propagul atau bahan tanaman yang diperbanyak
seperti tunas atau embrio, serta memeliharanya dalam keadaan tertentu sehingga
sewaktu-waktu bisa dilanjutkan untuk tahap berikutnya (Lyndon RF, 1990). Perbanyakan dapat dilakukan
dengan cara merangsang terjadinya pertumbuhan tunas cabang dan percabangan
aksiler atau merangsang terbentuknya tunas pucuk tanaman secara adventif, baik
secara langsung maupun melalui induksi kalus terlebih dahulu. Seperti halnya
dalam kultur fase inisiasi, di dalam media harus terkandung mineral, gula,
vitamin, dan hormon dengan perbandingan yang dibutuhkan secara tepat (Soomro, 2003). Hormon yang digunakan untuk
merangsang pembentukan tunas tersebut berasal dari golongan sitokinin seperti
BAP, 2-iP, kinetin, atau thidiadzuron (TDZ).
2.3.4
Pengakaran
Pengakaran adalah
fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai
bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik.
Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan
akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan
yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru
(disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri).
2.4
Aklimatisasi
Tahap
aklimatisasi planlet merupakan salah satu tahap kritis yang sering menjadi
kendala dalam produksi bibit secara masal. Pada tahap ini, planlet atau tunas
mikro dipindahkan ke lingkungan di luar botol seperti rumah kaca , rumah
plastik, atau screen house proses ini disebut aklimatisasi (Pierik, 1999). Aklimatisasi adalah proses
pengkondisian planlet atau tunas mikro (jika pengakaran dilakukan secara
ex-vitro) di lingkungan baru yang aseptik di luar botol, dengan media tanah,
atau pakis sehingga planlet dapat bertahan dan terus menjadi bibit yang siap
ditanam di lapangan. Prosedur pembiakan dengan kultur jaringan baru bisa
dikatakan berhasil jika planlet dapat diaklimatisasi ke kondisi eksternal
dengan keberhasilan yang tinggi.
III.
MATERI PEMBAHASAN
3.1 Pembuatan Media Perbanyakan
(Inokulasi/Penanaman)
3.1.1
Metode
(Tahap Pelaksanaan/Cara Kerja)

3.1.2
Hasil
Dan Pembahasan
Dalam praktikum yang
kami lakukan, untuk pembuatan media yang kami lakukan yaitu menyiapkan larutan induk yang telah dihitung
kebutuhannya (makro, mikro, vitamin, Fe EDTA dan ZPT). Mencampur bahan dasar
(larutan induk) diatas ke dalam beaker glass, ditambah sucrosa dan aquades
steril hingga volume media yang telah dihitung. Mengukur pH 5,8; apabila dalam
pengukuran pH kurang dari 5,8 maka ditambahkan (larutan basa) NaOH, sedangkan
bila larutan media memiliki pH lebih dari 5,8 maka tambahkan (larutan asam)
larutan HCI hingga media yang dibuat memiliki keasaman yang dikehendaki (5,8).
Menambahkan agar ke dalam media, diaduk hingga homogen dan dipanaskan sampai
agar terlarut. Siapkan botol/tabung kultur beserta tutupnya lalu tuangkan ke
dalam botol masing‑masing 15 ml media setiap botol dan tutup dengan segera.
Sterilkan dengan autoclave menggunakan tekanan 15 psi selama 25 menit dengan
suhu 121 C. Setelah keluar dari autoklave segera masukkan ke dalam ruang simpan
untuk menekan kontaminasi media.
Hal
ini hampir sama dengan literatur, dimana dalam literatur disebutkan komposisi
media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak.
Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon.
Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain.
Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya
maupun jumlahnya, tergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan
(Gunawan, 1987). Salah satu medium untuk kultur jaringan tanaman adalah media
Murashige dan Skoog (MS). Keistimewaan media MS adalah kandungan
nitrat,kalium,dan amoniumnya yang tinggi.
3.2 Penanaman/Isolasi Dan Inokulasi
Eksplan
3.2.1
Metode
(Tahap Pelaksanaan/Cara Kerja)

3.2.2
Hasil
Dan Pembahasan
Pada
saat praktikum kultur jaringan bagian penanaman dan inokulasi eksplan, eksplan
atau tanaman yang digunakan adalah mawar (mawar 1-7). Secara keseluruhan,
eksplan yang hidup persentasenya yaitu 9% dengan sisanya 91% eksplan mati.
Untuk eksplan mawar yang saya gunakan yaitu terlihat pada mawar 1. Pada mawar yang
saya amati tidak terlihat tunas yang tumbuh namun juga tidak terlihat ada jamur
maupun adanya kontaminasi. Hal ini mungkin saja karena eksplan mengalami
pertumbuhan yang terhambat atau tidak dapat tumbuh normal. Jika dibandingkan
dengan mawar 2 dan 7 dapat dikatakan mawar 7 memiliki pertumbuhan yang kurang
baik karena pada mawar 2 dan 7 terlihat adanya tunas yang muncul. Namun, jika
dibandingkan dengan mawar 3,4,5,6,8 mawar 7 dikatakan lebih baik karena pada
mawar 3,4,5,6,8 terlihat adanya kontaminasi serta adanya jamur yang tumbuh
didalam media tanam meskipun sama-sama tidak terlihat tunas yang tumbuh.
|
Mawar 1
|
Mawar 2
|
Mawar 3
|
Mawar 4
|
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
|
Mawar 5
|
Mawar 6
|
Mawar 7
|
Mawar 8
|
![]() |
![]() |
![]() |
![]() |
Untuk mawar 1 persentase eksplan hidup 0%, untuk
inisiasi tunas persentasenya 0%, inisiasi akar 0%, dan persentase kontaminasi
0% karena dalam eksplan tidak terlihat tanaman terkontaminasi, namun tanaman
tidak muncul tunas. Kemudian untuk mawar 2 persentase eksplan hidup 100%, untuk
inisiasi tunas persentasenya 90% karena terlihat tunas muncul 2, inisiasi akar
0%, dan persentase kontaminasi 0%. Untuk mawar 3 persentase eksplan hidup 0%,
untuk inisiasi tunas persentasenya 0%, inisiasi akar 0%, dan persentase
kontaminasi 98% karena hampir keseluruhan media terkena jamur. Untuk mawar 4
persentase eksplan hidup 0%, untuk inisiasi tunas persentasenya 0%, inisiasi
akar 0%, dan persentase kontaminasi 98% karena memang secara keseuruhan telah
terserang jamur. Untuk mawar 5 persentase eksplan hidup 0%, untuk inisiasi
tunas persentasenya 0%, inisiasi akar 0%, dan persentase kontaminasi 45% karena
terlihat ada dua bulatan besar jamur yang tumbuh. Untuk mawar 6 persentase
eksplan hidup 0%, untuk inisiasi tunas persentasenya 0%, inisiasi akar 0%, dan
persentase kontaminasi 80% karena terlihat terdapat jamur berwarna putih serta
bulatan hitan-hitam. Untuk mawar 7 persentase eksplan hidup 100%, untuk
inisiasi tunas persentasenya 90%, inisiasi akar 0%, dan persentase kontaminasi
0% karena terlihat terdapat tunas yang muncul sebanyak 3. Untuk mawar 8
persentase eksplan hidup 0%, untuk inisiasi tunas persentasenya 0%, inisiasi
akar 0%, dan persentase kontaminasi 99% karena hampir keseluruhan media
tertutup oleh jamur yang tumbuh.
Menurut literatur masalah yang sering
dihadapi pada kultur jaringan adalah terjadinya pencokelatan atau penghitaman
bagian eksplan (browning). Hal ini disebabkan oleh senyawa fenol yang timbul
akibat stress mekanik yang timbul akibat pelukaan pada waktu proses isolasi
eksplan dari tanaman induk. Senyawa fenol tersebut bersifat toksik, menghambat
pertumbuhan atau bahkan dapat mematikan jaringan eksplan (Hameed, 2006).
3.3
Pembuatan
Stok Media MS

Dalam
membuat stok media MS diperlukan larutan induk yang akan dijadikan bahan dasar
media tanam in vitro. Larutan induk terdiri dari larutan induk senyawa makro,
larutan induk senyawa mikro, larutan induk senyawa besi (Fe) dan unsur-unsur
vitamin serta zat pengatur tumbuh. Bahan dasar media tanam in vitro tersebut merupakan
bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kultur jaringan bagian pembuatan
larutan media. Untuk alat-alat yang digunakan yaitu timbangan analitik,
spatula, beaker glas, cup kertas, sendok plastik, corong kaca, labu ukur, botol
penyimpanan larutan, alumunium foil (sebagai penutup botol), akuades dan kertas
tissue.
3.4
Aklimatisasi

Dalam
proses perbanyakan tanaman secara kultur jaringan, tahap aklimatisasi planlet
merupakan salah satu tahap kritis yang sering menjadi kendala dalam produksi
bibit secara masal. Aklimatisasi adalah proses pengkondisian planlet atau tunas
mikro (jika pengakaran dilakukan secara ex-vitro) di lingkungan baru yang
aseptik di luar botol, dengan media tanah, atau pakis sehingga planlet dapat
bertahan dan terus menjadi bibit yang siap ditanam di lapangan. Pemindahan
dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup.
Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama
penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan
hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan
barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit
dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif. Dalam
melakukan kegiatan praktikum aklimatisasi ini, diperlukan alat dan bahan. Alat
tersebut yaitu bak plastik ukuran 30 x 20 x 15 cm (bawahnya dilubangi), cetok,
plastik penutup, sprayer, pinset, gunting, hand sprayer, dan tali rafia.
Sedangkan bahan tersebut yaitu plantet (tanaman kecil yang lengkap), media
aklimatisasi seperti bahan organik+pasir+tanah (2:2:1), fungsida dan air.
Prosedur
pembiakan dengan kultur jaringan baru bisa dikatakan berhasil jika planlet
dapat diaklimatisasi ke kondisi eksternal dengan keberhasilan yang tinggi.
IV.
KESIMPULAN
Sebelum melakukan
kultur jaringan untuk suatu tanaman, kegiatan yang pertama harus dilakukan
adalah memilih bahan induk yang akan diperbanyak. Tanaman tersebut harus jelas
jenis, spesies, dan varietasnya serta harus sehat dan bebas dari hama dan
penyakit. Tanaman indukan sumber eksplan tersebut harus dikondisikan dan
dipersiapkan secara khusus di rumah kaca atau greenhouse agar eksplan yang akan
dikulturkan sehat dan dapat tumbuh baik serta bebas dari sumber kontaminan pada
waktu dikulturkan secara in-vitro. Lingkungan tanaman induk yang lebih higienis
dan bersih dapat meningkatkan kualitas eksplan.
Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman,
khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit
yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara
lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam
jumlah yang besar sehingga tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas,
mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat,
kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat
dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.
Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman dengan
teknik kultur jaringan adalah pembuatan media, Inisiasi, Sterilisasi, Multiplikasi, Pengakaran, dan Aklimatisasi.
Pada
praktikum kultur jaringan ini saya mendapat bagian untuk tanaman mawar, dari
hasil praktikum yang telah dilakukan total keseluruhan tanaman yang hidup yaitu
9% dan sisanya 91% mati. Untuk eksplan mawar yang saya gunakan
yaitu terlihat pada mawar 1. Pada mawar yang saya amati tidak terlihat tunas
yang tumbuh namun juga tidak terlihat ada jamur maupun adanya kontaminasi. Hal
ini mungkin saja karena eksplan mengalami pertumbuhan yang terhambat atau tidak
dapat tumbuh normal.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymousª,
2013. Bioteknologi dengan kultur jaringan dalam http:// www.plengdut.com /2012/10/
bioteknologi-dengan-menggunakan_857.html/
diakses tanggal 31 mei 2013
Anonymousᵇ,
2013.Kultur Jaringan dalam http://blogs.unpad.ac.id/yunmyu/?tag=kultur-jaringan-alternatif-bibit-unggul/
diakses tanggal 31 mei 2013
Gunawan LW. 1987. Teknik Kultur Jaringan. Bogor:
Pusat Antar Universitas Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor. Hal. 252.
Hameed N, Shabbir A, Ali A, Bajwa R. 2006. In vitro
micropropagation of disease free rose (Rosa indica L.). Mycopath 4:35-38
Khan IA, Shaw JJ. 1988. Biotechnology in
Agriculture. Punjab. Agric. Res. Coordination Board Faisalabad, Pakistan. pp.
2.
Lyndon RF. 1990. Plant Development; The Cellular
Basis. London: Unwin Hyman Ltd. Hal. 37-41.
Marlina N. 2004. Teknik modifikasi media Murashige
dan Skoog (MS) untuk konservasi in vitro. Buletin Teknik Pertanian
9(1):4-6.
Pierik RLM. 1999. In vitro culture of higher
plants. 4th Edition. USA: Kluwer Academic Publishers. Hal. 16-27
Soomro R, Yasmin S, Aleem R. 2003. In vitro
propagation of Rosa indica. Pakistan Journal of Biological Sciences
6(9):826-830.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar