1.
PENGERTIAN
INCREMENTAL CAPITAL OUTPUT RATIO (ICOR) !
Incremental Capital Output Ratio (ICOR) memiliki peranan yang
penting dalam teori ekonomi. Lebih jauh,
ICOR telah mendapatkan status baru di tabel pertumbuhan ekonomi dan
investasi di suatu negara. Incremental Capital
Ouput Ratio (ICOR) atau rasio kenaikan
ouput akibat kenaikan kapital adalah indikator ekonomi makro yang sering
digunakan untuk menilai kinerja investasi di suatu negara. Kegunaan lainnya
adalah untuk menghitung besarnya investasi yang dibutuhkan agar perekonomian
tumbuh dengan laju yang sudah ditetapkan.
Dapat diartikan juga bahwa Incremental Capital Output Ratio (ICOR)
adalah suatu besaran yang menunjukkan besarnya tambahan kapital (investasi)
baru yang dibutuhkan untuk menaikkan/menambah satu unit output. Besaran ICOR
diperoleh dengan membandingkan besarnya tambahan kapital dengan tambahan
output. Karena unit kapital bentuknya berbeda-beda dan beraneka ragam sementara
unit output relatif tidak berbeda, maka untuk memudahkan penghitungan keduanya
dinilai dalam bentuk uang (nominal).
Pengkajian
mengenai ICOR menjadi sangat menarik karena ICOR dapat
merefleksikan besarnya produktifitas kapital yang pada akhirnya menyangkut
besarnya pertumbuhan ekonomi yang bisa
dicapai. Secara teoritis hubungan ICOR dengan pertumbuhan ekonomi dikembangkan
pertama kali oleh R. F. Harrod dan Evsey Domar (1939 dan 1947). Namun karena
kedua teori tersebut banyak kesamaannya, maka kemudian teori tersebut lebih
dikenal sebagai teori Harrod-Domar. Pada dasarnya
teori tentang ICOR dilandasi oleh dua macam konsep Rasio Modal-Output yaitu:
·
Rasio Modal-Output atau Capital
Output Ratio (COR) atau yang sering
disebut sebagai Average Capital Output
Ratio (ACOR), yaitu perbandingan antara capital yang digunakan dengan
output yang dihasilkan pada suatu periode tertentu. COR atau ACOR ini bersifat
statis karena hanya menunjukkan besaran yang menggambarkan perbandingan
modal dan output.
·
Ratio Modal-Output Marginal atau Incremental Capital Output Ratio (ICOR) yaitu suatu besaran yang
menunjukkan besarnya tambahan kapital (investasi) baru yang dibutuhkan untuk
menaikkan /menambah satu unit output baik secara fisik maupun secara nilai
(uang). Konsep ICOR ini Iebih bersifat dinamis karena
menunjukkan perubahan kenaikan/ penambahan output sebagai akibat langsung
dari penambahan kapital.
Dari pengertian diatas, maka ICOR
bisa diformulasikan sebagai berikut:
ICOR =
…………………………. (1)
Dimana
= perubahan kapital
Dari
rumus (1) didapatkan pengertian bahwa ICOR merupakan statistik yang menunjukkan
kebutuhan perubahan stok kapital untuk
menaikkan satu unit output. Dalam perkembangannya, data yang digunakan
untuk menghitung ICOR bukan lagi hanya penambahan barang modal baru atau
perubahan stok kapital melainkan Investasi (I) yang ditanam baik oleh swasta
maupun pemerintah sehingga rumusan ICOR dimodifikasi menjadi:
ICOR =
……………………………. (2)
Dimana I = Investasi
Rumus
(2) dapat diartikan sebagai banyaknya kebutuhan investasi yang diperlukan
untuk mendapatkan 1 unit output. Sebagai contoh, misalnya besarnya
investasi pada suatu tahun dinegara A adalah sebesar Rp 200 miliar, sedangkan
tambahan output yang diperoleh dari hasil penanaman investasi itu adalah
sebesar Rp 40 miliar, maka nilai ICOR negara A adalah sebesar 5 (200 miliar / 40 miliar). Angka ini menunjukkan bahwa untuk
menaikkan 1 unit output diperlukan investasi sebesar 5 unit.
Pada
kenyataannya pertambahan output bukan hanya disebabkan oleh investasi, tetapi
juga oleh faktor-faktor lain di luar investasi seperti pemakaian tenaga kerja,
penerapan teknologi dan kemampuan kewiraswastaan. Dengan demikian untuk melihat
peranan investasi terhadap output berdasarkan konsep ICOR, maka peranan
faktor-faktor selain investasi diasumsikan konstan (ceteris paribus).
Sebagai ilustrasi, arti dari angka ICOR
sebesar 3.0 adalah agar output perekonomian naik satu rupiah dibutuhkan
tambahan kapital senilai 3.0 rupiah. Perhitungan angka ICOR biasanya bukan dari
perubahan kapital dan output tahun per tahun, melainkan dihitung dalam selang
waktu yang relatif panjang, misalnya 5 tahun. Sebab penambahan kapital pada
tahun ini tidak otomatis diikuti oleh penambahan output pada tahun ini juga,
melainkan baru akan muncul pada satu atau dua tahun yang akan datang. Selain
itu masa yang dibutuhkan dari waktu penambahan kapital sampai dengan
menghasilkan output akan berbeda-beda dari sektor yang satu dengan sektor lainnya.
Sebagai contoh penambahan kapital (investasi) pada sektor bangunan akan
mendatangkan output paling cepat pada 2–3 tahun yang akan datang. Di sisi lain
penambahan kapital (investasi) untuk kegiatan perdagangan, dipastikan akan
mendatangkan output dalam jangka waktu kurang dari satu tahun setelah
investasi.
Angka ICOR bervariasi dari suatu negara
ke negara lainnya, hal ini bergantung pada tingkat efisiensi ekonomi suatu
negara. Semakin tinggi angka ICOR, semakin tidak efisien kegiatan produksi di
negara tersebut, demikian sebaliknya. Indonesia pada beberapa waktu yang lalu
pernah memiliki angka ICOR 4.5. Pada periode yang sama negara-negara maju di
dunia umumnya memiliki angka ICOR tidak lebih dari 3.0. Hal ini menunjukkan
bahwa efisiensi ekonomi dari kegiatan produksi di Indonesia jauh di bawah
negara-negara maju.
Dalam prakteknya penerapan formula ICOR
seperti dicantumkan di atas mengalami kesulitan, terutama dalam menaksir
tingkat output. Untuk itu kemudian nilai output diganti oleh nilai Produk Domestik
Bruto, sehingga konsep praktis perhitungan ICOR diformulasikan menjadi,

ICOR = 
Dimana I =
nilai investasi (=
)
Kemudian
mengingat ICOR harus dihitung dalam selang waktu yang relative lama, maka
berikut adalah formulasi ICOR yang dihitung dari tahun m hingga n

Dimana m =
tahun mulai perhitungan ICOR
n = tahun akhir perhitungan ICOR
PDRB = Angka PDRB pada awal perhitungan ICOR
PDRBn=
Angka PDRB pada tahun terakhir perhitungan ICOR
Berdasarkan
formula di atas maka makna ICOR sedikit berubah menjadi berapa rupiah investasi
yang dibutuhkan pada tahun t untuk menambah satu rupiah PDRB pada tahun t+1.
Setelah diperoleh angka ICOR berdasarkan rumus di atas, kemudian dihitung
kebutuhan investasi menggunakan rumus teknis sebagai berikut

I t = ICOR(PDRBt+1
- PDRBt )
Makna
yang terkandung dalam formula tersebut adalah agar PDRB pada tahun t+1
bertambah menjadi sebesar PDRBt+1 dari nilai tahun t sebesar PDRBt maka pada
tahun t harus dilakukan investasi sebesar It. Formula lebih sederhana yang
diturunkan dari persamaan di atas adalah

It =
ICOR* (LPE(t+1) /100)*PDRBt
dimana
It =
nilai investasi yang dibutuhkan tahun t
PDRBt = nilai PDRB tahun t
ICOR = angka ICOR
LPE(t+1) =
angka Laju Pertumbuhan Ekonomi (%) yang ditargetkan pada tahun t+1
2.
RUMUS
ICOR DAN PENERAPANNYA !
Secara
teoritis, terdapat beberapa rumus yang dapat digunakan dalam menghitung ICOR. Masing-masing
rumus digunakan untuk tujuan dan asumsi masing-masing pula. Dalam modul ini
hanya dikemukakan satu rumus saja, yakni:

ICOR 
Di
mana:
ICOR = angka
yang menunjukkan besarnya tambahan investasi yang diperlukan untuk meningkatkan satu unit output pada tahun t
I = Besarnya tambahan investasi
pada tahun t
Dengan rumus tersebut diasumsikan bahwa
investasi yang dilakuakan dalam tahun ini langsung dapat menghasilkan PDB/PDRB pada tahun yang
bersangkutan.
Contoh
Penghitungan:
Misalkan di Provinsi Kalimatan Tengah, PDRB
menurut jenis pengeluaran atas dasar harga konstan 2000 tahun 2005-2006 adalah
sebagai berikut:
PDRB Menurut Jenis Pengeluaran
Atas Dasar Harga Konstan 2000 Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2005-2006 (Rp
Milyar)
|
Jenis Pengeluaran
|
2005
|
2006
|
|
Konsumsi Rumah Tangga
|
7.097
|
7.430
|
|
Konsumsi Pemerintah
|
2.292
|
2.463
|
|
Pembentukan Modal
Tetap Bruto (investasi)
|
4.850
|
5.487
|
|
Stok Barang Dagangan
|
1.099
|
975
|
|
Ekspor Barang &
Jasa
|
4.561
|
5.069
|
|
(Impor)
|
(5.867)
|
(6.574)
|
|
PDRB
|
14.032
|
14.850
|
Sumber
Data: Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Tengah (istilah jenis
pengeluaran disesuaikan)
Berdasarkan data PDRB tersebut dapat diketahui
bahwa investasi tahun 2005 sebesar Rp 4.850.000.000.000,00 dan tahun 2006 Rp
5.487.000.000.000,00. PDRB tahun 2005 sebesar Rp 14.032.000.000.000,00 dan
tahun 2006 sebesar Rp 14.850.000.000.000,00. Dari data tersebut dapat dicari
perubahan masing-masing jenis pengeluaran dan prosentase perubahannya sebagai
berikut.
Perubahan PDRB Menurut
Jenis Pengeluaran Atas Dasar Harga Konstan 2000 Provinsi Kalimantan Tengah
Tahun 2005-2006 (Rp Milyar)
|
Jenis Pengeluaran
|
2005 (Rp)
|
2006 (Rp)
|
Perubahan 2006-2005 (Rp)
|
Persentase Perubahan
|
|
Konsumsi Rumah Tangga
|
7.097
|
7.430
|
333
|
4,69
|
|
Konsumsi Pemerintah
|
2.292
|
2.463
|
171
|
7,46
|
|
Pembentukan Modal
Tetap Bruto (investasi)
|
4.850
|
5.487
|
637
|
13,13
|
|
Stok Barang Dagangan
|
1.099
|
975
|
-124
|
-11,28
|
|
Ekspor Barang &
Jasa
|
4.561
|
5.069
|
508
|
11,14
|
|
(Impor)
|
(5.867)
|
(6.574)
|
-707
|
12,05
|
|
PDRB
|
14.032
|
14.850
|
818
|
5,83
|
Dari tabel di atas diketahui bahwa pada
tahun 2006 terdapat penambahan investasi sebesar Rp637.000.000.000,00 dibanding
tahun 2005 dan PDRB tahun 2006 naik sebesar Rp818.000.000.000,00 dibanding
tahun 2005. Atas dasar data ini dapat dihitung ICOR tahun 2006 sebagai berikut:

ICOR =
= 0,778729
Angka ICOR sebesar 0,778729 menunjukkan
bahwa jika ingin meningkatkan PDRB sebesar Rp1.000.000.000,00 diperlukan tambahan
investasi sebesar: 0,778729 x Rp1.000.000.000,00 = Rp778.728.606,00.
3.
MANFAAT
ICOR DALAM PERENCANAAN EKONOMI MAKRO !
Perencanaan pembangunan pada dasarnya
akan ditentukan oleh kemampuan penyediaan sumber dana, untuk diinvestasikan
guna mencapai laju pertumbuhan dan tingkat kesejahteraan yang hendak dicapai.
Untuk keperluan analisis ini, konsep ICOR dapat dimanfaatkan. ICOR bermanfaat
untuk memperkirakan kebutuhan dana, balik untuk perencanaan PDB atau PDRB
secara menyeluruh maupun sektoral.
Misalkan, untuk kasus PDRB Provinsi
Kalimantan Tengah tersebut, jika kondisi pertumbuhan ekonomi di Kalimantan
Tengah tahun 2006 diperkirakan terjadi juga pada tahun 2007 dan 2008, maka
proyeksi PDRB (tanpa perencanaan ICOR) tahun 2007 dan 2008 tampak sebagai
berikut.
Proyeksi PDRB (Tanpa
Perencanaan ICOR) Provinsi Kalimantan Tengah Tahun 2007 dan 2008 (Rp Milyar)
|
Jenis Pengeluaran
|
2005 (Rp)
|
2006 (Rp)
|
Proyeksi
|
|
|
2007 (Rp)
|
2008 (Rp)
|
|||
|
Konsumsi Rumah Tangga
|
7.097
|
7.430
|
7.778*)
|
8.143**)
|
|
Konsumsi Pemerintah
|
2.292
|
2.463
|
2.647
|
2.844
|
|
Pembentukan Modal
Tetap Bruto (investasi)
|
4.850
|
5.487
|
6.207
|
7.022
|
|
Stok Barang Dagangan
|
1.099
|
975
|
865
|
767
|
|
Ekspor Barang &
Jasa
|
4.561
|
5.069
|
5.634
|
6.261
|
|
(Impor)
|
(5.867)
|
(6.574)
|
-7.366
|
-8.254
|
|
PDRB
|
14.032
|
14.850
|
15.765
|
16.684
|
Sumber
Data: simulasi oleh penulis
Penjelasan
perhitungan proyeksi tahun 2007 dan 2008 untuk jenis pengeluaran konsumsi Rumah
Tangga adalah sebagai berikut:
*) 7.430 x
= 7.778
**) 7.778 x
= 8.143
Anggaplah kita sedang berada pada
pertengahan tahun 2007, di mana ada PDRB tahun 2006 telah diketahui dan PDRB
tahun 2007 diproyeksikan. Misalkan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah tidak
puas dengan pertumbuhan PDRB tahun 2008 yang hanya 5,83 % dan meningkatkannya
menjadi sebesar 10% disbanding proyeksi PDRB tahun 2007. Dengan asumsi
pertumbuhan jenis pengeluaran sama dengan yang terjadi pada tahun 2006, maka
penambahan PDRB tahun 2008 dapat dihitung sebagai berikut:
·
PDRB tanpa tambahan
investasi (perhitungan ICOR): Rp
16.684
·
PDRB yang diinginkan:
110% x 16.684: Rp
18.352
·
Tambahan PDRB yang
diinginkan: Rp 1.668
Dengan tambahan PDRB yang diinginkan
sebesar Rp1.668.000.000.000,00 dan ICOR sebesar 0,778729, maka kebutuhan
tambahan investasi adalah: 0,778729 x Rp1.668.000.000.000,00 =
Rp1.298.000.000.000,00. Dengan demikian jumlah invesatasi yang harus ditanamkan
di tahun 2008 seluruhnya adalah: Rp7.022.000.000.000,00 + Rp1.298.000.000.000,00
= Rp8.320.000.000.000,00. Dengan efek pengganda (multiplier) dalam kegiatan ekonomi, diharapkan dlam tahun 2008 itu
juga dihasilkan tambahan PDRB sebesar Rp1.668.000.000.000,00 sehingga PDRB
secara keseluruhan tahun 2008 menjadi sebesar Rp18.352.000.000.000,00.
Berikut ini disajikan hasil perhitungan
ICOR oleh BPS untuk beberapa bidang sebagai berikut:
ICOR Menurut Lapangan
Usaha di DKI Jakarta Tahun 1996-1999
|
No
|
Lapangan
Usaha
|
ICOR
|
|
1
|
Pertanian
|
6,57
|
|
2
|
Industri Pengolahan
|
0,48
|
|
3
|
Listrik, gas, air
bersih
|
10,07
|
|
4
|
Bangunan
|
0,73
|
|
5
|
Perdagangan, hotel,
restoran
|
4,29
|
|
6
|
Pengangkutan dan
komunikasi
|
1,60
|
|
7
|
Keuangan, Persewaan,
& Jasa Perusahaan
|
0,04
|
|
8
|
Jasa-jasa
|
2,92
|
|
9
|
Jasa Pemerintah
|
7,01
|
|
10
|
Jasa Pemerintahan
Lainnya
|
1,23
|
|
|
Total
|
1,86
|
Sumber Daya BPS, Incremental Capital Output Ratio DKI Jakarta 1996-1999
Daftar ICOR untuk industri
pengolahan nasional menurut jenis industri tahun 1980-1990 adalah sebagai
berikut.
ICOR
Sektor Industri Pengolahan Nasional Menurut Jenis Industri Tahun 1980-1990
|
No
|
Jenis
Industri
|
ICOR
|
|
1
|
Industri
Makanan
|
1,86
|
|
2
|
Industri
Tekstil
|
4,58
|
|
3
|
Industri
Kayu
|
5,22
|
|
4
|
Industri
Kertas
|
5,68
|
|
5
|
Industri
Kimia
|
4,62
|
|
6
|
Industri
Galian Non Logam
|
6,87
|
|
7
|
Industri
Logam Dasar
|
3,83
|
|
8
|
Industri
Barang Dari Logam
|
3,17
|
|
9
|
Industri
Pengolahan Lain
|
2,85
|
|
|
Total
|
4,18
|
Sumber: BPS, Incremental Capital Output Ratio Sektor Industri, 1980-1990
4.
MEMAHAMI
ICOR
Berdasarkan pengertian ICOR dapat
diketahui bahwa semakin kecil angka ICOR berarti investasi yang dilakukan
semakin efisien. Misalnya untuk investasi pada tahun dan kondisi yang sama, di
Kabupaten Baros ICOR = 5, sedangkan di Kabupaten Bagindo ICOR = 7. Hal ini
menunjukkan bahwa di Kabupaten Baros, untuk mendapatkan tambahan PDB Rp1,00
diperlukan tambahan investasi sebesar Rp5,00. Sedangkan di Kabupaten Bagindo
diperlukan tambahan investasi sebesar Rp7,00. Dengan kata lain dapat dikatakan
bahwa untuk melakukan investasi, kondisi perekonomian di Kabupaten Baros lebih
kondusif dan lebih efisien dibandingkan dengan di Kabupaten Bagindo.
Hal-hal yang mempengaruhi
besar-kecilnya ICOR sebagai berikut:
a.
Bentuk Investasi
Untuk investasi yang
bersifat padat karya yang kurang memerlukan banyak modal, ICOR-nya relative
lebih rendah. Di lain pihak, investasi yang bersifat padat modal yang banyak
memerlukan modal, ICOR-nya lebih besar.
b.
Umur Ekonomi Investasi
Untuk invesatsi yang
masa manfaatnya panjang biasanya memerlukan jumlah modal yang diinvesatsikan
juga besar. Dengan demikian karena masa pengembalian modalnya memerlukan waktu
yang panjang, maka ICOR akan semakin besar. Sebaliknya untuk investasi yang
masa manfaatnya pendek ICOR-nya akan kecil pula.
c.
Pemanfaatan Kapasitas
Produksi
Untuk investasi yang
pemanfaatan kapasitas produksinya rendah, berarti terdapat kapasitas yang
menganggur, maka dengan jumlah investasi yang besar hanya diperoleh output yang
kecil. Hal ini berdampak pada ICOR yang besar. Sedangkan untuk investasi yang
beroperasi secara penuh yang berarti tidak ada barang modal yang menganggur.
ICOR-nya lebih rendah.
d.
Ekonomi Biaya Tinggi
Bentuk ekonomi biaya
tinggi ini antara lain adalah: budaya kerja yang boros. Prosedur kerja yang
berbelit-belit, pungutan liar yang membebani perusahaan, kerusakan sarana
transportasi, dan sebagainya. oleh karena itu, untuk mendorong efisiensi
investasi, diperlukan tekad yang kuat bagi pemerintah untuk menghilangkan atau
meminimalkan ekonomi biaya tinggi tersebut. Pungutan liarr akan menjadikan
investasi semakin mahal sehingga untuk menghasilakn tambahan output (PDB)
Rp1,00 investor harus mengeluarkan uang lebih banyak. Untuk dapat menarik minat
investor ke suatu daerah, maka pemerintah daerah ahrus bersaing dengan daerah
lain dengan memberikan pelayanan yang lebih baik. Pelayanan tersebut antara lan
dengan mudah mempermudah proses perizinan, menghilangkan pungutan-pungutan,
menjaga stabilitas keamanan, adanya kepastian hokum, dan lain sebagainya.
DAFTAR
PUSTAKA
BPS Provinsi DKI Jakarta, Incremental Capital Output Ratio DKI Jakarta
1996-1999, Katalog BPS: 1119.31.
Sofa, Ekonomi Pembangunan dan Pembangunan Ekonomi, http://massofa.wordpress.com
/2012/03/27/ekonomi-pembangunan-dan-pembangunan-ekonomi/
Sukirno, Sadono, Pengantar Teori Makroekonomi (Jakarta:
Lembaga Penerbit FEUI, 1981)